Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Mei 2026 | 18.07 WIB

Kritik Pengamat terhadap Wacana Hapus Prodi yang Tak Terserap Industri, Residu Pemikiran Kolonial

Peneliti Nusantara Institut; Wakil Dekan FISIP UPNV Jakarta Azwar (kiri) hadir dalam podcast membahas mengenai polemik jurusan yang tidak porfit dalam industri di kantor Jawa Pos.com di Jakarta, Senin (04/05/2026). - Image

Peneliti Nusantara Institut; Wakil Dekan FISIP UPNV Jakarta Azwar (kiri) hadir dalam podcast membahas mengenai polemik jurusan yang tidak porfit dalam industri di kantor Jawa Pos.com di Jakarta, Senin (04/05/2026).

JawaPos.com – Wacana penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri mendapat kritik keras. Pemikiran itu dianggap residu pemikiran kolonial.

Menurut Peneliti Nusantara Institut, Azwar, pola pikir yang menempatkan perguruan tinggi hanya sebagai pemasok tenaga kerja industri merupakan residu pemikiran kolonial.

“Pola pikir yang mengatakan bahwa kampus harus menyuplai industri. Lulusan kampus itu harus diterima di industri. Ini adalah residu-residu dari pemikiran zaman kolonial,” kata Azwar dalam acara podcast Banyak Tanya di YouTube JawaPos TV, dikutip Kamis (7/5).

Adapun wacana itu sebelumnya sempat disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Badri Munir Sukoco.

Azwar mengatakan, pendidikan yang hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri sejatinya merupakan pola pendidikan warisan penjajahan.

Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) itu menerangkan, pada masa kolonial Belanda, pendidikan memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja penjajah, bukan untuk mencerdaskan masyarakat pribumi.

“Jadi pendidikan yang dianggap untuk memenuhi kebutuhan industri itu kan pola pikir penjajahan,” ucapnya.

Azwar menyinggung buku Asal-Usul Elite Minangkabau Modern karya Elizabeth Graves. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa setelah Belanda menang atas Kaum Paderi pada 1837, pemerintah kolonial mulai mendirikan banyak lembaga pendidikan modern di Minangkabau ( dulu Sumatera Tengah, kini Sumatera Barat). Tujuannya untuk menopang kebutuhan industri Belanda di Tanah Air.

“Mereka butuh SDM, tapi tidak mungkin mendatangkan tenaga kerja dari Eropa. Maka pilihannya adalah mendidik kaum pribumi untuk kebutuhan mereka,” jelasnya.

Dengan begitu, utama pendidikan saat itu adalah mencetak tenaga kerja untuk mendukung administrasi dan aktivitas ekonomi kolonial.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore