Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Maret 2026 | 18.56 WIB

8 Kebiasaan Anak yang Dibesarkan oleh Orang Tua yang Tidak Pernah Kuliah Menurut Psikologi

seseorang yang dibesarkan oleh orang tua yang tidak pernah kuliah (Freepik/pressfoto) - Image

seseorang yang dibesarkan oleh orang tua yang tidak pernah kuliah (Freepik/pressfoto)



JawaPos.com - Dalam dunia kerja modern yang penuh persaingan, latar belakang keluarga sering kali membentuk cara seseorang berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Salah satu faktor yang menarik untuk dibahas adalah bagaimana seseorang yang dibesarkan oleh orang tua yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi membangun kebiasaan tertentu di lingkungan kerja.

Dalam psikologi perkembangan dan sosial, gagasan tentang habitus yang diperkenalkan oleh Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa lingkungan keluarga membentuk pola pikir, nilai, dan kebiasaan yang terbawa hingga dewasa. Artinya, bukan soal gelar orang tua, tetapi bagaimana kondisi tersebut membentuk karakter anak.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat delapan kebiasaan yang sering muncul di lingkungan kerja, berdasarkan perspektif psikologi.

1. Memiliki Etos Kerja yang Tinggi


Banyak individu dari latar belakang ini tumbuh dengan melihat orang tua bekerja keras secara fisik maupun emosional. Mereka belajar bahwa kerja adalah tanggung jawab, bukan sekadar pilihan.

Menurut teori social learning dari Albert Bandura, anak belajar melalui observasi. Ketika orang tua menunjukkan ketekunan dan daya tahan, anak cenderung meniru pola tersebut.

Di tempat kerja, ini terlihat dari:

Disiplin tinggi

Jarang mengeluh

Tahan tekanan

Mau lembur tanpa banyak protes

2. Sangat Menghargai Stabilitas Finansial


Karena mungkin tumbuh dalam kondisi ekonomi yang lebih menantang, mereka cenderung:

Menghindari risiko berlebihan

Menyukai pekerjaan dengan kepastian

Berorientasi pada keamanan jangka panjang

Psikologi kebutuhan seperti yang dijelaskan dalam hierarki kebutuhan Abraham Maslow menunjukkan bahwa kebutuhan akan keamanan menjadi prioritas utama sebelum aktualisasi diri.

Di kantor, ini bisa membuat mereka terlihat sangat realistis dan berhati-hati.

3. Cenderung Merasa Harus “Membuktikan Diri”

Sebagian orang dari latar belakang ini merasa harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa mereka kompeten.

Konsep growth mindset yang dipopulerkan oleh Carol Dweck menjelaskan bahwa individu yang percaya kemampuan bisa berkembang akan terus berusaha meningkatkan diri, terutama ketika merasa berasal dari titik awal yang “tidak diuntungkan”.

Di lingkungan kerja:

Mereka aktif mencari pelatihan

Tidak mudah puas

Haus validasi melalui prestasi

4. Praktis dan Solutif


Tanpa banyak teori di rumah, banyak dari mereka terbiasa dengan pendekatan langsung dan pragmatis.

Alih-alih terlalu lama berdiskusi, mereka cenderung bertanya:

“Apa solusi tercepat dan paling masuk akal?”

Ini membuat mereka efektif dalam pekerjaan operasional dan manajerial berbasis hasil.

5. Rendah Hati Namun Terkadang Minder


Di satu sisi, mereka sering rendah hati dan tidak merasa paling tahu.
Di sisi lain, dalam situasi tertentu (misalnya di lingkungan kerja elit), bisa muncul imposter syndrome.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Pauline Clance untuk menggambarkan perasaan tidak pantas atas pencapaian diri.

Di kantor, ini bisa terlihat seperti:

Enggan berbicara di rapat

Takut dianggap tidak cukup pintar

Terlalu keras mengkritik diri sendiri

6. Sangat Menghargai Pendidikan dan Pembelajaran

Menariknya, justru karena orang tua tidak kuliah, sebagian dari mereka sangat menghargai pendidikan.

Mereka mungkin:

Mengambil kursus tambahan

Mengejar sertifikasi

Rajin membaca atau belajar mandiri

Motivasi ini sering bersifat internal: keinginan untuk “memutus rantai” keterbatasan generasi sebelumnya.

7. Peka terhadap Hierarki dan Otoritas


Karena dibesarkan dalam struktur keluarga yang mungkin lebih tradisional, mereka cenderung:

Menghormati atasan

Menghindari konflik terbuka

Tidak mudah menentang keputusan pimpinan

Namun dalam organisasi modern yang kolaboratif, kebiasaan ini kadang membuat mereka kurang asertif.

8. Memiliki Mentalitas Bertahan (Survival Mentality)


Jika sejak kecil terbiasa menghadapi keterbatasan, mereka mengembangkan ketahanan mental.

Konsep grit yang diteliti oleh Angela Duckworth menggambarkan kombinasi ketekunan dan konsistensi jangka panjang terhadap tujuan.

Di tempat kerja:

Mereka tidak mudah menyerah

Tahan kritik

Tetap fokus meski proses lambat

Penutup: Bukan Tentang Gelar, Tapi Pola Asuh dan Nilai


Penting untuk ditekankan bahwa tidak semua orang dengan latar belakang ini memiliki kebiasaan yang sama. Psikologi tidak melihat pendidikan orang tua sebagai faktor tunggal, melainkan bagian dari ekosistem sosial yang membentuk individu.

Seperti dijelaskan dalam teori perkembangan oleh Urie Bronfenbrenner, manusia berkembang dalam sistem yang saling terkait — keluarga, sekolah, lingkungan sosial, dan budaya.

Pada akhirnya, latar belakang bukanlah batasan. Ia adalah konteks. Dan konteks bisa menjadi sumber kekuatan jika disadari dan dikelola dengan baik.
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore