
Legenda Chelsea Dennis Wise. (Dok. Chelsea)
JawaPos.com - Mantan kapten Chelsea, Dennis Wise, mengenang perjalanan kariernya yang penuh warna. Mulai dari era keras bersama Wimbledon hingga membangun klub Italia, Como, dari titik nol.
Dalam refleksinya, Wise menegaskan bahwa sepak bola bukan hanya soal taktik, melainkan karakter dan keberanian mengambil keputusan.
Karier Wise menanjak saat membela Wimbledon FC di bawah asuhan Dave Bassett. Di sana, ia menjadi bagian dari “Crazy Gang”, tim yang dikenal dengan permainan fisik dan semangat pantang menyerah.
Puncaknya terjadi pada final Piala FA 1988 ketika Wimbledon secara mengejutkan mengalahkan Liverpool. Wise menyebut keberhasilan itu lahir dari organisasi tim dan mentalitas kuat, bukan sekadar kualitas individu.
Setelah itu, ia menikmati masa keemasan di Chelsea dan meraih trofi Eropa bersama Gianluca Vialli. Pengalaman bekerja dengan berbagai pelatih membentuk cara pandangnya ketika terjun ke dunia kepelatihan.
Pada 2003, Wise mengambil tantangan sebagai player-manager Millwall. Ia membawa klub tersebut ke final Piala FA 2004 dan mencicipi kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.
Meski langkah di Eropa tak panjang, momen itu tetap dikenang sebagai pencapaian besar bagi klub London tersebut.
Karier manajerialnya berlanjut ke Swindon Town, lalu ke Leeds United yang saat itu tengah dilanda krisis finansial.
Wise harus bekerja dengan keterbatasan anggaran dan pengurangan poin. Ia sempat membawa Leeds bangkit sebelum menerima tawaran peran eksekutif di Newcastle United, keputusan yang belakangan diakuinya sebagai salah satu penyesalan dalam kariernya.
Babak berbeda hadir ketika Wise terlibat dalam proyek pengembangan pemain muda di Indonesia bersama Djarum Group.
Pengalaman itu membuka jalan menuju Italia, saat ia membantu membangun ulang Como. Klub yang sempat terpuruk itu perlahan bangkit, memperbaiki infrastruktur, membangun akademi, hingga akhirnya promosi ke Serie A pada 2024.
Wise menegaskan, di mana pun ia bekerja, prinsipnya tetap sama membangun struktur yang sehat, memahami karakter pemain, dan menjaga keseimbangan finansial.
Bagi pria berusia 59 tahun itu, sepak bola adalah tentang kerja kolektif dan kemauan untuk terus belajar, bukan sekadar mengejar hasil instan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
