Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto di Kantor DPD PDIP Provinsi Banten, Kota Serang, Banten, Minggu (10/9/2023). ANTARA/Narda Margaretha Sinambela.
JawaPos.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menaruh curiga dengan diturunkannya baliho PDI Perjuangan dan gambar Ganjar Pranowo-Mahfud MD saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke Bali. Sebab, atribut partai lain tak dirunkan seperti yang dialami baliho Ganjar-Mahfud.
"Bahwa dengan penurunan baliho, penurunan bendera PDIP, kemudian muncul bendera dan atribut-atribut secara masif dari partai lain nah itu kan kemudian menimbulkan kecurigaan," kata Hasto di Gedung High End, Jakarta Pusat, Rabu (1/11).
Hasto menilai, diturunkannya baliho Ganjar-Mahfud saat Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Gianyar, Bali adalah tindakan diskriminatif. Seharusnya, hal itu tak perlu dilakukan.
"Terjadi kejadian yang menurut kami tidak perlu dilakukan karena terjadinya politik diskriminasi," tegas Hasto.
Hasto menyinggung politik diskriminatif lantaran terjadi perbedaan ketika Jokowi berkunjung ke Bali dan Sumatra Barat, karena baliho-baliho tidak diturunkan ketika Jokowi kunjungan ke Sumatra Barat. Selain itu, Hasto menilai penurunan baliho Ganjar-Mahfud menciderai rasa keadilan.
"Tapi respons dari masyarakat luas semakin menguatkan dan menguatkan kami bahwa abuse of power tidak bisa dilakukan di dalam iklim demokrasi yang baik," ucap Hasto.
Presiden Jokowi pun telah merespons kabar dugaan pencopotan baliho bergambar Ganjar Pranowo dan Mahfud MD yang terpasang di Kabupaten Gianyar, Bali. Menurut Jokowi, pencopotan baliho itu seharusnya meminta izin terlebih dahulu terhadap perwakilan partai yang ada di daerah.
"Pemindahan beberapa atribut partai-partai itu mestinya, pemerintah Kabupaten/Kota serta Provinsi minta izin kepada pengurus partai di daerah, berkomunikasi dengan pengurus partai di daerah. Jangan sampai nanti terjadi miskomunikasi dan menjadikan semuanya tidak baik," ucap Jokowi di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (1/11).
Jokowi mengaku dirinya mendapat informasi adanya pemindahan atribut partai dari penjabat (Pj) Gubernur Bali, terkait pemindahan atribut-atribut partai.
Jokowi mengingatkan, seluruh jajaran pemerintah daerah harus bersikap netral pada Pemilu 2024.
"Ini perlu saya sampaikan bahwa pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah kota, pemerintah pusat semua harus netral," ujar Jokowi.
"ASN semua harus netral, TNI semua harus netral, Polri semua harus netral," sambungnya.
Oleh karena itu, Jokowi mengingatkan jajaran pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dalam menertibkan atribut partai, harus terlebih dahulu berkomunikasi dengan pimpinan partai yang ada di wilayah tersebut.
"Artinya harus ada komunikasi, komunikasi dengan pengurus partai, izin dengan pengurus partai di daerah supaya tidak terjadi miskomunikasi," pungkas Jokowi.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
