Logo JawaPos

Pengamat: Jika Salah Mengelola, Pasangan Anies-Muhaimin Bisa Kehilangan Suara Yang sangat Besar

Deklarasi pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar. - Image

Deklarasi pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.

JawaPos.com - Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar menjadi pasangan bakal calon presiden-bakal calon wakil presiden (bacapres-bacawapres) yang pertama dideklarasikan partai politik pengusung, Nasdem dan PKB.

Ke depannya pasangan itu menghadapi sejumlah agenda untuk menyampaikan visi dan misi ke seluruh rakyat Indonesia. Peneliti utama The Republic Institute Sufyanto mengibaratkan koalisi Nasdem-PKB sebagai pasangan yang jatuh hati pada pandangan sesaat. Sebab, Nasdem dan PKB telah bergabung dalam koalisi yang berbeda. Nasdem berada di naungan KPP, sedangkan PKB masih berada di bawah bendera KKIR.

Menurut dia, Nasdem mungkin telah menganalisis bahwa Anies memiliki kelemahan di Jatim dan Jateng yang menjadi basis massa NU. Dengan menggandeng Muhaimin, Nasdem berharap kelemahan itu bisa ditutupi.

Masalahnya, lanjut dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) itu, pemilih NU bukan pemilih Anies. Apalagi, pemilih NU bukan sepenuhnya pemilih PKB. Salah satu indikatornya, PKB bukan parpol pemenang pemilu di Jatim. Selain itu, hubungan pemimpin struktural NU terkesan tidak begitu harmonis dengan Muhaimin dan PKB.

"Problem-problem itu tentu menjadi tantangan tersendiri," katanya. Jika salah mengelola, lanjut Sufyanto, pasangan Anies-Muhaimin justru bisa kehilangan suara yang sangat besar.

Namun, dia juga menyebut bahwa Nasdem bisa saja mendapat keuntungan dari coat-tail effect atau efek ekor jas dengan mengusung Anies sebagai capres. Sebaliknya, PKB tidak akan mendapat limpahan suara dari pilpres.

The Republic Institute juga mengadakan survei untuk melihat dampak dari konflik internal KPP. Sufyanto menyebut, isu pengkhianatan yang diembuskan Demokrat bisa berdampak kurang baik bagi Anies. Para pemilih Anies yang tersebar di Jabar, DKI, dan Sumatera bisa saja berpikir ulang untuk mendukung Anies.

"Karena rata-rata mereka pemilih rasional dan terdidik," terangnya. Apalagi, beredar surat tulisan tangan Anies yang sempat meminang AHY sebagai bacawapres.

Sufyanto juga mengatakan, potensi golput di kalangan milenial bisa semakin tinggi. Sebab, konflik internal KPP bisa mengganggu kampanye pemilu menggembirakan yang selama ini digaungkan. "Ketika kalangan milenial menilai terjadi saling telikung dalam proses pendeklarasian Anies-Muhaimin, kampanye pemilu menggembirakan menjadi tidak efektif lagi untuk menarik milenial," jelasnya. (dho/idr/elo/c17/c7/oni)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore