
Suasana Pengisian BBM di SPBU Abdul Muis, Jakarta, Selasa (23/8/2022). Pemerintah berencana akan menaikan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat untuk mengurangi beban subsidi pemerintah. FOTO : FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS
JawaPos.com - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Adian Napitupulu merespons keputusan Partai Demokrat yang membolehkan kadernya menggelar unjuk rasa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Dia membandingkan kenaikan harga BBM kali ini dengan kenaikan harga yang terjadi pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Adian mengatakan, pada era SBY total kenaikan harga BBM premium Rp 4.690, sementara di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) total kenaikan BBM jenis Premium/Pertalite Rp 3.500. SBY menaikkan BBM lebih mahal Rp 1.190 dari Jokowi. Kemudian pada era SBY upah minimum (contoh DKI Jakarta) Rp 2.200.000 untuk tahun 2013.
"Dengan BBM harga Rp 6.500 per liter maka upah satu bulan hanya dapat 338 liter per bulan. Di era Jokowi, hari ini, BBM Rp 10.000 tapi upah minimum Rp 4.641.000 per bulan. Dengan demikian maka di era Jokowi setiap bulan upah pekerja senilai dengan 464 liter BBM," kata Adian di Jakarta, Rabu (7/9).
"Jadi ada selisih kemampuan upah membeli BBM antara masa SBY dan Jokowi sebesar 126 liter," tambahnya.
Menurut Adian, pada era SBY masih ada mafia terorganisasi dan masif, yaitu Petral yang embrionya sudah ada sejak awal Orde Baru yaitu tahun 1969 dan beroperasi mulai 1971. Sedangkan pada era Jokowi Petral dibubarkan, tepatnya pada tahun 2015, atau hanya enam bulan setelah Jokowi dilantik.
Lebih jauh, Adian juga membandingkan pembangunan jalan tol sebagai salah satu infrastruktur penting dalam aktivitas ekonomi. "Di era SBY hanya mampu membangun 193 kilometer jalan tol, sedangkan di era Jokowi jalan tol yang dibangun hampir 10 kali lipat dari zaman SBY, yaitu 1.900 kilometer," jelasnya.
Dari perbandingan angka di atas, kata Adian, era SBY tidak lebih baik dari saat ini. "Saya menyarankan agar kader Demokrat untuk bisa belajar matematika dan belajar sejarah sehingga jika membandingkan maka perbandingan itu logis, tidak antilogika dan ahistoris," tutupnya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
