Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Agustus 2023 | 13.14 WIB

Jika Airlangga Tak Jadi Cawapres Prabowo, Pemilih Partai Golkar Khawatir Tak Solid

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bersama Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhamimin Iskandar dan Ketum PAN Zulkifli Hasan saat mendeklarasikan dukungannya kepada Ketum Gerindra Prabowo Subianto sebagai Capres 2024 di - Image

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bersama Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhamimin Iskandar dan Ketum PAN Zulkifli Hasan saat mendeklarasikan dukungannya kepada Ketum Gerindra Prabowo Subianto sebagai Capres 2024 di

JawaPos.com - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar telah memutuskan mendukung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, sebagai bakal calon presiden (capres) untuk Pilpres 2024. Namun, Partai Golkar tetap akan mengusulkan Ketua Umum Airlangga Hartarto sebagai bakal calon wakil presiden (cawapres) untuk mendampingi Prabowo pada pesta demokrasi 2024.
 
Direktur Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menyatakan, wajar jika Partai Golkar mengusulkan Airlangga sebagai bakal cawapres. Sebab, berdasarkan hasil musyawarah nasional (Munas) Partai Golkar akan mengusulkan kader terbaiknya pada Pilpres 2024.
 
Adi menyebut, jika kader terbaik Partai Golkar tidak terpilih sebagai cawapres mendampingi Prabowo, dikhawatirkan dukungan parpol berlambang pohon beringin tidak akan solid.
 
 
"Saya kira setiap pemilu itu pasti ada split ya, sebagian dari voters mereka itu yang tidak tegak lurus dengan pilihan partainya itu terjadi pada semua parpol, tinggal memang seberapa banyak dan seberapa sedikit pemilih-pemilih yang split itu kelain hati ya," kata Adi dihubungi JawaPos.com, Kamis (17/8).
 
Adi mencontohkan, saat Pilpres 2014 Partai Golkar secara kelembagaan mendukung Prabowo Subianto sebagai capres. Namun, saat itu Prabowo tidak menunjuk kader Partai Golkar sebagai cawapres. Prabowo ketika itu berpasangan dengan Hatta Rajasa.
 
Tetapi disisi lain, Joko Widodo saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK) yang merupakan kader Partai Golkar. Karena itu, Adi khawatir jika Prabowo pada Pilpres 2024 tak memilih kader terbaik Golkar, akan muncul ketidaksolidan dukungan dari parpol berlambang pohon beringin.
 
 
"Sebagian besar ke Prabowo karena sesuai pilihan elite Golkar, tapi sebagian besar lainnya juga mendukung JK yang secara kepartaian tidak dukung, tapi basis pemilihnya memilih Jokowi dan JK," ungkap Adi.
 
Meski demikian, Adi mengutarakan keterbelahan basis pemilih hampir terjadi di semua partai politik. Tak terkecuali seperti PAN, PPP, PKB dan parpol poros perubahan.
 
"Kalau Golkar saya kira cukup berpengalaman, atau pun partai yang paling sering, dimana pilihan elite politiknya sering kali berbeda dengan pilihan gresroodnya, 2014 itu yang paling nyata," pungkas Adi.
Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore