Anggota DPR Nihayatul Wafiroh. Susanti Sako/ANTARA
JawaPos.com - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh merasa prihatin atas peristiwa bayi dikubur hidup-hidup oleh orang tuanya di Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Menurutnya, peristiwa ini menggambarkan kompleksitas persoalan di pedesaan.
Rakyat tidak hanya dihadapkan kepada masalah kemiskinan, tetapi juga persoalan mental, psikologis, dan lemahnya sistem pendampingan keluarga. Alasan orang tua melakukan tindakan keji ini karena malu memiliki anak banyak menujukan kuatnya tekanan sosial dan minimnya pemahaman masyarakat terhadap pengasuhan, nilai kehidupan, dan pentingnya perencanaan keluarga.
“Pemerintah daerah tidak boleh menutup mata melihat fakta memilukan seperti ini. Ini bukan sekadar masalah hukum, tapi juga pendidikan parenting, pendekatan psikologis, dukungan keluarga, dan penguatan nilai di komunitas pedesaan," kata Nihayatul dalam keterangan tertulis, Sabtu (8/11).
Dia menilai, peristiwa ini harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat sosialisasi dan edukasi program Keluarga Berencana (KB). Masyarakat, terutama di wilayah pelosok harus mengetahui manfaat KB.
“KB bukan hanya soal menunda kehamilan, tapi juga tentang bagaimana keluarga mampu merencanakan masa depan anak-anaknya dengan sehat, bahagia, dan berdaya,” imbuhnya.
Sebagai bentuk keprihatinan, Nihayatul memerintahkan tim Nihayah Center mengirimkan bantuan sekaligus pendampingan psikologis dan pelatihan parenting dasar kepada keluarga korban. Menurutnya, keluarga tersebut tergolong kurang mampu dan sangat membutuhkan dukungan moral maupun sosial.
“Kami berharap kejadian serupa tidak lagi terulang, dan masyarakat di desa memiliki pemahaman serta keberanian untuk mencari bantuan bila menghadapi tekanan,” jelasnya.
Selain itu, Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa itu juga meminta Pemda dan instansi terkait seperti dinas sosial, dinas kesehatan, dan lembaga keagamaan untuk memperkuat sistem deteksi dini terhadap potensi kasus serupa.
“Saya berharap peristiwa tragis di Banyuwangi menjadi momentum bagi pemerintah untuk meninjau kembali pola pembinaan dan pendampingan keluarga di tingkat pedesaan, termasuk memperluas akses terhadap layanan KB dan konseling keluarga,” pungkasnya.
Sebelumnya, seorang ibu bernama Solehak, 33, warga Dusun Krajan, Desa Alasbulu, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, diduga mengubur bayinya hidup-hidup. Saat ini, Solehak telah menjalani pemeriksaan polisi dan telah ditetapkan sebagai tersangka.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
