
Pelaksana Harian (Plh.) Direktur Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional Universitas Indonesia (UI) Emir Chairullah. (Antara)
JawaPos.com – Geliat perguruan tinggi asing membuka cabang di Indonesia kian terasa. Fenomena ini tak bisa dianggap sepele, mengingat dampaknya bisa langsung dirasakan oleh kampus-kampus dalam negeri.
Di satu sisi, kehadiran kampus asing bisa menjadi pelecut bagi perguruan tinggi nasional untuk berbenah. Namun di sisi lain, ada potensi persaingan yang perlu diantisipasi, termasuk soal devisa yang bisa keluar dari Indonesia.
Plh Direktur Humas Media, Pemerintah, dan Internasional Universitas Indonesia (UI), Emir Chairullah, menyampaikan kekhawatirannya. Menurutnya, mahasiswa dari kalangan menengah ke atas bisa saja beralih memilih kampus asing yang hadir langsung di dalam negeri.
“Itu lah kita sebagai kampus lokal perlu juga mewaspadai kedatangan kampus-kampus asing ini. Apalagi pendanaan mereka kan kuat ya, terhitung kuat,” ujarnya, Sabtu (14/6).
Emir menilai, dari sisi tenaga pengajar, kampus lokal sebenarnya tidak kalah dibandingkan dengan kampus asing. Pernyataan itu disampaikannya berdasarkan pengalaman pribadi saat menempuh pendidikan S2 di University of Auckland, Selandia Baru, dan S3 di University of Queensland, Australia.
“Hanya mungkin fasilitas yang kita mungkin agak kepayahan saat ini ya,” ungkapnya.
UI sendiri kini tengah menyiapkan langkah strategis menghadapi kehadiran kampus asing. Salah satunya adalah menggencarkan program double degree dengan mitra kampus luar negeri.
Lewat program ini, mahasiswa menempuh sebagian studi di UI dan melanjutkan sisanya di kampus mitra. Skema ini diharapkan bisa menekan potensi devisa sepenuhnya keluar negeri.
“Supaya tidak semua devisa langsung ke kampus-kampus asing (yang membuka cabang di Indonesia, red) itu. Kalau masuk ke sana, kan berarti otomatis devisanya lari ke kampus asing itu,” jelas Emir.
Dalam konteks ini, ia juga berharap negara bisa hadir secara penuh dalam mendukung perguruan tinggi nasional. Terlebih, kampus saat ini tak bisa lagi hanya bergantung pada uang kuliah tunggal (UKT).
Emir mencontohkan Harvard University di Amerika Serikat, yang meskipun berstatus swasta, tetap menerima dukungan dari pemerintah. Hal serupa juga diterapkan di Tiongkok terhadap Tsinghua University.
“Itu negara yang investasi. Bukannya kampus suruh berlari sendiri. UKT dilarang naik. Tapi kemudian negaranya tidak mau ikutan dalam ngasih investasi,” katanya.
Sejauh ini, sedikitnya empat kampus asing telah resmi membuka cabang di Indonesia. Di antaranya Monash University di BSD, Banten; Western Sydney University di Surabaya; Deakin-Lancaster University di Bandung; dan King’s College London di Malang.
Daftar ini masih bisa bertambah. Baru-baru ini, Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Utusan Khusus Perdana Menteri Inggris untuk Pendidikan, Sir Steve Smith, serta Dubes Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey.
Dalam rombongan tersebut turut hadir perwakilan dari Russel Group, jaringan universitas elite di Britania Raya. Mereka dikabarkan tertarik menjajaki pembukaan kampus di Indonesia.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
