
Senegal juara Piala Afrika. (ig @afcon2025official)
JawaPos.com-Senegal boleh saja merayakan gelar juara Piala Afrika dengan penuh euforia usai mengalahkan tuan rumah Maroko. Tapi bayang-bayang masalah besar masih menggantung di atas kepala mereka.
Kemenangan dramatis Senegal atas tuan rumah Maroko di partai final piala Afrika menyisakan polemik serius yang berpotensi berujung ekstrem. Timnas Senegal terancam diskualifikasi.
Gol indah Pape Gueye di babak perpanjangan waktu memang memastikan Senegal mengangkat trofi untuk kedua kalinya dalam empat tahun terakhir. Namun, laga final piala Afrika lawan Maroko jauh dari kata mulus.
Segalanya berubah panas di detik-detik akhir waktu normal, saat Maroko mendapat hadiah penalti kontroversial. Keputusan wasit itu memicu reaksi keras dari kubu Senegal.
Emosi memuncak, hingga pelatih Pape Thiaw secara mengejutkan memerintahkan para pemainnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Situasi jadi kacau. Pertandingan terhenti hampir 20 menit, sebuah pemandangan yang jarang dan jujur saja cukup memalukan di level final turnamen besar.
Di tengah kekacauan itu, Sadio Mane akhirnya turun tangan. Dia bujuk rekan-rekannya untuk kembali ke lapangan agar pertandingan bisa dilanjutkan.
Setelah laga berjalan lagi, Brahim Diaz maju sebagai algojo penalti Maroko. Momen krusial itu justru berakhir antiklimaks.
Tendangan lob yang dia lepaskan terlalu lemah dan mudah diamankan Edouard Mendy. Gagalnya penalti tersebut seolah menjadi titik balik. Maroko kehilangan momentum, dan Senegal menghukum mereka lewat gol penentu Gueye di extra time.
Kemenangan di atas lapangan belum tentu berarti aman di meja hijau. Melansir Express.co, dalam regulasi Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), ada pasal yang sangat jelas soal insiden seperti ini.
Pasal 64 menyebutkan bahwa jika sebuah tim menolak bermain atau meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir tanpa izin wasit, tim tersebut bisa dianggap kalah dan didiskualifikasi dari kompetisi yang sedang berlangsung.
Artinya? Secara teori, Senegal bisa saja kehilangan status juara meski mereka akhirnya kembali ke lapangan dan menyelesaikan pertandingan.
Pelatih Maroko Walid Regragui, tak menyembunyikan kekecewaannya usai laga. Dia mengecam keras kejadian di akhir waktu normal dan menyebut sebagai noda besar bagi sepak bola Afrika.
“Citra yang kita berikan tentang sepak bola Afrika cukup memalukan. Harus menghentikan pertandingan selama lebih dari 10 menit di depan seluruh dunia bukanlah tindakan yang berkelas," ujar dia.
Regragui juga menilai jeda panjang tersebut berdampak langsung pada kegagalan penalti Brahim Diaz.
“Dia punya banyak waktu sebelum mengambil penalti yang pasti mengganggunya," tambah dia.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
