
Tijjani Reijnders. (Instagram @tijjanireijnders)
JawaPos.com – Tijjani Reijnders dikabarkan tengah dalam proses menuju Manchester City dalam sebuah kesepakatan yang bisa menjadi rekor penjualan termahal bagi AC Milan.
Menurut laporan dari laman Sempremilan pada Sabtu (7/6), hampir semua sumber menyebut bahwa Milan dan Manchester City telah menyepakati transfer Reijnders. Gelandang asal Belanda ini dinobatkan sebagai pemain tengah terbaik di Serie A musim 2024-25.
Namun, kabar soal nilai transfer memicu kegelisahan di kalangan penggemar. Salah satu sumber menyebut bahwa City hanya menawarkan USD 55 juta atau sekitar Rp895 miliar, termasuk bonus, dengan durasi kontrak hingga 2030. Nilai tersebut dianggap terlalu rendah oleh banyak pihak, terlebih City ingin kesepakatan rampung sebelum Piala Dunia Antarklub.
Beberapa laporan tambahan menyebut bahwa Milan berpeluang menerima minimal USD 65 juta atau sekitar Rp1 triliun dari kesepakatan tersebut, termasuk potensi bonus sebesar USD 15 juta (Rp244 miliar), di mana USD 10 juta (Rp162 miliar) di antaranya disebut mudah terealisasi.
Salah satu alasan Milan bersedia melepas Reijnders dengan harga tersebut adalah karena saat membelinya dari AZ Alkmaar dua tahun lalu, mereka hanya mengeluarkan dana sebesar USD 20,5 juta (Rp333 miliar) plus bonus.
Perlu diperjelas bahwa Milan hanya akan menerima 10% dari keuntungan bersih atas penjualan pemain di masa depan, bukan dari total biaya transfer. Hal ini memungkinkan perhitungan lebih lanjut terkait nilai keuntungan Milan saat ini.
Pendapatan Milan untuk musim 2025-26 diperkirakan menurun akibat absennya mereka dari kompetisi Eropa. Dana dari transfer Reijnders senilai USD 15-20 juta (Rp244 – 325 miliar) bisa sangat membantu untuk menutupi kerugian finansial yang mungkin terjadi.
Dari sisi keuangan, memiliki pemasukan dari hasil transfer pemain lebih baik daripada harus mengandalkan suntikan dana langsung dari pemilik klub untuk menutupi biaya operasional tim.
Milan sebelumnya telah keluar dari perjanjian penyelesaian bersama UEFA. Artinya, mereka kini berada di bawah pengawasan aturan Financial Fair Play seperti klub lainnya, di mana total kerugian dalam periode akuntansi tiga tahun tidak boleh melebihi USD 60 juta atau sekitar Rp976 miliar.
Kabar baiknya, penjualan Reijnders hampir dipastikan akan memberikan keuntungan signifikan. Menurut Calcio e Finanza, Milan diprediksi akan mengakhiri tahun finansial hingga 1 Juli dengan keuntungan bersih sekitar USD 13-14 juta (Rp211–227 miliar).
Mengingat bahwa musim 2025-26 tidak akan semeriah musim-musim sebelumnya, dan sambil menanti hasil musim 2026-27, uang dari penjualan Reijnders akan menjadi modal penting bagi klub.
Tantangan terbesar Milan saat ini adalah mencari pengganti Reijnders sekaligus membangun tim yang lebih kompetitif agar bisa tampil lebih baik musim depan. (*)

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
