Calon Presiden Anies Baswedan menghadiri acara Ngariung 1000 Alumni ITB di Bandung, Minggu (1/10).
JawaPos.com - Calon Presiden Anies Baswedan menghadiri acara Ngariung 1000 Alumni ITB di Bandung, Minggu (1/10). Pada acara itu, Anies diminta para tokoh lulusan kampus itu untuk berkomitmen membangun industri berteknologi tinggi berbasis putra-putri terbaik bangsa.
"Kalau pak Anies jadi presiden, alumni kita bisa kerja. Kita mau industrialisasi bukan hilirisasi. Industri kita harus high teknologi. Tolong dipikirkan bahwa tidak ada bangsa yang besar tanpa dukungan moral, sains, dan teknologi,” tandas pengagas kegiatan Ngariung 1000 Alumni ITB, Syahganda Nainggolan dalam sambutannya di Badoengshe Melk Centrale 1928, Jalan Aceh, Kota Bandung.
Menurut Syahganda, acara ngariung ini tak lain sebagai upaya mempertemukan pemikiran profesor Alumni ITB dengan pemikiran Anies Baswedan.
"Ngariung pada hari ini adalah 1000 peserta dengan kualitas seperti Habibie. Tidak perlu puluhan ribu. Mereka otaknya ini seperti Habibie. Mereka ini bisa buat pesawat terbang dan bisa buat mobil terbang," kata Syahganda.
Para alumni ITB, lanjutnya, bisa membuat teknologi apapun. Ada yang membuat satelit, kendaran listrik dan teknologi lain yang dibutuhkan untuk masa depan.
Namun, lanjutnya, saat ini kita menatap masa depan yang suram. Karena industrialisasi sudah hancur. Banyak ilmuwan yang nganggur.
Baca Juga: Di Hadapan Ribuan Massa di Stadion Si Jalak Harupat, Anies Janjikan Prioritaskan Pembangunan Desa
"Udah tidak ada lagi industri. Karena impor mobil listrik. Termasuk TKA impor itu adalah penghinaan buat alumni ITB. Karena dianggap tidak ada yang bisa membangun industri di dalam negeri," ujarnya.
Sementara itu dalam pidatonya, Anies Baswedan mengatakan, bangsa ini harus mengembalikan agar ilmu pengetahuan dan sains menjadi panduan kita dalam mengambil keputusan.
"Penghormatan terhadap teori ilmu itu sudah turun. Ngapain teori banyakin praktik. Itu yang banyak kita dengar. Loh praktik itu harus didasarkan pada teori dong," ujar Anies.
Menurutnya, Pandemi Covid 19 adalah ujian piapa pemimpin yang memakai ilmu pengetahuan dan siapa yang menomorduakan sains dan terkologi. Seperti apa hasilnya. Apa mereka percaya teknologi dan metode ilmiah.
"Disitu kita mengambil keputusan saintifik yang bisa tidak populer atau jika hanya ingin populer tidak menggunakan ilmu pengetahuan sebagai basis kebijakan. Pandemi itu sebagai panggilan bahwa ilmu pengetahuan menjadi kompas. Bukan menurut selera pemegang kewenangan," paparnya.
Lebih jauh Anies mengatakan, prinsip keadilan adalah value kita yang pertama. Kedua, publik interest dan ketiga ilmu pengetahuan, sains teknologi dan yang keempat, baru regulasi. "Urutannya ada value dulu dan ilmu pengetahuan. Regulasi terakhir jangan dibalik," tandasnya.

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
