Pemain Lyon Alexandre Lacazette (kiri) dan Nemanja Matic di ruang ganti. (X @NemanjaMatic)
JawaPos.com - Kasus penolakan simbol kampanye anti-homofobia kembali mencuat di dunia sepak bola Eropa. Kali ini, sorotan tertuju pada Nemanja Matic, gelandang Olympique Lyon yang juga mantan pemain Manchester United.
Ia dijatuhi hukuman setelah menutupi logo pelangi di seragamnya saat pertandingan terakhir Ligue 1.
Insiden terjadi dalam laga antara Lyon melawan Angers pada pekan penutup musim 2024/2025 di Prancis.
Dalam pertandingan tersebut, Matic terlihat mengenakan sepotong kertas putih untuk menutupi logo Ligue 1 berwarna pelangi yang merupakan bagian dari kampanye tahunan anti-homofobia di kompetisi tersebut.
Akibat tindakannya, Nemanja Matic dijatuhi hukuman larangan bermain empat pertandingan (dua ditangguhkan) oleh The Ligue de Football Professionnel (LFP). Selain Matic, Ahmed Hassan dari klub Le Havre juga menerima sanksi serupa karena menutupi simbol yang sama.
Sementara itu, striker Nantes, Mostafa Mohamed yang menolak bertanding karena alasan pribadi dan keyakinan tidak menerima hukuman.
Kampanye anti-homofobia Ligue 1 sudah berjalan selama lima tahun. Seluruh pemain diwajibkan mengenakan badge pelangi bertuliskan ‘Homophobia Football’ yang dicoret serta menggunakan logo resmi kompetisi dengan warna pelangi.
Namun, kampanye ini tidak jarang mendapat penolakan dari pemain yang berpegang pada nilai agama dan keyakinan pribadi.
Matic yang dikenal sebagai penganut Gereja Ortodoks Serbia menyatakan kesulitannya untuk berpartisipasi karena alasan keyakinan.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Mohamed yang menyebutkan bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai spiritual dan budaya yang ia anut.
Dilansir dari Daily Mail pada Kamis (5/6), pihak Ligue 1 tidak hanya menjatuhkan sanksi kepada pemain.
Musim ini, mereka juga telah mengeluarkan 107 denda dengan total EUR 229.000 (sekitar Rp 4 miliar) dan memerintahkan penutupan tribun dalam beberapa kasus pelanggaran berupa nyanyian dan spanduk homofobik di stadion.
Menteri Olahraga Prancis, Marie Barsacq, juga turut menyampaikan pendapatnya terkait insiden ini.
“Sepak bola memiliki panggung besar dan federasi ingin membawa isu ini ke perhatian klub dan para pendukung. Hinaan dan perilaku homofobik tidak lagi dapat diterima. Masyarakat telah berkembang dan sepak bola harus mengikutinya,” ujar Marie.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
