
Wakil Ketua Badan Legislasi DPR Willy Aditya saat memimpin rapat kerja di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (27/4/2020). Baleg mendengarkan masukan dari Prof. Djisman Simanjuntak (Rektor Universitas Prasetya Mulya), Yose Rizal (CSIS) dan Sarman
JawaPos.com - Ketua DPP Partai Nasdem, Willy Aditya mempertanyakan data dari Menko Polhukam Mahfud MD yang menyebut 92 persen calon kepala daerah yang bertarung di Pilkada pasti dibiayai oleh pengusaha besar selaku pemilik modal alias cukong. Hal itu karena Mahfud MD tidak menjabarkan data yang dia terima tersebut dari mana sehingga Willy meragukannya.
"Tentu kita bertanya Prof Mahfud membuat statement itu berdasarkan asumsi atau ada hasil penelitian," ujar Willy kepada JawaPos.com, Sabtu (12/9).
Willy menambahkan, dengan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) mengungkapkan hal tersebut juga membuktikan dirinya tidak mempercayai terhadap demokrasi lima tahunan pemilihan kepala daerah tersebut.
"Kalau selaku Menko Polhukam memberikan asumsi seperti itu kemudian mempertanyakan demokrasi itu sendiri," katanya.
Anggota Komisi I DPR RI tersebut menambahkan, Mahfud MD tidak boleh hanya melihat satu sisi dari pesta demokrasi Pilkada tersebut. Karena ada sisi baiknya di mana kepala daerah langsung dipilih oleh masyarakat setempat.
"Jangan kemudian dihadapkan kepada sisi gelapnya. Toh, kita harus mempromosikan sisi terangnya. Satu hal yang terbuka memiliki dua sisi, sisi gelap dan terang," ungkapnya.
Sebelumnya, Mahfud MD menilai potensi korupsi di pemerintahan daerah masih terbuka cukup lebar. Menurutnya, sekitar 92 persen calon kepala daerah yang bertarung di Pilkada dibiayai oleh cukong. Kondisi tersebut akan berdampak pada saat calon tersebut berhasil menjadi kepala daerah. Dia akan membalas utang budi dengan membuat kebijakan yang menguntungkan bagi pemodalnya.
“Di mana-mana, calon-calon itu, 92 persen dibiayai oleh cukong dan sesudah terpilih, itu melahirkan korupsi kebijakan,” kata Mahfud dalam diskusi virtual bertajuk Memastikan Pilkada Sehat: Menjauhkan Covid-19 dan Korupsi.
Praktik semacam itu menurut Mahfud banyak ditemukan pada sistem pemilihan langsung. Sebab para calon membutuhkan dana besar untuk bisa berkampanye di daerah pemilihan.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=GbL6mhv3amE

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
