
Mantan Pemain Manchester City, Emmanuel Adebayor. (Dok. X/@ExtremeFootbal4)
JawaPos.com - Emmanuel Adebayor, mantan penyerang Real Madrid, melontarkan kritik tajam terhadap Jose Mourinho menyusul pernyataan pelatih Benfica tersebut terkait insiden yang menimpa Vinicius Junior. Adebayor, yang pernah menjadi anak asuh Mourinho di Madrid pada 2011, menilai sang pelatih telah keliru dalam menyikapi dugaan tindakan rasisme dalam laga Liga Champions di Estadio da Luz.
Persoalan ini bermula saat Vinicius menuduh pemain Benfica, Gianluca Prestiannni, melontarkan hinaan rasis dalam laga yang dimenangkan Madrid 0-1. Namun, alih-alih mengecam tindakan rasisme, Mourinho justu menyoroti gestur selebrasi Vinicius yang dianggap memicu provokasi di hadapan 60.000 pendukung tuan rumah.
Baca Juga: Clarence Seedorf Nilai Jose Mourinho Keliru Tanggapi Dugaan Rasisme terhadap Vinicius Junior
Kekeliruan Sang Mentor
Menanggapi hal tersebut, Adebayor menyatakan ketidaksetujuannya. Meski memiliki hubungan yang baik dengan Mourinho, pria berusia 41 tahun itu menganggap kali ini sang mentor berada di pihak yang salah.
"Saya rasa untuk pertama kalinya dia (Mourinho) sepenuhnya keliru. Saya tidak akan pernah sepakat dengannya dalam urusan ini," ujar Adebayor, dikutip melalui laman Marca, Senin (23/2).
Bagi mantan kapten tim nasional Togo tersebut, isu rasisme dalam sepak bola maupun olahraga secara umum adalah sesuatu yang sama sekali tidak dapat ditoleransi. Ia meyakini bahwa reaksi keras dari pemain seperti Vinicius dan Mbappe yang langsung menghampiri wasit adalah bukti kuat adanya pelecehan verbal.
"Jika Mbappe dan Vinicius berlari ke arah wasit, itu karena mereka mendengar sesuatu. Seseorang tidak akan melakukan itu hanya untuk mengejek lawan. Itu tidak normal," tegasnya.
Matinya Kegembiraan Sepak Bola
Selain mengkritik Mourinho, Adebayor juga menyoroti kepemimpinan wasit yang memberikan kartu kuning kepada Vinicius akibat selebrasi golnya. Baginya, hukuman tersebut mencederai esensi dari keindahan sepak bola.
Adebayor membandingkan selebrasi tarian Vinicius dengan aksi legendaris Roger Milla pada Piala Dunia 1990 yang telah menjadi bagian dari sejarah dan kegembiraan permainan ini.
"Mereka merampas kegembiraan dari sepak bola. Jika seorang pemain tidak lagi diizinkan menari di pojok lapangan, maka permainan ini kehilangan maknanya," tutur Adebayor.
Ia bahkan melontarkan pernyataan retoris agar kompetisi besar seperti Liga Champions atau Liga Inggris dihentikan sejenak jika otoritas sepak bola tidak mampu melindungi ekspresi kegembiraan dan gagal memberantas diskriminasi di atas lapangan hijau. Bagi Adebayor, apa yang dialami Vinicius bukan sekadar urusan teknis di lapangan, melainkan serangan terhadap martabat kemanusiaan.
