Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 September 2022 | 03.05 WIB

Demokrat Mau Demo BBM, Adian Napitupulu Sekakmat Kondisi Era SBY

Suasana Pengisian BBM di SPBU Abdul Muis, Jakarta, Selasa (23/8/2022). Pemerintah berencana akan menaikan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat untuk mengurangi beban subsidi pemerintah. FOTO : FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS - Image

Suasana Pengisian BBM di SPBU Abdul Muis, Jakarta, Selasa (23/8/2022). Pemerintah berencana akan menaikan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat untuk mengurangi beban subsidi pemerintah. FOTO : FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

JawaPos.com - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Adian Napitupulu merespons keputusan Partai Demokrat yang membolehkan kadernya menggelar unjuk rasa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Dia membandingkan kenaikan harga BBM kali ini dengan kenaikan harga yang terjadi pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Adian mengatakan, pada era SBY total kenaikan harga BBM premium Rp 4.690, sementara di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) total kenaikan BBM jenis Premium/Pertalite Rp 3.500. SBY menaikkan BBM lebih mahal Rp 1.190 dari Jokowi. Kemudian pada era SBY upah minimum (contoh DKI Jakarta) Rp 2.200.000 untuk tahun 2013.

"Dengan BBM harga Rp 6.500 per liter maka upah satu bulan hanya dapat 338 liter per bulan. Di era Jokowi, hari ini, BBM Rp 10.000 tapi upah minimum Rp 4.641.000 per bulan. Dengan demikian maka di era Jokowi setiap bulan upah pekerja senilai dengan 464 liter BBM," kata Adian di Jakarta, Rabu (7/9).

"Jadi ada selisih kemampuan upah membeli BBM antara masa SBY dan Jokowi sebesar 126 liter," tambahnya.

Menurut Adian, pada era SBY masih ada mafia terorganisasi dan masif, yaitu Petral yang embrionya sudah ada sejak awal Orde Baru yaitu tahun 1969 dan beroperasi mulai 1971. Sedangkan pada era Jokowi Petral dibubarkan, tepatnya pada tahun 2015, atau hanya enam bulan setelah Jokowi dilantik.

Lebih jauh, Adian juga membandingkan pembangunan jalan tol sebagai salah satu infrastruktur penting dalam aktivitas ekonomi. "Di era SBY hanya mampu membangun 193 kilometer jalan tol, sedangkan di era Jokowi jalan tol yang dibangun hampir 10 kali lipat dari zaman SBY, yaitu 1.900 kilometer," jelasnya.

Dari perbandingan angka di atas, kata Adian, era SBY tidak lebih baik dari saat ini. "Saya menyarankan agar kader Demokrat untuk bisa belajar matematika dan belajar sejarah sehingga jika membandingkan maka perbandingan itu logis, tidak antilogika dan ahistoris," tutupnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore