
CINTA INDONESIA: Shiho Narita memangku Yu go Narita yang lahir pa da 17 Agustus 2017.
Pengabdian Shiho Narita dalam pengolahan sampah di Surabaya dimulai pada 2013. Dia kini makin kerasan tinggal di Indonesia setelah putra pertamanya lahir pada 17 Agustus lalu, tepat di Hari Kemerdekaan Indonesia.
SALMAN MUHIDDIN, Surabaya
AWALNYA, Shiho tidak sadar bahwa putra pertamanya, Yugo Narita, lahir tepat pada Hari Kemerdekaan Indonesia. Dokter memperkirakan putranya lahir setelah 20 Agustus. Namun, setelah diperiksa, jantung putranya melemah.
Keinginan untuk melahirkan secara normal pun sirna. Istrinya harus menjalani operasi Caesar. ”Dia hanya pura-pura lemah. Ternyata ingin lahir 17 Agustus,” gurau alumnus Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Indonesia itu sambil menggendong anaknya pada Sabtu (26/8).
Setelah tahu anaknya lahir pada Hari Kemerdekaan Indonesia, dia kaget. Itu menjadi sebuah kebetulan yang menggembirakan hatinya. Hal tersebut dia anggap sebagai hadiah atas kerja kerasnya selama ini.
Shiho tinggal di Surabaya sejak 2013. Dia merupakan duta kerja sama sistercity Surabaya-Kitayushu. Pemerintah Jepang menugasinya sebagai manajer proyek depo sampah Sutorejo.
Shiho tinggal bersama suaminya, Naoto Narita, di salah satu apartemen di Surabaya Barat.
Perayaan kelahiran anaknya dilakukan pada Sabtu lalu. Sahabat-sahabatnya dari Komunitas Nol Sampah hadir memberikan selamat. Mereka juga membawakan bendera Indonesia mini untuk si kecil.
Karena kedatangan tamu istimewa, Shiho mengganti baju anaknya. Dia sudah membelikan baju batik untuk Yugo. Baju itu dibeli sebelum anaknya lahir. Motifnya ikan koi. ’’Ini batik Indonesia-Jepang,’’ ujarnya, lalu meringis.
Cuti melahirkan di Jepang sama dengan Indonesia. Yakni, hanya 3 bulan. Yang membedakan ialah cuti merawat anak. Shiho diberi waktu satu tahun. Jadi, total cuti yang dia dapatkan adalah 15 bulan.
Namun, pengabdian di depo sampah tetap dia lakukan. Shiho bakal mengunjungi tempat pemilahan sampah tersebut sewaktu-waktu. Meski demikian, para pegawai di sana sudah bisa bekerja tanpa diawasi penuh. Maklum, Shiho mendampingi mereka sejak 2013. Meski demikian, Shiho menganggap tugasnya belum selesai. Mengoperasikan mesin dan mengelola depo bukan tujuan utamanya. Dia ingin masyarakat Surabaya memiliki budaya memilah sampah.
Dia mengakui, hal itu cukup sulit dan membutuhkan waktu. Diperlukan campur tangan pemerintah untuk mengubah budaya memilah sampah. Selama ini, sampah dari setiap rumah dijadikan satu dalam kantong plastik. ”Itu juga terjadi di Jepang sekitar 20 tahun lalu,” jelas ibu 27 tahun tersebut.
Di depo Sutorejo dia bisa mengolah 15 ton sampah dalam sehari. Sementara itu, di Wonorejo hanya ada 10 ton sampah. Angka itu tergolong kecil. Sebab, sampah yang dihasilkan Surabaya bisa mencapai 3.000 ton. Untuk mengubah budaya tersebut, diperlukan pengolahan yang lebih besar.
Shiho bermimpi Surabaya bisa seperti Jepang. Sampah plastik, kertas, dan basah dipilah-pilah. Sudah ada rencana membesarkan proyek pengolahan sampah yang dirintisnya. Namun, rencana itu masih membutuhkan perizinan.
Meski proyek tersebut belum terwujud, tidak masalah. Dia bisa lebih berlama-lama di Indonesia. Dia pun lantas menceritakan perjalanannya bisa sampai ke Indonesia. Awalnya, dia tidak tahu letak Indonesia. Namun, dia memilih jurusan bahasa Indonesia karena penasaran. Mempelajari bahasa Inggris, Prancis, ataupun Italia sudah biasa baginya.
Setelah mengetahui Indonesia, dia kini merasa jatuh cinta. Dia suka sekali berkeliling dunia. Namun, setelah tinggal di Indonesia, dia merasa tidak perlu ke negara lain. Sebab, dia merasa menemukan beragam budaya dan suku. Beberapa kota telah dijelajahinya. Mulai Toraja, Balikpapan, hingga Ambon. ”Papua belum. Hanya sampai Ambon,” ucapnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
