
Aplikasi
JawaPos.com – Pengendalian angka kelahiran seringkali menjadi masalah yang pelik bagi suatu negara, terlebih negara berkembang seperti Indonesia. Solusinya adalah dengan menggalakkan program membatasi angka kelahiran pada setiap kepala keluarga. Program ini giat disuarakan oleh pemerintah dengan tajuk ‘Dua Anak Cukup’.
Membatasi angka kelahiran bisa dengan berbagai cara, di antaranya menggunakan alat kontrasepsi dalam maupun luar tubuh. Sebut saja menggunakan pil atau obat-obatan tertentu.
Bagi sebagian orang melakukan hal itu sangat mengerikan, melihat efek samping yang dihasilkan bagi pengguna tertentu. Bisa juga tidak ada waktu untuk pergi ke klinik kandungan karena sangat menyita waktu. Untuk menjawab hal tersebut, kini teknologi ikut ambil peran mengganti alat kontrasepsi.
Seperti JawaPos.com lansir dari laman Mirror, Senin (25/12), sekarang hanya membutuhkan sebuah aplikasi smartphone baru yang disebut dengan ‘Natural Cycles’. Aplikasi berbayar tersebut harganya sekitar EUR 40 atau setara dengan Rp 640.000 untuk berlangganan selama setahun.
Cara kerjanya menggunakan termometer cerdas untuk membantu wanita melacak masa subur mereka, mengingatkan mereka pada periode kapan aman melakukan hubungan seks tanpa alat kontrasepsi baik pil ataupun kondom.
Ini bukan sesuatu yang baru, namun perencanaan keluarga alami telah ada selama berabad-abad. Teknologi pintar yang merupakan salah satu inovasi pertama ini akan memberikan informasi yang mudah dicerna. Tentunya terkait dengan kesuburan wanita yang bisa dilacak melalui smartphone.
Dengan mengambil suhu Anda setiap hari dan memasukkannya ke dalam aplikasi bersamaan dengan tanggal periode terakhir Anda. Ini akan menilai kenaikan suhu basal tubuh dengan angka sekitar 0,3 derajat celcius yang terjadi pada saat ovulasi.
Cara ini dinilai lebih baik ketimbang menggunakan pil kontrasepsi modern yang dapat menimbulkan efek samping tertentu bagi pemakainya, seperti mood yang naik-turun, pendarahan, rasa mual berlebih, tumbuh jerawat, dan alergi tertentu.
Bahkan studi terbaru menunjukkan mungkin ada risiko yang lebih serius dalam penggunaan jangka panjang, seperti konsumsi dosis estrogen berlebih dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Agak mengkhawatirkan, survei yang merupakan sebuah terobosan besar terhadap 1,8 juta wanita di Denmark yang diterbitkan di New England Journal of Medicine baru-baru ini menemukan bahwa risiko itu masih ada.
Pencarian cepat di Google pun akan mengemukakan segala macam cerita horor yang mengkhawatirkan tentang risikonya. Sementara aplikasi kesuburan beresonansi dengan tren kesehatan bebas bahan kimia saat ini.
"Ini perlindungan dengan kebebasan seksual yang lebih banyak dikurangi efek sampingnya," klaim situs Natural Cycles.
Aplikasi ini diklaim terbukti efektif 93% bila digunakan dengan memperhatikan caranya. Penelitian tersebut dilakukan kepada lebih dari 20.000 wanita dan sejak itu menjadi aplikasi pertama yang disertifikasi sebagai bentuk kontrasepsi baru oleh badan kesehatan Eropa.
Aplikasi ini telah tersedia di AppStore dan Android Play Store. Namun perlu diingat, teknologi ini bukan lampu hijau yang membolehkan Anda melakukan hubungan seksual di luar nikah. Aplikasi ini hanya untuk pasangan suami-istri yang sah dan tercatat secara hukum.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
