Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Mei 2024 | 00.57 WIB

Merevolusi Diri menjadi Versi Terbaik Adalah Kunci, Guru Tak Butuh Elitisme untuk Membuat Dirinya Bermartabat

Founder Komunitas GSM, Muhammad Nur Rizal. (Istimewa)

JawaPos.com - Memilih kata 'revolusi', alih-alih transformasi, sebagai metode perubahan bukanlah tanpa alasan. Revolusi diartikan sebagai perubahan mendasar dari akar rumput, sementara transformasi merupakan perubahan mendasar yang dilakukan dari atas menggunakan kekuatan politik.

Berangkat dari definisi ini, Komunitas GSM Jawa Timur mengajak perubahan mendasar dari diri sendiri yang berkembang menjadi kelompok, lalu menjadi komunitas dan membesar menjadi kekuatan akar rumput layaknya tokoh-tokoh perjuangan dari Surabaya, seperti HOS Tjokroaminoto, Cak Durasim, dan lain-lain.

Hal ini disampaikan Komunitas GSM Jawa Timur saat menjadi tuan rumah Ngkaji Pendidikan bersama Founder GSM, Muhammad Nur Rizal yang kembali digelar belum lama ini, yakni 25 Mei 2024 yang bertempat di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya.

Tema yang dibawakan adalah Revolusi Guru Indonesia.

“Dari akar katanya pada Bahasa Sanskerta, guru itu terdiri atas Gu dan Ru. Gu itu gelap dan Ru itu pemusnah. Jadi, maknanya adalah pemusnah kegelapan yang tidak hanya membawa jalan terang, tetapi juga harus memusnahkan kegelapan yang dimanifestasikan sebagai kebodohan dan ketidakberdayaan,” ungkap Muhammad Nur Rizal dalam keterangan tertulis yang diterima.

“Dimensi fisiknya, guru mungkin mengajarkan jalan-jalan kehidupan yang baik bagi manusia, tetapi dimensi spiritualnya, guru mengajarkan jalan-jalan bagi manusia untuk mengetahui siapa dirinya, kelemahan dan kelebihan, asal-usul, dan ke mana hidup manusia akan menuju. Definisi guru tidak hanya disempitkan pada pengajar di ruang kelas, tetapi juga guru di alam kehidupan dalam rupa orang tua, budayawan, sastrawan, dan seniman,” tambah Rizal.

Setelahnya, Rizal membahas tentang bagaimana tereduksinya makna & marwah seorang guru di Indonesia dari masa ke masa. "Dimulai dari guru zaman kolonialisme yang berhasil membentuk sifat idealis, tegas, dan keras, lalu, Orde Lama yang pusat pengajarannya ada pada karakter, moral, dan nilai-nilai, Orde Baru yang pekat akan unsur feodalisme, disusul oleh zaman reformasi yang menuai anggapan bahwa insentif bagi guru tidak sejalan dengan kualitas yang ditunjukkan," katanya.

"Hingga masa yang sedang kita alami, yaitu era teknologi dan internet yang justru semakin menjauhkan Guru dari marwahnya, guru seolah hanya sekedar menjadi budak teknologi," sambungnya. 

Rizal melanjutkan, dalam pemaparannya, di masa depan seorang guru, budayawan, seniman, bahkan filsuf sangat mungkin menjadi budak industri farmasi yang disedot pengalaman batinnya lalu dipetakan oleh kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI).

Dengan algoritmanya, kata Rizal, AI akan bisa merancang senyawa kimia yang dapat menstimulasi otak untuk mengeluarkan senyawa kimia tertentu, sehingga manusia dapat merasakan sensasi yang sama seperti ketika para seniman, budayawan, guru, dan filsuf sedang mengekspresikan keindahan berbagai hasil kebudayaan dan pemikirannya, seperti karya sastra, buku, jurnal, musik dan alat kesenian lainnya.

"Sehingga di masa depan, manusia tidak perlu membaca buku ilmu pengetahuan, cukup minum obat, maka manusia akan langsung bisa merasakan apa yang dialami Einstein saat melakukan eksperimen atau riset. Inilah yang membuat para seniman, budayawan, guru, dan filsuf di masa depan berpotensi mengalami kepunahan," ujarnya. 

"Masihkah ada yang tersisa dari peran guru, filsuf atau budayawan ketika AI bisa menghancurleburkan peran mereka dalam sekejap? Apakah kita biarkan saja keadaan ini, atau kita merevolusi diri kita menjadi manusia yang lebih berakal dan berdaulat untuk tidak diperalat oleh teknologi AI?" lanjutnya.

Ubermensch menurut Nietzsche adalah manusia ningrat, bukan priyayi. Sedikit, tapi istimewa. Tidak banyak, seperti orang kerumunan. Istimewanya karena memiliki nilai hidupnya sendiri yang dipandu oleh kebenaran dan kebaikan, sehingga Ia bisa menjadi versi terbaik dirinya. Maka, kata Ki Hadjar Dewantara, hakikat pendidikan itu bukan mengajar anak supaya pintar, tetapi menyadarkan anak untuk merasa belum cukup dengan pengetahuannya,” ajak Rizal.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore