Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 Juli 2024 | 17.40 WIB

Tak Terima Anaknya Dicap Rasis, Ayah Enzo Fernandez Kritik Pedas Jerman dan Prancis

Makin meluas persoalan rasisme yang menerpa Argentina hingga ke Jerman. (Instagram/@enzojfernandez) - Image

Makin meluas persoalan rasisme yang menerpa Argentina hingga ke Jerman. (Instagram/@enzojfernandez)

JawaPos.com — Skandal rasisme kembali mengguncang dunia sepak bola. Kali ini, Timnas Argentina menjadi sorotan usai beberapa pemainnya, termasuk Enzo Fernandez, kedapatan menyanyikan chant rasis yang mengolok-olok Timnas Prancis. Chant tersebut terekam dalam siaran live streaming di Instagram milik Enzo Fernandez, yang kemudian menuai kecaman luas.

Chant yang dinyanyikan oleh Enzo dan rekan-rekan setimnya di Timnas Argentina tersebut berisi olokan terhadap Prancis, terutama para pemain keturunan Afrika. Liriknya berbunyi, "Mereka membela Prancis namun mereka dari Angola. Ibunya Nigeria, bapaknya Kamerun, tapi paspornya Prancis." Tak ayal, insiden ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, terutama Federasi Sepak Bola Prancis (FFF).

Reaksi negatif terhadap Enzo Fernandez tak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam klubnya, Chelsea. Beberapa rekan setimnya bahkan berhenti mengikutinya di media sosial. Selain itu, Chelsea juga melakukan investigasi internal terhadap pemain berusia 23 tahun tersebut.

Meskipun Enzo Fernandez sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf, banyak pihak yang tetap mendesak agar dia diberi hukuman atas tindakan rasisme tersebut.

Namun, kritik pedas datang dari ayah Enzo Fernandez, Raul Fernandez, yang tak terima anaknya dicap rasis. Dalam wawancara dengan Deportes Argentos, Raul menyatakan bahwa tuduhan rasisme terhadap anaknya adalah bentuk kemunafikan dari negara-negara Eropa, terutama Jerman dan Prancis.

Raul Fernandez menegaskan bahwa anaknya bukanlah seorang rasis. "Saya tahu siapa anak saya, dia bukan seperti itu! Sulit bagi orang Eropa memahami cerita rakyat sepak bola kami," katanya dikutip dari akun X @AlbicelesteTalk.

Raul juga menambahkan bahwa Enzo merekam siaran langsung pada saat yang tidak tepat, bahkan tidak menyadari apa yang dia nyanyikan.

Raul kemudian mengungkit kembali beberapa insiden yang melibatkan Jerman dan Prancis di masa lalu. "Pada tahun 2014, ketika Jerman mengalahkan kami, mereka meniru gaya berjalan gaucho (masyarakat asli Amerika Selatan) dan memperlakukan kami seperti orang udik. Pada 2018, Prancis mencemooh Messi karena tinggi badannya. Kami tidak pernah koar-koar kalau kami kena diskriminasi," ujarnya.

Menurut Raul, insiden-insiden tersebut menunjukkan bahwa negara-negara Eropa juga pernah melakukan tindakan yang tidak pantas, namun tidak mendapatkan hukuman.

Insiden ini menunjukkan betapa sensitifnya isu rasisme dalam dunia sepak bola. Meskipun Enzo Fernandez telah meminta maaf, dampaknya masih terasa. Investigasi yang dilakukan oleh Chelsea menunjukkan bahwa klub-klub Eropa juga tidak mentoleransi tindakan rasisme.

Namun, pernyataan Raul Fernandez mengingatkan bahwa insiden serupa yang melibatkan pemain dari negara-negara Eropa sering kali luput dari hukuman.

Perdebatan tentang apakah Enzo Fernandez harus diberikan hukuman terus berlanjut. Di satu sisi, ada yang berpendapat bahwa hukuman adalah cara yang tepat untuk memberikan pelajaran dan mencegah tindakan serupa di masa depan. Di sisi lain, ada yang merasa bahwa Enzo telah cukup menunjukkan penyesalan dan hukuman tambahan hanya akan memperburuk situasi.

Namun, satu hal yang jelas adalah bahwa isu rasisme dalam sepak bola tidak boleh dianggap enteng. Tindakan rasisme, dalam bentuk apapun, harus dihadapi dengan tegas untuk menjaga integritas olahraga dan menghormati setiap individu tanpa memandang latar belakang mereka.

Kasus ini juga menjadi pengingat bagi semua pemain, pelatih, dan penggemar sepak bola untuk selalu berhati-hati dalam bersikap dan berbicara, terutama di era digital saat ini di mana setiap tindakan dapat dengan mudah direkam dan disebarluaskan. Kesalahan kecil bisa berdampak besar dan menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan.

Sebagai penutup, insiden ini bukan hanya tentang Enzo Fernandez atau Timnas Argentina, tetapi juga tentang bagaimana dunia sepak bola harus terus berjuang melawan rasisme. Setiap pihak, baik pemain, pelatih, klub, maupun federasi sepak bola, harus berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan bebas dari diskriminasi. Hanya dengan cara inilah sepak bola dapat benar-benar menjadi olahraga yang menyatukan, bukan memecah belah, umat manusia.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore