
Patalina Luna usai memberikan kesaksian untuk dugaan ijazah palsu STT Injili Astamar, Rabu (21/3)
JawaPos.com – Sidang dugaan ijazah palsu yang dikeluarkan oleh STT Injili Arastamar (SETIA) Tangerang berlanjut, Rabu (21/3). Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan tiga orang sebagai saksi dari pihak korban. Ketiganya adalah Dominggus Roga, Ester Wini Bero, dan Patalina Luna.
Pentingnya ijazah membuat suasana persidangan penuh haru. Sebab, rasa sakit membuat tangis di depan majelis hakim tidak bisa dielakkan. Seperti yang terlihat saat Patalina Luna memberikan kesaksian menjelang akhir persidangan. Dalam sidang selama tiga jam itu, saksi yang kali pertama memberikan kesaksian adala Ester Wini Bero lantas Dominggus.
Patalina mengucurkan air mata ketika terdakwa Ernawaty Simbolon dan Matheus Magentang, mencecarnya pertanyaan. Dia ditanya seputar pengetahuannya jika pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) di kampus itu hanya pendamping. Patalina tahu, itu pertanyaan jebakan supaya terdakwa lolos dari dugaan memberi ijazah palsu.
”Saya tak kuat ketika mereka menanyakan, apakah saya tahu jika PGSD itu hanya program pendamping,” tuturnya kepada JawaPos.com setelah memberikan kesaksian di PN Jakarta Timur.
Kedua mata Patalina tampak sayu. Dia mengatakan, dirinya sakit hati dengan pertanyaan para terdakwa. Sebab, orang tuanya sudah mati-matian membiayainya sekolah. ”Orang tua saya itu petani, mereka yang membiayai saya kuliah. Lalu ada kakak saya juga yang di Manado ada (membantu) Rp 15 juta lebih,” ujarnya.
Ibu tiga anak itu mengaku terpukul ketika ijazahnya dinyatakan oleh petugas CPNS Sumba Barat Daya tidak resmi. Untuk informasi, dia mendaftar sebagai CPNS pada 2010. Dia ingat betul jika Matheus pernah menyebutkan bila ijazah bisa dipakai untuk apapun. ’’Termasuk mendaftar PNS,’’ tegasnya.
Perempuan 32 tahun itu mengatakan, Matheus memastikan ijazah bisa dipakai untuk berbagai keperluan saat orientasi pengenalan kampus (Ospek). Bahkan, Matheus mengulangi pernyataan yang sama saat wisuda. ”Pak Matheus bilang bisa digunakan. Saat wisuda iya. Lalu, saat Ospek juga iya,” terangnya.
Hal senada juga disuarakan oleh Dominggus dan Ester. Dominggus menyebut, dia dijanjikan oleh kampus jika ijazah bisa dipakai untuk apapun. Termasuk mendaftar CPNS. Selama menempuh kuliah di STT, Dominggus mendapat dua gelar sekaligus. Sebab, pria 30 tahun itu mengambil DII PGSD dan S1 Pendidikan Agama Kristen (PAK).
”Saya pikir kalau S1 sepertinya bakal banyak pesaingnya waktu itu. Jadi, saya ambil DII. Lantas, saya daftar CPNS pakai ijazah DII,” terangnya.
Pengambilan ijazah, katanya ternyata tidak gratis. Dominggus mengatakan, dirinya harus membayar Rp 300 ribu. Sedangkan, Ester harus merogoh kantongnya hingga Rp 3 juta. ”Kalau saya karena ada ikatan pelayanan dengan gereja, jadi saya bayar Rp 300 ribu. Kalau si Ester karena tidak mengikuti pelayanan dan tidak ada ikatan, jadi bayar Rp 3 juta,” tuturnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
