Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 September 2025 | 19.21 WIB

Jose Mourinho Kembali ke Stamford Bridge: Saya Selalu Biru, Tapi Besok Merah

Jose Mourinho rayakan debut manis usai Benfica kalahkan AVS. (Instagram @slbenfica). - Image

Jose Mourinho rayakan debut manis usai Benfica kalahkan AVS. (Instagram @slbenfica).

JawaPos.com-Jose Mourinho kembali menginjakkan kaki di Stamford Bridge, tempat yang melambungkan namanya menjadi salah satu pelatih paling berpengaruh di dunia.

Pria Portugal berusia 62 tahun itu datang sebagai pelatih Benfica untuk laga fase grup Liga Champions, Rabu (1/10) dini hari, melawan mantan klub yang dua kali dia bawa ke puncak Liga Primer.

“Dari luar, Chelsea tampak seperti kehilangan identitas sebagai klub. Namun, apa yang terjadi musim lalu, tampaknya mereka kembali ke jalur yang benar,” ujar Mourinho dalam konferensi pers pra-pertandingan.

“Mereka memberi kepercayaan kepada Enzo, dia membawa ide-idenya. Liga Conference adalah kompetisi yang mudah dimenangkan bagi klub besar, saya pernah melakukannya bersama Roma. Lencana Piala Dunia Antarklub sangat berarti. Selamat untuk mereka. Saya pikir itu memberi mereka tempat yang dipercaya, tempat yang percaya diri,” tutur dia.

Di bawah Enzo Maresca, Chelsea memang bangkit dari periode kelam. The Blues menutup musim lalu dengan trofi Liga Conference dan musim panas ini menaklukkan Paris Saint-Germain untuk merebut Piala Dunia Antarklub. 

“Ada masa kekecewaan, masa keraguan, sekarang masa kebahagiaan. Saya rasa Chelsea kembali ke jalur yang benar,” kata Mourinho, yang menilai potensi Chelsea menjuarai Liga Champions tetap sangat besar.

Namun laga di Stamford Bridge membawa dilema emosional bagi pelatih yang pernah memenangi tiga gelar Liga Primer bersama Chelsea.

“Seperti kata pepatah, Saya bukan lagi Biru. Saya Merah (Benfica), dan saya ingin menang. Tentu saja saya akan selalu menjadi Biru. Saya adalah bagian dari sejarah mereka dan mereka adalah bagian dari sejarah saya,” tegas Mourinho.

“Sebelum dan sesudah pertandingan, Chelsea saya yang akan menang, tetapi selama pertandingan, Benfica saya yang akan menang,” imbuh dia.

Mourinho juga menyoroti bagaimana Chelsea menghargai masa lalu. Foto-foto dirinya yang tengah mengangkat trofi masih terpajang di dinding stadion.

“Tidak banyak klub yang melakukan ini karena banyak klub yang takut akan apa yang terjadi di masa lalu. Terkadang mereka terlihat seperti ingin menghapus orang-orang yang telah membuat sejarah di klub. Ini menunjukkan bahwa Chelsea benar-benar klub besar karena klub besar juga menjunjung tinggi prinsip,” tandas Jose Mourinho.

Benfica menghadapi tugas berat. Rekor pertemuan menunjukkan tim Portugal jarang menaklukkan klub Inggris di Liga Champions. Chelsea belum pernah kalah dari Benfica dalam pertemuan resmi Eropa, termasuk kemenangan di perempat final Liga Champions 2011/2012 yang akhirnya membawa The Blues juara. Mourinho sadar tantangannya.

“Biasanya, tim Portugal tidak meraih hasil bagus melawan Inggris karena tim Inggris memang kuat. Mereka memiliki intensitas yang lebih tinggi, waktu bermain yang lebih efektif. Tapi tentu saja, saya yakin,” sebut Jose Mourinho.

Pelatih yang baru sebulan lalu meninggalkan Fenerbahce ini juga mengungkapkan kegembiraan bisa kembali ke pentas tertinggi Eropa.

“Setelah 25 tahun, saya berharap kembali ke Portugal untuk melatih tim nasional, bukan ke Benfica,” ujarnya sambil tersenyum.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore