Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 Agustus 2025 | 21.15 WIB

Tekanan Besar Ruben Amorim di Manchester United: Akankah Dia Mengubah Nasib Setan Merah?

Ruben Amorim dan Matheus Cunha. (dok. MUFC)

 

JawaPos.com - Ruben Amorim kini menghadapi musim penuh tekanan dalam kariernya sebagai peatih Manchester United. Baru sembilan bulan menangani Setan Merah, pelatih asal Portugal itu sudah harus menanggung ekspektasi besar dari fans, sponsor, hingga manajemen klub. Man United sedang berusaha keras kembali ke jalur kejayaan setelah bertahun-tahun terpuruk pasca era Sir Alex Ferguson.

Menurut laporan BBC Sport, Amorim sempat memberikan pidato emosional di Old Trafford usai musim lalu berakhir buruk. Ia meminta maaf atas kegagalan tim, lalu berjanji bahwa “hari-hari indah segera kembali”. Ucapan itu sekaligus menjadi titik balik, karena Amorim menyadari publik tidak akan terus menerus bersabar jika performa Man United tak kunjung membaik.

Tekanan Berat Sejak Hari Pertama

Menangani Manchester United berarti siap hidup di bawah sorotan paling intens di dunia sepak bola. Amorim sendiri mengaku ia selalu merasa berada di bawah tekanan setiap hari. “Tidak mungkin berada di sini tanpa merasakan tekanan,” katanya seperti dikutip BBC Sport.

Sejak dilantik pada akhir 2024 menggantikan Erik ten Hag, catatan Amorim sejauh ini belum istimewa. Ia memenangkan 15 pertandingan, tapi juga kalah 16 kali, termasuk pada laga paling krusial, final Liga Europa melawan Tottenham Hotspur di Bilbao. Kekalahan itu semakin menegaskan sulitnya membangkitkan Man United di panggung besar.

Man United bahkan sempat dicemooh oleh fans saat melakoni tur Asia, termasuk di Malaysia dan Hongkong. Meski begitu, di Amerika Serikat, puluhan ribu suporter tetap memadati stadion untuk menyaksikan aksi tim. Situasi itu menunjukkan betapa besar magnet Man United, sekaligus menegaskan betapa tinggi tuntutan terhadap Amorim.

Perubahan Gaya Kepemimpinan

Untuk meredam tekanan, Amorim mulai melakukan penyesuaian internal. Ia membentuk kelompok pemimpin berisi enam pemain senior: Bruno Fernandes, Harry Maguire, Noussair Mazraoui, Lisandro Martinez, Tom Heaton, dan Diogo Dalot. Mereka diberi tanggung jawab mengatur ruang ganti agar beban manajer lebih ringan.

Selain itu, Amorim sengaja mengurangi intensitas media. Ia kini jarang menghadiri agenda internal maupun eksternal, dengan alasan ingin lebih fokus pada lapangan. Bahkan ruang media baru di pusat latihan Carrington diposisikan dekat dengan ruang pelatih agar efisien.

Namun, berbeda dari Erik ten Hag yang kaku dan disiplin, Amorim dikenal lebih hangat. Ia kerap berhenti berjam-jam setelah pertandingan hanya untuk meladeni swafoto dengan fans. Walau begitu, ia tetap menerapkan kode etik ketat, mulai dari soal kedisiplinan hingga sikap di dalam tim. Pelanggaran aturan akan tetap dikenakan sanksi.

“Di Chicago saya pernah merasa takut menghadapi pertandingan karena tak tahu apa yang akan terjadi,” ungkap Amorim. Kini, ia mengaku lebih percaya diri karena memiliki banyak opsi pemain untuk mengubah jalannya laga.

Jadwal Awal yang Berat

Ujian besar langsung menanti Man United sejak awal musim. Dari lima laga pertama, mereka harus menghadapi Arsenal di Old Trafford, bertandang ke markas Manchester City, dan menjamu Chelsea. Belum lagi duel melawan Liverpool di Anfield pada Oktober mendatang.

Situasi ini membuat evaluasi terhadap Amorim dipastikan lebih cepat datang. Hampir setahun sejak pemecatan Ten Hag, publik akan menilai apa yang sudah benar-benar berubah di bawah asuhannya.

BBC Sport menyebut bahwa Man United memilih Amorim sebagai sosok visioner dibanding kandidat lain seperti Marco Silva, Thomas Frank, atau Graham Potter. Keputusan itu penuh risiko, apalagi Amorim dikenal punya filosofi permainan spesifik dengan tiga bek tengah, dua wing-back, dan dua penyerang bayangan.

Rekonstruksi Skuad dengan Belanja Besar

Kebijakan taktis Amorim membuat beberapa pemain tersingkir, meski berstatus internasional senior. Untuk menopang formasi pilihannya, Man United merekrut Matheus Cunha, Bryan Mbeumo, dan Benjamin Sesko dengan total biaya sekitar GBP 200 juta, atau setara Rp 4,1 triliun.

Dampaknya, peran Bruno Fernandes diprediksi lebih dalam di lini tengah. Sementara itu, posisi Mason Mount dan Kobbie Mainoo masih menjadi tanda tanya, apalagi kontrak Mainoo belum tuntas. Di lini belakang, Matthijs de Ligt bersaing dengan Maguire, sementara Luke Shaw dan Lisandro Martinez berebut posisi di kiri trio bek.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore