Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Mei 2025 | 04.57 WIB

Wamendikti Saintek Fauzan Sebut Kecurangan dalam SNPMB Sudah Lama dan Sistemik, Fakultas Kedokteran Paling Banyak Joki-nya

Peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer- Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK-SNBT). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com). - Image

Peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer- Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK-SNBT). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com).

JawaPos.com – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, Dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Fauzan angkat bicara soal banyaknya tindak kecurangan dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri, jalur seleksi nasional berbasis tes (SNBT) 2025. Ia mengaku prihatin atas kondisi yang terjadi. 

Fauzan mengungkapkan, upaya kecurangan ini sebetulnya tidak hanya terjadi saat ini. Tapi sudah sejak lama. 

Sejumlah upaya pun telah dilakukan oleh panitia seleksi, termasuk tim dari perguruan tinggi. Namun sayangnya, kecurangan yang terjadi semakin canggih dan terstruktur.

“Sebenarnya diharapkan beralih dengan (tes menggunakan) teknologi ini kan akan bisa meminimalisasi, tapi ternyata mereka itu jauh lebih canggih, itu kenyataannya,” tutur Fauzan ditemui usai rapat di Kantor Kemenko PMK baru-baru ini. 

Diakuinya, sejak dulu, kasus perjokian ini paling banyak digunakan untuk mereka yang ingin masuk fakultas kedokteran. Yang mana, ternyata dalam ujian tulis berbasis komputer (UTBK) SNBT 2025 pun masih sama. Mayoritas dari pelaku kecurangan memilih program studi fakultas kedokteran seperti yang dibeberkan tim panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) sebelumnya. 

“Saya ingat betul waktu di 2013, kami waktu itu rektor UMM Malang, khususnya kalau di swasta yang diserang joki itu kan kedokteran. Lalu, kami menemukan alat bantu komunikasi di telinga, kamera di kancing,” kenangnya. 

Menurutnya, kecurangan ini sistemik. Sebab, ada sindikatnya. Dalam operasinya, mereka bahkan menerapkan kelas-kelas yang bisa diikuti dengan tarif yang berbeda-beda. Ada kelas VVIP, bisnis, hingga ekonomi.

“Saya yakin itu tidak hanya sekadar tes mahasiswa baru. Tapi untuk tes-tes yang prestige itu pasti ada. Saya bisa memastikan itu,” keluhnya.

Dia pun menyayangkan aksi ini masih terjadi. Padahal, tujuan dari seleksi ini adalah untuk menjaring calon mahasiswa yang terbaik dengan cara yang jujur. 

Sementara itu, Pengamat Pendidikan Totok Amin Soefijanto menilai, kecurangan dalam tes masuk seperti di UTBK-SNBT ini merupakan simptom atau tanda semakin rendahnya integritas. Banyaknya tindakan korupsi atau sikap korup di masyarakat seolah-olah membuat laku curang itu normal, dimaklumi, dan akhirnya jadi budaya. 

“Anak didik kita melihat dan mengalami hal itu, entah dari orangtua atau orang dewasa di sekitarnya, akhirnya tidak risih juga untuk curang,” ungkapnya. 

Sementara, mengenai jumlah kecurangan paling banyak untuk masuk Fakultas Kedokteran, Totok justru beranggapan itu sebenarnya sikap rasional para peserta tes. Yang mana makin mahal biaya kuliah, makin sulit tesnya, maka makin canggih kecurangannya. Yang tentu saja hal ini tidak dibenarkan.

Oleh karenanya, dia berharap, semua pihak bisa bergotong royong untuk memperbaiki masalah integritas ini. Termasuk, memberikan sanksi berat untuk pelaku sehingga bisa menimbulkan efek jera. 

“Kita semua perlu introspeksi diri untuk memperbaiki masalah integritas ini dengan menghukum berat para pelanggarnya dan menerapkan zero tolerance ke tindak curang dalam tes masuk,” tegasnya. 

Pada bagian lain, Ketua Tim Penanggung Jawab Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) Eduart Wolok, menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan yang terjadi dalam pengungkapan identitas salah satu joki di UTBK-SNBT. Yang mana, untuk nama joki Healthy Febriana Jessica terdapat kesalahan pemasangan foto pelaku. 

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore