Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 Juni 2025 | 23.19 WIB

Ruben Amorim Hadapi Masalah di Manchester United, Kepala Akademi Klub  Tak Cocok dengan Formasi Tiga Bek 

Ruben Amorim Final UEL (dok. MUFC) - Image

Ruben Amorim Final UEL (dok. MUFC)

JawaPos.com-Ruben Amorim menghadapi tantangan besar dalam membangun kembali Manchester United sesuai filosofi sepak bolanya. Meskipun manajer asal Portugal itu dikenal sukses menelurkan talenta muda saat melatih Sporting CP, dia kini dihadapkan pada kendala internal di tubuh Setan Merah.

Yakni sistem taktik yang sudah mendarah daging di akademi klub. United punya tradisi kuat dalam mempromosikan pemain muda. Amorim pun siap melanjutkan warisan tersebut di tengah keterbatasan dana setelah kegagalan lolos ke Liga Champions, yang membuat klub kehilangan potensi pemasukan hingga GBP 100 juta.

Namun, ada satu masalah utama tim-tim muda United terbiasa bermain dengan formasi 4-3-3. Sementara Amorim lebih percaya pada sistem tiga bek dan peran krusial wing back dalam menyerang.

Perbedaan pendekatan ini yang membuat integrasi pemain muda ke tim utama menjadi lebih sulit. Meski demikian, pihak akademi klub bersikeras tetap melatih pemain untuk mampu beradaptasi dengan berbagai sistem taktik.

Amorim tetap memberi debut kepada nama-nama muda seperti Harry Amass dan Tyler Fredricson musim ini. Dia juga membawa pemain-pemain muda seperti Dan Armer, Jaydan Kamason, Godwill Kukonki, Tyler Fletcher, Sekou Kone, Shea Lacey, Jack Moorhouse, dan Jim Thwaites, ke tur pramusim di Asia.

Meski belum lama menjabat, Amorim tak bergeming dari filosofi yang sudah membawanya sukses besar di Portugal. Saat mengambil alih Sporting CP, dia meninggalkan formasi 4-2-3-1 warisan pelatih sebelumnya dan menggantinya dengan pola 3-4-3 atau 3-4-2-1.

Dia juga menyesuaikan sistem akademi Sporting agar sejalan dengan taktik tim utama, sebuah pendekatan yang kini dia perjuangkan di Manchester United. Sumber internal klub menyebut, Amorim sudah menegaskan kepada manajemen United sejak awal bahwa dia membutuhkan kebebasan penuh dalam menerapkan filosofi permainannya.

Di Sporting, langkah tersebut membuahkan hasil gemilang. Pemain-pemain seperti Marcos Acuna dan Islam Slimani dilepas demi memberi tempat bagi nama-nama seperti Pedro Goncalves, Pedro Porro, Joao Mario, dan talenta muda Matheus Nunes, Nuno Mendes, hingga Tiago Tomas.

Hasilnya? Sporting menjuarai Liga Portugal setelah 19 tahun puasa gelar dan hanya kalah sekali sepanjang musim itu. Di musim berikutnya, mereka kembali mengangkat trofi di bawah kendali Amorim, dengan penguasaan bola rata-rata mencapai 65 persen.

Kini di Old Trafford, Amorim juga mengharapkan dukungan penuh dari petinggi klub, baik dalam bentuk dana transfer maupun otoritas untuk mereformasi struktur permainan dari akar rumput. Jika tidak, bukan tak mungkin pemain seperti Marcus Rashford dan Alejandro Garnacho yang gagal beradaptasi akan bernasib serupa dengan para pemain yang pernah dikorbankan Amorim di Portugal.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore