Logo Manchester United (X/@ManUtd)
JawaPos.com - Utang bersih Manchester United (MU) dilaporkan telah menembus angka USD 1 miliar atau sekitar 16,65 triliun rupiah. Lonjakan utang ini terjadi setelah Setan Merah menarik pinjaman sebesar GDP 105 Juta untuk kebutuhan belanja pemain pada bursa transfer musim panas lalu.
Meski mencatatkan rekor utang yang mengkhawatirkan, manajemen MU mengumumkan adanya keuntungan operasional pada kuartal pertama tahun ini. Kondisi ini dipicu oleh langkah efisiensi dan pemotongan biaya yang ketat di bawah kepemimpinan operasional baru, yang dipimpin oleh co-owner Sir Jim Ratcliffe melalui Grup INEOS.
Sorotan Angka dan Dampak Pinjaman Baru
Utang dasar MU sebesar GDP 481 juta, yang merupakan warisan dari skema leveraged takeover Keluarga Glazer pada 2005, tetap tidak berubah. Namun, penarikan fasilitas kredit bergulir sebesar GDP 105 juta menaikkan total pinjaman tambahan menjadi GDP 268 juta. Secara keseluruhan, total utang klub ini mencapai GDP 749 juta.
Sejak dikuasai oleh Glazer dua dekade lalu, Manchester United tercatat telah menghabiskan lebih dari GDP 1 miliar untuk pembayaran bunga saja.
Laba Operasional di Tengah Efisiensi Brutal
Di tengah angka utang yang mencengangkan, Kepala Eksekutif Omar Berrada mengumumkan bahwa MU berhasil membukukan laba operasional sebesar GDP 13,3 juta pada kuartal pertama. Ia menegaskan, hasil ini “mencerminkan ketahanan Manchester United.”
"Keputusan sulit yang kami ambil dalam setahun terakhir telah menghasilkan basis biaya yang lebih rendah secara berkelanjutan dan organisasi yang lebih ramping," ujar Omar Berrada, dikutip melalui laman Daily Mail, Jumat (12/12).
"Hal ini memungkinkan kami untuk berinvestasi pada tim putra dan putri, yang masing-masing kini berada di posisi keenam dan ketiga di Premier League dan Women's Super League," kata Berrada.
Pendapatan klub dari sisi komersial, siaran, dan hari pertandingan di Old Trafford mengalami penurunan, terutama karena absennya partisipasi di kompetisi Eropa musim ini. Namun, kinerja keuangan MU membaik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, di mana klub masih mencatat kerugian GDP 6,9 juta. Perbaikan ini tercapai berkat pemotongan staf dan implementasi langkah-langkah pengurangan biaya yang masif.
Musim lalu, MU sempat mencatat rekor pendapatan GDP 666,5 juta, namun mengakhiri tahun fikal dengan kerugian GDP 33 juta. Untuk tahun ini, klub memproyeksikan pendapatan antara GDP 640 juta hinggan GDP 650 juta.
Restrukturisasi INEOS dan Penjualan Pemain
Penarikan pinjaman tambahan ini menggarisbawahi bahwa kondisi keuangan klub masih ketat, meskipun telah terjadi restrukturisasi besar-besaran di bawah pengawasan Grup INEOS. Restrukturisasi ini mencakup peninjauan pemotongan biaya yang menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai departemen.
Bahkan, laporan keuangan klub mengindikasikan bahwa tanpa pemasukan dari penjualan pemain, terutama transfer Alejandro Garnacho ke Chelsea senilai GDP 40 juta, kondisi finansial MU akan jauh lebih buruk.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
