
Senja menggantung di danau Como dan stadion Giuseppe Sinigaglia. Como 1907 bangkit dari kebangkrutan hingga Liga Champions. Di balik ambisi besar klub, ada kesetiaan suporter, ikatan komunitas, dan cinta yang tak mengenal kasta. (Dok. Como)
JawaPos.com – Dua kali mengalami kebangkrutan dan bertahun-tahun terbenam di kasta bawah, Como 1907 kini mencuri perhatian di panggung sepak bola Eropa. Namun, di balik perjalanan klub kecil asal Italia itu, ada kisah kesetiaan yang tidak tumbuh dari tumpukan trofi, melainkan dari keteguhan para suporter yang tetap bertahan ketika masa depan klub nyaris tanpa kepastian.
Como 1907 bukan klub dengan sejarah panjang yang dipenuhi gelar bergengsi. Mereka juga tidak memiliki stadion megah berkapasitas puluhan ribu penonton seperti Santiago Bernabeu, apalagi popularitas sebesar AC Milan dan Juventus.
Como justru menawarkan sesuatu yang berbeda: ketenangan kota kecil dengan panorama Danau Como yang memesona. Dengan populasi sekitar 84 ribu jiwa, kota ini memiliki karakter lokal yang kuat, termasuk hubungan erat antara klub sepak bola dan masyarakat yang tumbuh bersamanya.
Kesetiaan itu mengingatkan pada seseorang yang memilih bertahan ketika orang yang dicintainya berada di titik terendah. Saat pasangannya terlilit utang, bergulat dengan kesulitan hidup, dan diragukan banyak orang, dia tetap berada di sisinya.
Bukan karena yakin kekayaan akan datang atau masa depan pasti berubah menjadi lebih baik, melainkan karena hubungan mereka telah terbangun jauh sebelum persoalan materi muncul. Dalam sepak bola, kisah serupa hidup melalui para suporter yang terus datang ke stadion, bahkan ketika klub kesayangannya tidak memiliki prestasi untuk dibanggakan.
Kisah kesetiaan itu tergambar dalam perjalanan Pietro Sancassani, suporter Como 1907 asal Bellagio, desa kecil di kawasan Danau Como. Ia jatuh cinta kepada klub tersebut ketika menyaksikan pertandingan melawan Juventus pada musim 1980/1981. Kala itu, Si Nyonya Tua menang dengan skor 2-1.
Kekalahan tersebut mungkin saja membuat Sancassani berpaling kepada klub yang lebih besar, seperti AC Milan atau Juventus. Namun, kecintaannya kepada klub kota kelahirannya tidak ditentukan oleh hasil pertandingan maupun jumlah gelar yang berhasil diraih.
“Tetapi hasil pertandingannya tidak sepenting emosi yang saya rasakan. Begitu besarnya emosi itu sehingga saya meyakinkan diri untuk naik feri dari Bellagio ke Como untuk setiap pertandingan sampai saya mendapatkan SIM,” kata Sancassani, dikutip dari laman resmi Como 1907.
Selama 43 tahun, Sancassani terus menemani jatuh bangun tim berjuluk I Lariani tersebut. Pada 2014, ia menghidupkan kembali kelompok suporter Fedelissimi Bellagio sebagai wadah bagi para pendukung Como 1907 yang berasal dari desa tempat tinggalnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022