JawaPos.com - Pengamat politik Universitas Indonesia Meidi Kosandi menilai, pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka bukan dinasti politik. Meskipun isu tersebut santer digaungkan, nyatanya tidak membuat elektabilitas keduanya jeblok.
"Isu dinasti politik terhadap tingginya survei untuk Prabowo-Gibran saya rasa tidak terlalu berpengaruh terhadap dukungan masyarakat," kata Meidi kepada wartawan, Rabu (29/11).
Meidi mengatakan, hasil survei beberapa lembaga menyatakan, Prabowo-Gibran masih mengungguli pasangan lainnya. Perolehan suaranya pun masih di atas 40 persen.
Menurut Meidi, para pemilih pasangan Prabowo-Gibran, hampir sebagian besar merupakan pemilih loyal pada 2 pemilu terakhir. Sehingga isu politik dinasti yang dialamatkan ke Gibran sebagai pasangan Prabowo tidak terlalu berpengaruh.
"Saya kira masyarakat yang mendukung memang tidak terpengaruh dengan dinasti politik," ujarnya.
Meidi menjelaskan, Gibran yang merupakan putra Presiden Jokowi maju sebagai pendamping Prabowo bukanlah dalam rangka membangun dinasti politik. Karena dinasti politik sendiri itu dapat diartikan sebagai upaya dalam memonopoli kekuasaan.
Namun, dalam praktik pemilu 2024 saat ini bukan upaya untuk mempertahankan kekuasaan politik di tangan dinasti, sebab ada proses demokrasi yang ditempuh Gibran. Sehingga lebih cocok disebut dengan Political Clan.
"Jadi, tidak terlihat adanya monopoli kekuasaan tapi lebih ke aspirasi keluarganya (Jokowi) untuk ikut pemilihan. Jadi, masyarakat tidak terpengaruh dengan isu dinasti politik," ungkapnya.
Dia menambahkan, secara teoritis, karakteristik pemilih Prabowo-Gibran cenderung dari perdesaan, dalam hal ini pemilih loyal Prabowo. Sementara, generasi milenial maupun Gen Z merupakan para pemilih Gibran. Selain itu, pasangan Prabowo-Gibran juga sudah berjanji akan melanjutkan program pemerintah saat ini.
"Pemilih loyal dari perdesaan yang pemilu-pemilu sebelumnya mendukung Prabowo sebagian besar masih setia. Ditambah pula pendukung baru yang setuju dengan kebijakan pemerintah," pungkas Meidi.