Pelatih PSG Luis Enrique mengenakan pakaian serba hitam. (Dok. PSG)
JawaPos.com — Luis Enrique mencuri perhatian dunia saat memimpin Paris Saint-Germain (PSG) menjuarai Liga Champions untuk pertama kalinya. Namun bukan hanya kemenangan telak 5-0 atas Inter Milan yang membuat publik tersentuh, melainkan pilihan kaos hitam yang dikenakan sang pelatih saat merayakan keberhasilan tersebut.
Kaos tersebut bukan sembarang pakaian, melainkan simbol cinta dan penghormatan seorang ayah kepada anak tercinta.
Di tengah pesta kemenangan yang gemerlap, Enrique memilih mengenang mendiang putrinya, Xana, yang meninggal dunia akibat kanker pada 2019.
Pada malam bersejarah itu, Enrique mengganti jersey tim dengan kaos berwarna hitam bergambar Xana kecil yang memegang bendera PSG.
Gambar tersebut seolah menyatukan kenangan masa lalu dan kemenangan masa kini dalam satu bingkai emosional.
Desain kaos itu terinspirasi dari momen ketika Xana membawa bendera Barcelona di final Liga Champions 2015. Kini, sang ayah menghidupkan kembali memori tersebut dalam warna kebanggaan klub barunya, PSG.
Pilihan kaos hitam itu menjadi pernyataan emosional keberhasilan di atas lapangan tidak pernah melupakan cinta yang telah pergi.
Enrique menjadikan kemenangan besar ini sebagai momen pribadi untuk kembali terhubung dengan Xana.
Bagi pelatih berusia 54 tahun itu, trofi Liga Champions bersama PSG bukan sekadar prestasi profesional. Gelar ini adalah yang pertama kali ia persembahkan untuk putrinya sejak kepergian sang buah hati.
Xana meninggal dunia pada Agustus 2019 karena osteosarcoma, jenis kanker tulang yang langka dan mematikan. Kepergiannya menjadi pukulan besar bagi Enrique dan keluarganya yang selama ini dikenal sangat dekat.
Sejak tragedi itu, Enrique tak pernah absen menyisipkan kenangan tentang Xana di setiap kesempatan penting. Baik lewat wawancara, pernyataan publik, maupun simbol-simbol pribadi seperti kaos hitam yang dikenakannya di final.
Kaus tersebut bukan sekadar simbol duka, tetapi juga kekuatan dan dedikasi Enrique kepada nilai-nilai keluarga. Ia membuktikan kemenangan sejati tak pernah lepas dari makna kemanusiaan di baliknya.
Yang lebih menyentuh, Enrique dan keluarganya mendirikan Yayasan Xana untuk membantu anak-anak penderita penyakit berat. Yayasan ini menjadi bentuk nyata cinta dan warisan mendiang putrinya.
Sebagian gaji Enrique sebagai pelatih PSG juga disumbangkan untuk yayasan tersebut. Langkah itu menunjukkan di balik kesuksesan besar, ia tetap memelihara kasih sayang yang mendalam kepada sang anak.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
