Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 Maret 2025 | 06.07 WIB

Lima Kampus UIN Buka FK, Teranyar UIN Sunan Ampel Surabaya, Kemenag Minta Tak Sekadar Cetak Dokter

Jumlah kampus di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) yang membuka Fakultas Kedokteran (FK) semakin banyak. (UIN) - Image

Jumlah kampus di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) yang membuka Fakultas Kedokteran (FK) semakin banyak. (UIN)

JawaPos.com - Jumlah kampus di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) yang membuka Fakultas Kedokteran (FK) semakin banyak. Yang terbaru, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya menyusul empat UIN lainnya yang lebih dahulu membuka FK.

Kemenag meminta kampus-kampus UIN yang membuka FK, tidak sekadar mencetak dokter profesional semata. Tetapi juga mempunyai pemahaman keilmuan yang kuat.

Selain di UIN Sunan Ampel Surabaya, kampus Kemenag lain yang memiliki FK adalah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Alauddin Makassar, dan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag Prof. Sahiron mengatakan, kajian Islam dan Sains, khususnya di Fakultas Kedokteran sangat penting. Untuk menuju paradigma yang holistik sebagai ciri khas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Pesan tersebut dikupas dalam Public Discussion Series IKRAR PTKI Seri ke-8, yang digelar Kamis (27/3). Secara khusus mengupas integrasi Ilmu Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Nilai-nilai Keislaman ke dalam Kurikulum Kedokteran atau medis serta Kesehatan di lingkungan PTKI.

Sahiron mengatakan, integrasi Islam dan Sains, terutama dalam konteks kedokteran dan Kesehatan masyarakat menjadi perhatian serius mereka. Terutama dalam memperkuat distingsi antara kedokteran PTKI dengan PTU.

Dia mengatakan, di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan ada mata kuliah terkait kajian Al-Qur'an, Hadis, ada pula Thibbun Nabawi. "Bagaimana relevansinya dengan perkembangan tren kedokteran dan Kesehatan saat ini? terutama untuk menjawab pertanyaan mendasar, apa perbedaannya di PTKI dengan PTU? ini pertanyaan mendasar yang harus dijawab dan dicarikan solusi," tutur Sahiron.

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta itu menegaskan, pentingnya tetap menjaga dan memperkuat materi Keislaman pada Fakultas Kedokteran dan Kesehatan. Di sisi lain tidak menambah beban mata kuliah bagi mahasiswa.

Untuk itu, mereka mendorong pentingnya untuk terus mengkaji model integrasi Islam dan Sains pada konteks ini. Baik dari sisi kebijakan maupun dari sisis epistimologi.

"Satu sisi, ada tradisi kedokteran modern. Tetapi di sisi lain ada tradisi kedokteran dalam tradisi keilmuan klasik," katanya.

Dia mencontohkan ada beberapa tokoh dan ahli kedokteran muslim. Beberapa diantaranya menghasilkan karya dalam bidang kedokteran seperti Al-Qonun Fi Al-Thibb karya Ibnu Sina, kemudian Arrohmah fi Thibb wa Al-Hikmah karya Jalaluddin Assyuyuthi.

"Nah, ini yang harus terus dikaji untuk menemukan cara integrasinya," tambah Sahiron.

Pelopor Integrasi Heremeneutika dan Al-Qur'an itu menjelaskan, diantara tantangan yang harus dijawab yakni bagaimana mengintegrasikan tradisi kedokteran modern dengan sisi spiritualitas keagamaan. Hal ini lantaran masih minimnya tenaga pengajar maupun dokter yang berlatar belakang memiliki pengetahuan pesantren dengan kitab kuningnya.

"Jadi, yang kita butuhkan ke depan, bukan sekadar mencetak dokter kontemporer. Tetapi juga dokter yang mampu menguasai ilmu kedokteran keIslaman melalui karya-karya ulama klasik," katanya.

Misalnya, dalam kitab Al-Suyuthi, ada tekhnik pengobatan secara medis kontemporer, tetapi dikombinasikan dengan sisi spiritualitas. Baginya kombinasi itu menarik dan memiliki daya tawar lebih.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore