Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 17 Agustus 2025 | 21.46 WIB

Kuliah di Perguruan Tinggi Islam, 397 Ribu Mahasiswa Berasal dari Keluarga Tidak Mampu Butuh Beasiswa

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno (tengah) bersama Menag Nasaruddin Umar (kiri) di Jakarta (16/8). (Hilmi/Jawa Pos) - Image

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno (tengah) bersama Menag Nasaruddin Umar (kiri) di Jakarta (16/8). (Hilmi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Jumlah mahasiswa di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) yang berasal dari keluarga miskin sangat banyak. Ada sebanyak 397 ribuan mahasiswa Kemenag yang penghasilan orang tua mereka kurang dari Rp 1 juta per bulan. Untuk bisa kuliah dengan nyaman, para mahasiswa itu sangat membutuhkan kucuran beasiswa. 

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno mengatakan, ada 397.495 orang mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Orang tua mereka berpenghasilan kurang dari Rp 1 juta per bulan. Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah 2024 yang hanya 27.857 orang.

Ada juga kelompok mahasiswa yang orang tua mereka penghasilan Rp 1 juta sampai Rp 2 Juta per bulan. Jumlahnya mencapai 353.583 orang. Lalu mahasiswa dengan penghasilan orang tua Rp 2 juta sampai Rp 4 juta per bulan ada 189.108 orang. Berikut mahasiswa dengan penghasilan orang tua Rp 4 juta sampai Rp 6 juta ada 44.317 orang. Terakhir adalah kelompok mahasiswa dengan penghasilan orang tua di atas Rp 6 juta per bulan 17.580 orang. 

Suyitno mengatakan, mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu masih banyak. Mereka harus diberikan bantuan beasiswa supaya bisa kuliah sampai selesai. Kemudian diharapkan jadi motor ekonomi di keluarga. 

Amien berharap Gerakan Wakaf Pendidikan Islam dapat menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan dan masyarakat luas. Wakaf pendidikan akan diarahkan pada pembangunan sarana prasarana, peningkatan kualitas SDM, serta pemberdayaan riset dan inovasi di lingkungan pendidikan Islam.

“Potensi zakat sangat besar di pendidikan Islam. Ada jumlah waqif (orang yang berwakaf) yang besar di Pendidikan Islam yang terdiri dari Peserta didik, Tenaga pendidikan (Tendik) dan non tendik," katanya. Selain itu ada 14 kampus PTKIN yang memiliki prodi manajemen zakat dan wakaf. Sehingga potensi ini yang akan sangat membantu keberhasilan program wakaf untuk umat.

Menurut Suyitno, gerakan wakaf itu juga dalam rangka menjalankan Instruksi Presiden Republik Indonesia 8/2025 Amanat untuk Kementerian Agama yaitu Mendorong Peran Badan Pengumpul Dana Umat Untuk Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem.

Sementara itu Menag Nasaruddin Umar menargetkan penghimpunan wakaf uang di kalangan pendidikan Islam bisa sampai Rp 1 triliun tiap tahun. Menurut Nasaruddin target tersebut bukan sebuah angka yang mustahil diraih. Pasalnya ekosistem Pendidikan Islam di bawah naungan Kemenag sangat besar. Mulai dari ASN Kemenag, murid dan guru di madrasah, mahasiswa di kampus keagamaan Islam negeri dan swasta, serta unit kerja Kemenag lainnya sampai tingkat kecamatan. 

Dia mengatakan wakaf uang atau wakaf tunai sifatnya produktif. Wakaf tunai bisa diinvestasikan, kemudian menghasilkan nilai manfaat. Inilah yang kemudian bisa didistribusikan kepada masyarakat miskin. Misalnya untuk beasiswa sekolah atau kuliah. Termasuk untuk membantu pembangunan madrasah yang layak. 

Nasaruddin menegaskan bahwa wakaf memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan pendidikan Islam. Menurutnya, pendidikan tidak hanya membutuhkan dukungan anggaran. Tetapi juga partisipasi publik melalui instrumen syariah yang produktif.

“Gerakan wakaf pendidikan Islam ini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan kemandirian madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi keagamaan Islam," kata dia. Nasaruddin ingin memastikan bahwa pendidikan Islam tidak hanya berkelanjutan. Tetapi juga semakin maju dan berdaya saing.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengatakan, Gerakan Wakaf Pendidikan Islam itu merupakan gerakan yang mulai dari diri sendiri dalam hal ini Kemenag. Dia bersyukur telah terjadi sinergi yang baik antara dua Direktorat Jenderal (Ditjen) di Kemenag, yaitu Ditjen Pendidikan Islam dan Ditjen Bimas Islam. "Sehingga jelas antara pengelolaan dan penerima wakaf-nya juga jelas," tutur Menag. (wan) 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore