
Pilpres 2019
JawaPos.com - Menjelang hari pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden, koalisi parpol di barisan Prabowo Subianto mengalami 'kontraksi'. Hal itu akibat belum jelasnya siapa yang mendampingi ketua umum Partai Gerindra. Hal itu ditambah pula dengan tudingan Sandiaga Uno 'mengguyur' sejumlah parpol pendukung dengan uang senilai Rp 500 miliar.
Menurut Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli, sangat wajar jika koalisi partai penantang Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019 buyar karena tidak solid sejak awal.
Menurut dia, semua partai penantang Jokowi mengajukan syarat mendapat posisi cawapres Prabowo Subianto demi mengamankan perolehan suara partai politiknya masing-masing.
“Kubu penantang Jokowi ini enggak solid dari awal karena mereka takut kalah. Mereka sadar sulitnya mengalahkan Jokowi yang petahana,” kata Lili saat dalam keterangannya kepada JawaPos.com, Kamis (9/8).
Lili berpendapat, Partai Gerindra, PKS, PAN, dan Partai Demokrat sadar tidak memiliki figur yang mampu mengimbangi elektabilitas Jokowi. Hal itu membuat mereka membentuk koalisi sampai 'alot'.
“Kubu penantang pasti mikirnya, daripada kalah enggak dapat apa-apa, mending ngotot ngajuin figur untuk cawapres. Semua mengajukan nama, jadinya alot,” katanya.
Dengan mendapatkan posisi cawapres, imbuhnya, parpol berharap mendapat coattail effect alias efek ekor jas. Atau peningkatan perolehan suara pada Pileg 2019 demi memastikan partainya mendapat kursi di parlemen.
“Ini realistis dari pada pilpres kalah, terus partai enggak masuk parlemen, kan kayak sudah jatuh tertimpa tangga. Makanya mereka minta cawapres demi coattail effect,” ungkapnya.
Adapun mengenai kegaduhan yang disampaikan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief yang menuding Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai jenderal kardus karena tidak menepati kesepakatan politik dengan Demokrat, Lili menilai hal itu akan merugikan seluruh partai penantang Jokowi.
“Merugikan buat partai dan masyarakat. Ini menunjukkan ketidaksiapan koalisi penantang Jokowi dan membuktikan mereka hanya mengutamakan kepentingan partai, bukan gagasan kebangsaan,” pungkasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
