
Eks Ketua Umum PPP, Muhammad Romahurmuziy alias Romy, bebas. Ia keluar dari Rutan KPK pada Rabu (29/4/2020). Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com
JawaPos.com - Sejumlah kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mendatangi kantor DPP PPP di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (4/6). Mereka meminta Ketua Majelis Pertimbangan DPP PPP M. Romahurmuziy dievalusi.
Nama Romahurziy alias Rommy menuai sorotan setelah menyodorkan sejumlah pihak untuk menjadi calon ketua umum partai berlambang Kakbah itu menjelang Muktamar 2025.
Ketua DPC PPP Jakarta Utara Junaedi menyatakan Rommy tidak etis mengumbar-umbar jabatan ketua umum PPP. Pernyataan itu memantik sejumlah kader PPP. “Dia harus menghentikan segala kegaduhan dan provokasi antar kader PPP,” kata Junaedi di depan kantor DPP PPP, Jakarta, Rabu (4/6).
Junaedi menyebut, Rommy seharusnya bisa menjaga soliditas partai menjelang gelaran Muktamar 2025. Dia menekankan pernyataan Rommy yang belakangan ini menyodorkan nama eksternal untuk memimpin PPP menyinggung para kader.
Pernyataan Rommy malah memecah belah partai dan menggangu soliditas partai. “Dia harus meminta maaf secara terbuka atas segala pernyataanya,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Seketeraris Cabang PPP Jakarta Barat Siswanto menyebut Rommy yang pernah memimpin PPP justru pernah berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Siswanto heran kengapa Rommy masih bertahan di PPP sampai saat ini. “Sudah beberapa kali kami kalah Pemilu. Seharusnya dia dipecat karena memang tak berdampak baik bagi partai ini,” tegas Siswanto.
Sebelumnya, Ketua Majelis Pertimbangan DPP PPP, M Romahurmuziy menyebut, PPP di bawah kepemimpinan Mardiono telah gagal. Menurut dia, PPP harus fleksibel untuk membuka diri hadirkan calon ketua umum dari eksternal partai jelang Muktamar PPP 2025.
"Bahwa kepemimpinan saat ini sudah gagal mempertahankan PPP di Senayan. Jadi, untuk dimajukan lagi sebagai Caketum jelas sudah sangat tidak layak," ucap Rommy, Rabu (14/5).
Dia mengeklaim hampir seluruh DPW dan DPC sangat setuju dengan pernyataannya tersebut. Karena itu, PPP harus fleksibel dalam membuka diri cari calon ketua umum dari eksternal partai.
"PPP harus fleksibel. Disamping internal, PPP harus membuka diri untuk sourcing calon ketum dari luar partai. Tidak perlu kaku memegangi AD/ART yang mensyaratkan caketum harus pernah duduk 1 periode kepengurusan sebagai Pengurus Harian DPP atau Ketua Majelis," pungkasnya.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
