Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 Oktober 2017 | 01.05 WIB

Memahami Stunting Akibat Kurang Gizi Kronis Sejak Dalam Kandungan

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Tak bisa dipungkiri, Indonesia dengan segala kekayaan alamnya masih memiliki persoalan soal gizi yang terbilang memprihatinkan. Salah satunya adalah stunting atau kekurangan gizi kronis yang menyebabkan kelainan postur tubuh dan kemampuan kognitif.


Lantas, apa sebenarnya stunting itu dan apa penyebabnya?


Dirjen Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono mengungkapkan, hingga tahun ini Indonesia masih mempunyai tiga persoalan gizi yang harus diperbaiki. Yakni, kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan stunting. Anung megatakan, berdasar Riset Kesehatan Dasar lima tahunan pada 2013, angka anak penderita stunting mencapai 37,2 persen. Dan sedikit menurun pada 2016 menjadi 27,5 persen.


Menurut Anung, stunting tidak hanya dikategorikan dari kondisi ukuran fisik seperti tubuh yang pendek. Namun, juga defisit dari kemampuan kognitif.


"Karena standar stunting itu sebenarnya adalah kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak di dalam kandungan. Yang mengakibatkan anak berpenampilan pendek dan adanya kekurangan kognitif atau kemampuan belajar dari seorang anak," kata Anung dalam diskusi bersama media di Kantor Kemenkes RI, Jakarta, Senin (9/10).


Tak hanya itu, kata Anung, persoalan stunting bukan hanya karena kekurangan makan. Sebab, masyarakat miskin hingga berstatus sosial kaya juga bisa menderita stunting.


"Jadi ini adalah persoalan bukan hanya ketidakmampuan mendapatkan sumber makanan. Tapi lebih kepada ketidaktahuan memilih sumber makanan yang baik," papar Anung.


Karena itu, Kemenkes bekerja sama dengan NGO EAT Forum menggelar Asia Pacific Food Forum (APFF) 2017 pada 30 dan 31 Oktober 2017 mendatang. Forum itu dinilai perlu digelar untuk memobilisasi pemimpin dari pemerintah, bisnis, akademisi, dan masyarakat sipil dalam menghadapi tantangan mendesak dalam ketahanan pangan dan gizi.


"Kita bicara sebuah sistem pangan. Kalau selama ini selalu orang mengatakan sistem pangan itu kan isinya wilayah. Faktanya tidak cuma bicara wilayah, tapi sekaligus juga harus bicara rumah tangga. Karena pengambilan keputusannya ada di rumah tangga. Jadi pilihan makan dan sebagainya," kata Anung.


"Nah, ini yang oleh Bapak presiden dan wapres kita pengin lebih cepat penurunannya (angka stunting). Nanti sambil kita lihat terakhir 2018 yang akan diukur melalui riset kesehatan mendatang," tambahnya. 

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore