
Photo
JawaPos.com – Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI) setuju jika kompetisi dilanjutkan. Tapi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya, APSSI memberikan usul terkait pemotongan gaji yang bakal dilakukan klub.
APSSI menginginkan pemotongan gaji tidak merata seperti yang terjadi saat ini. Ada beberapa skema yang diajukan APSSI. Berdasar nominal nilai kontrak pelatih dengan klub.
Yang pertama, untuk pelatih yang nilai kontraknya Rp 600 juta ke atas, APSSI menyarankan gaji pelatih tersebut dipotong 50 persen dari nilai kontrak. Kemudian, pelatih dengan kontrak Rp 300 juta–Rp 600 juta disarankan dipotong hanya 25 persen. Yang terakhir, untuk pelatih dengan nilai kontrak di bawah Rp 300 juta, APSSI berharap tidak ada pemotongan jika kompetisi kembali dijalankan.
Hal itu dikatakan Ketua APSSI Yeyen Tumena kepada Jawa Pos kemarin (5/6). Dia menyebut, usulan tersebut sudah diberikan kepada PSSI secara resmi. Melalui surat yang dikirimkan langsung oleh APSSI kepada PSSI.
Nah, APSSI saat ini sedang menunggu surat keputusan dari PSSI. ’’Nanti, kalau sudah disepakati, PSSI yang akan mengawalnya,’’ tuturnya.
Mengawal dalam arti PSSI yang berhak memperingatkan klub soal kesepakatan pemotongan gaji dengan APSSI. PSSI akan mengawasi sepanjang kompetisi dilanjutkan. ’’Kalau sudah diputuskan dan diumumkan, nanti pelatih yang tidak menerima gaji sesuai kesepakatan bisa melapor. PSSI sendiri yang akan memotong langsung dari dana subsidi LIB untuk membayar pelatih tersebut,’’ jelas Yeyen.
Walau belum diputuskan PSSI, mantan asisten pelatih timnas Indonesia itu mengaku yakin usul APSSI segera diputuskan. Menurut dia, usulan soal pemotongan gaji berdasar tipe nilai kontrak sudah sangat manusiawi. Tidak memberatkan. ’’Tidak pukul rata kan. Kalau gajinya kecil, ya minta tolong jangan dipotong lagi,’’ harapnya.
Selain soal pemotongan gaji, lanjut Yeyen, ketika melakukan virtual meeting dengan PSSI, pihaknya mengusulkan bukan hanya Liga 1 dan Liga 2 yang diputar. APSSI juga meminta kompetisi usia muda seperti Elite Pro Academy hingga amatir juga dimainkan. ’’Kalau kompetisi Liga 1 dan Liga 2 bisa dimulai, EPA dan kompetisi SSB juga bisa dimulai lagi,’’ jelasnya.
Menurut dia, tidak adil jika sepak bola kembali berputar hanya pada level tinggi dan profesional. Sepak bola di Indonesia itu menyentuh hingga akar rumput. Artinya, harus ada keadilan dengan memutar semua jenjang kompetisi yang ada.
Bagi Yeyen, pandemi korona tidak hanya menyerang klub Liga 1 dan Liga 2. Pelatih-pelatih di SSB juga terkena dampaknya karena tidak punya pekerjaan untuk melatih selama korona melanda. SSB juga banyak mengalami kesulitan finansial.
’’APSSI ini berbakti dengan berbagai cara. Salah satunya sempat melakukan lelang barang-barang. Hasilnya kami berikan kepada tenaga medis dan rumah sakit yang memerlukan APD. Selain itu, sudah memberikan donasi kepada 67 pelatih di seluruh Indonesia,’’ ungkapnya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
