Zinedine Zidane mengungkap cara ia membangkitkan Real Madrid yang sempat terpuruk pada 2016. Dari membangun fisik, kepercayaan, hingga mental juara, semuanya menjadi fondasi era emas Los Blancos.
JawaPos.com - Tak banyak pelatih yang punya tempat istimewa di hati pendukung seperti Zinedine Zidane. Namanya bukan hanya dikenang sebagai legenda di lapangan, tetapi juga sebagai sosok yang membawa Los Blancos melewati salah satu periode paling gemilang dalam sejarah sepak bola modern.
Namun, cerita itu tidak dimulai dari situasi ideal. Saat Zidane ditunjuk sebagai pelatih pada Januari 2016, Madrid justru sedang berada dalam kondisi limbung. Rentetan hasil mengecewakan di era tersebut membuat kepercayaan diri tim menurun dan ritme permainan jauh dari kata stabil.
Apa yang terjadi setelahnya justru menjadi dongeng sepak bola: Real Madrid meraih tiga gelar secara beruntun, sebuah pencapaian yang hingga kini sulit ditandingi.
Melansir AS, Zidane mengakui, promosi mendadak ke kursi pelatih tim utama datang dengan tekanan besar dan penuh keraguan. Ia mengenang betul momen awal tersebut, ketika ekspektasi langsung menghantamnya tanpa jeda.
“Saya ingat kami sedang mempersiapkan pertandingan melawan Ebro, dan kami mendapat kesempatan untuk berlatih bersama tim utama.”
“Ketika saya mulai di Castilla, saya bermimpi untuk melatih tim utama, tetapi setelah kalah tiga pertandingan di awal karier saya, saya pikir itu akan menjadi akhir dari segalanya.”
“Saya tahu apa yang saya hadapi. Kami memiliki tim terbaik di dunia. Saya melihat para pemain dan tahu bahwa jika kami bekerja keras, kami bisa mencapai hal-hal besar, dan itulah yang terjadi. Kami tidak ingin setiap sesi latihan sama,” katanya kepada saluran YouTube Hamidou Msaidie.
Menurut Zidane, persoalan terbesar saat ia mengambil alih tim bukan soal kualitas pemain, melainkan kondisi fisik dan semangat kolektif.
“Tim tersebut tidak dalam kondisi fisik yang baik, dan kami hanya perlu menanamkan kepada mereka gagasan bahwa mereka perlu bekerja sebagai tim.”
“Saya bertemu dengan keempat kapten dan memberi tahu mereka apa yang saya inginkan dari mereka, dan akan melihat apakah mereka berkomitmen. Ketika mereka setuju untuk bekerja, selesai sudah.”
“Kami menemukan kembali motivasi mereka. Kami membuat mereka berlari. Kerja fisik sangat penting.”
Pendekatan sederhana, tapi tegas itu perlahan mengubah wajah Madrid. Dari tim yang ragu menjadi skuad dengan mental kompetitif tinggi.
Zidane juga membagikan pesan jujur yang ia sampaikan kepada tim saat menghadapi rival berat seperti Atletico Madrid dan Barcelona.
“Saya memberi tahu mereka bahwa jika kami bermain melawan Atleti atau Barca, kami akan kalah 100%. Jika kami bekerja sama, maka kami bisa mengalahkan mereka, dan itulah yang terjadi.”
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Slovan Bratislava vs Celje di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Hapoel Beer Sheva vs Sabah FK di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
Prediksi Skor Vietnam vs Malaysia Leg 2 Semifinal AFF 2026: The Golden Star Warriors Menuju Final!
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Alaves: Momentum Tuan Rumah Bangkit!
Profil Putri Juficha, Miss Earth Indonesia 2025 yang Meninggal di Usia Muda
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Malaga: Los Rojiblancos Menang Tipis?
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
Prediksi Skor Celtic vs LASK Linz di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Potensi The Hoops Menang!
Ada Andik Vermansah Hingga Leo Lelis, 6 Mantan Pemain Persebaya Memperkuat Tim Promosi
