
Peneliti Nusantara Institut; Wakil Dekan FISIP UPNV Jakarta Azwar (kiri) hadir dalam podcast membahas mengenai polemik jurusan yang tidak porfit dalam industri di kantor Jawa Pos.com di Jakarta, Senin (04/05/2026).
JawaPos.com – Wacana penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri mendapat kritik keras. Pemikiran itu dianggap residu pemikiran kolonial.
Menurut Peneliti Nusantara Institut, Azwar, pola pikir yang menempatkan perguruan tinggi hanya sebagai pemasok tenaga kerja industri merupakan residu pemikiran kolonial.
“Pola pikir yang mengatakan bahwa kampus harus menyuplai industri. Lulusan kampus itu harus diterima di industri. Ini adalah residu-residu dari pemikiran zaman kolonial,” kata Azwar dalam acara podcast Banyak Tanya di YouTube JawaPos TV, dikutip Kamis (7/5).
Adapun wacana itu sebelumnya sempat disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Badri Munir Sukoco.
Azwar mengatakan, pendidikan yang hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri sejatinya merupakan pola pendidikan warisan penjajahan.
Baca Juga:Sidang Perkara Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, Penasihat Hukum 4 Terdakwa Hadirkan 3 Saksi Ahli
Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) itu menerangkan, pada masa kolonial Belanda, pendidikan memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja penjajah, bukan untuk mencerdaskan masyarakat pribumi.
“Jadi pendidikan yang dianggap untuk memenuhi kebutuhan industri itu kan pola pikir penjajahan,” ucapnya.
Azwar menyinggung buku Asal-Usul Elite Minangkabau Modern karya Elizabeth Graves. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa setelah Belanda menang atas Kaum Paderi pada 1837, pemerintah kolonial mulai mendirikan banyak lembaga pendidikan modern di Minangkabau ( dulu Sumatera Tengah, kini Sumatera Barat). Tujuannya untuk menopang kebutuhan industri Belanda di Tanah Air.
“Mereka butuh SDM, tapi tidak mungkin mendatangkan tenaga kerja dari Eropa. Maka pilihannya adalah mendidik kaum pribumi untuk kebutuhan mereka,” jelasnya.
Dengan begitu, utama pendidikan saat itu adalah mencetak tenaga kerja untuk mendukung administrasi dan aktivitas ekonomi kolonial.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
