
Bedah Buku Gerak Jakarta: Sejarah Ruang-Ruang Hidup memperingati Hari Ulang Tahun ke-63 PT Pembangunan Jaya di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, Kamis (24/10). (Istimewa)
JawaPos.com–Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) menggelar bedah buku Gerak Jakarta: Sejarah Ruang-Ruang Hidup. Acara itu memperingati Hari Ulang Tahun ke-63 PT Pembangunan Jaya. Acara diselenggarakan di Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan, Gedung Arsip Nasional, untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai sejarah dan perkembangan infrastruktur Kota Jakarta dari abad ke-5 hingga saat ini.
Buku Gerak Jakarta: Sejarah Ruang-Ruang Hidup terdiri atas tiga volume. Buku ini mengisahkan perjalanan pembangunan Jakarta, sejak masa Sunda Kelapa, Batavia, hingga transformasi menjadi megapolitan saat ini.
Gedung Arsip Nasional RI, sebagai lokasi penyelenggaraan, dipilih karena merupakan bangunan cagar budaya di kawasan Jalan Gajah Mada yang menjadi saksi sejarah perjalanan pembangunan Jakarta. Sekaligus simbol penting dari semangat pelestarian memori kolektif kota.
”Bedah buku ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran akan sejarah dan tantangan yang dihadapi Jakarta. Melalui kolaborasi antara pelestarian sejarah dan inovasi pembangunan, kita dapat menemukan solusi yang inklusif dan berkelanjutan bagi masa depan kota,” ujar Rektor Universitas Pembangunan Jaya Ir. Yudi Samyudia.
Diskusi bedah buku tersebut mengangkat dua isu krusial yang dihadapi Jakarta, yaitu tata kelola air serta permukiman dan transportasi.
Akademisi dari ITB Prof. Ir. Muhammad Syahril B. Kusuma, Ph.D menjelaskan, masalah tata kelola air, termasuk banjir, kelangkaan air baku, dan penurunan muka tanah sebetulnya dapat dimitigasi. Yakni melalui tampungan air atau waduk warga yang memanfaatkan tanah-tanah milik pemerintah. Dibutuhkan koordinasi lintas departemen atau institusi yang baik.
”Penyelesaian masalah air juga perlu dimulai dengan awareness, mengakui dan menyadari adanya masalah tersebut, dan willingness, kemauan dari pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut. Apa pun solusinya, hal tersebut tidak boleh menyulitkan warga di kemudian hari,” ujar Muhammad Syahril B. Kusuma.
Herb Faith Indonesia Engagement Centre, Monash University Miya Irawati, Ph.D mengatakan, pembangunan seharusnya mengarah pada masalah regenerasi kota dan Transit Oriented Development (TOD). TOD dapat menjadi solusi untuk penyediaan permukiman yang lebih efektif dan efisien untuk sebuah kota yang lebih nyaman, selama terdapat monitoring dan evaluasi terkait pengaturan, pengelolaan, dan perimbangan kelas sosial dan ekonomi.
”Pengembangan TOD juga dapat berperan untuk mengembalikan penduduk ke dalam kota. Masalah kesulitan lahan sebetulnya berakar pada koordinasi antar lembaga atau instansi pemerintah pemilik lahan yang harusnya saling terintegrasi untuk memenuhi kebutuhan perumahan rakyat,” ujar Miya Irawati.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
