Sekretaris Jenderal DPP PKB, Hasanuddin Wahid alias Cak Udin. (PKB)
JawaPos.com - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menekankan pentingnya adab dalam berpolitik. Partai menilai kepintaran tidak bisa menjadi satu-satunya modal yang dimiliki, sebab butuh adab agar untuk mengontrol kehidupan menjadi lebih baik.
Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal DPP PKB, Hasanuddin Wahid alias Cak Udin dalam Kajian Rutin Ramadhan Seri ke-4. Pada kesempatan ini, kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy'ari menjadi rujukan utama dalam memperkuat moral kader partai.
“Mencari orang pintar itu banyak. Mencari orang cerdas itu mudah. Tapi mencari orang beradab itu sulit. Hari ini guru ilmu sangat mudah, ChatGPT, AI, dan teknologi digital tersedia di genggaman. Tetapi guru adab tidak bisa dicari sembarangan. Perlu istikharah, perlu sanad, perlu keteladanan,” kata Cak Udin di kantor DPP PKB, Jl Raden Saleh Nomor 9 Jakarta Pusat, Senin (23/2).
Dia menyampaikan, dunia politik Indonesia saat ini semakin kompleks, pragmatis, dan rawan transaksional. Oleh karena itu, kade PKB ditekankan untuk kembali kepada ajaran ulama agar memiliki kepribadian yang baik.
Ada dua alasan utama PKB terus mengkaji karya Mbah Hasyim. Pertama, sebagai bentuk kecintaan dan komitmen intelektual terhadap karya-karya beliau. PKB ingin seluruh kadernya layak disebut sebagai santri Hadratusyaikh, bukan hanya secara historis, tetapi secara nilai dan perjuangan.
Kedua, sebagai bentuk pengabdian dalam menjaga dan membesarkan karya terbesar Mbah Hasyim, yakni Nahdlatul Ulama. Bagi PKB, merawat NU bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan tanggung jawab ideologis.
“Sepelik apa pun dunia politik Indonesia, kita masih punya kendali. Kendali itu adalah kitab kuning karya para ulama. Dan NU itu adalah kitab kuning terbesar Mbah Hasyim. Itulah pemandu kita. Tidak banyak partai politik yang menjadikan kitab kuning sebagai arah perjuangan,” imbuhnya.
Kajian ini dipandu oleh Kiai Fahmi Amrullah Hadziq, cucu Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, memperkuat sanad keilmuan sekaligus ikatan historis PKB dengan pesantren.
Digelar secara hybrid, kegiatan ini diwajibkan bagi seluruh anggota DPRD, kepala daerah dari PKB, serta kader di berbagai tingkatan. Tujuannya jelas: memastikan bahwa setiap kader yang berada di ruang kekuasaan tetap memiliki pemandu moral.
Turut hadir dalam kegiatan ini, kiai Said Aqil Siroj, Kiai Yusuf Chudlory, Nyai Badriyah Fayumi, Kiai Abdussalam Sohib, Kiai Maman Imanulhaq, Nyai Hindun Anisah, Kiai Ahmad Badawi Basyir, Kiai Ahmad Kafabih, Kiai Jazim Hamidi, Kiai Muhammad Nur Hayid, Nyai Siti Haniatunnisak, dan Vaeiz Muhammad Mirza.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
