
Ruben Amorim Final UEL (dok. MUFC)
JawaPos.com-Ruben Amorim menghadapi tantangan besar dalam membangun kembali Manchester United sesuai filosofi sepak bolanya. Meskipun manajer asal Portugal itu dikenal sukses menelurkan talenta muda saat melatih Sporting CP, dia kini dihadapkan pada kendala internal di tubuh Setan Merah.
Yakni sistem taktik yang sudah mendarah daging di akademi klub. United punya tradisi kuat dalam mempromosikan pemain muda. Amorim pun siap melanjutkan warisan tersebut di tengah keterbatasan dana setelah kegagalan lolos ke Liga Champions, yang membuat klub kehilangan potensi pemasukan hingga GBP 100 juta.
Namun, ada satu masalah utama tim-tim muda United terbiasa bermain dengan formasi 4-3-3. Sementara Amorim lebih percaya pada sistem tiga bek dan peran krusial wing back dalam menyerang.
Perbedaan pendekatan ini yang membuat integrasi pemain muda ke tim utama menjadi lebih sulit. Meski demikian, pihak akademi klub bersikeras tetap melatih pemain untuk mampu beradaptasi dengan berbagai sistem taktik.
Amorim tetap memberi debut kepada nama-nama muda seperti Harry Amass dan Tyler Fredricson musim ini. Dia juga membawa pemain-pemain muda seperti Dan Armer, Jaydan Kamason, Godwill Kukonki, Tyler Fletcher, Sekou Kone, Shea Lacey, Jack Moorhouse, dan Jim Thwaites, ke tur pramusim di Asia.
Meski belum lama menjabat, Amorim tak bergeming dari filosofi yang sudah membawanya sukses besar di Portugal. Saat mengambil alih Sporting CP, dia meninggalkan formasi 4-2-3-1 warisan pelatih sebelumnya dan menggantinya dengan pola 3-4-3 atau 3-4-2-1.
Dia juga menyesuaikan sistem akademi Sporting agar sejalan dengan taktik tim utama, sebuah pendekatan yang kini dia perjuangkan di Manchester United. Sumber internal klub menyebut, Amorim sudah menegaskan kepada manajemen United sejak awal bahwa dia membutuhkan kebebasan penuh dalam menerapkan filosofi permainannya.
Di Sporting, langkah tersebut membuahkan hasil gemilang. Pemain-pemain seperti Marcos Acuna dan Islam Slimani dilepas demi memberi tempat bagi nama-nama seperti Pedro Goncalves, Pedro Porro, Joao Mario, dan talenta muda Matheus Nunes, Nuno Mendes, hingga Tiago Tomas.
Hasilnya? Sporting menjuarai Liga Portugal setelah 19 tahun puasa gelar dan hanya kalah sekali sepanjang musim itu. Di musim berikutnya, mereka kembali mengangkat trofi di bawah kendali Amorim, dengan penguasaan bola rata-rata mencapai 65 persen.
Kini di Old Trafford, Amorim juga mengharapkan dukungan penuh dari petinggi klub, baik dalam bentuk dana transfer maupun otoritas untuk mereformasi struktur permainan dari akar rumput. Jika tidak, bukan tak mungkin pemain seperti Marcus Rashford dan Alejandro Garnacho yang gagal beradaptasi akan bernasib serupa dengan para pemain yang pernah dikorbankan Amorim di Portugal.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
