Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 26 Agustus 2024 | 13.00 WIB

EduVate 2024: Gali Kekuatan Pembelajaran Inovatif dan Terapkan AI Generatif untuk Pendidikan Tinggi

Monash University, Indonesia, bersama dengan Monash University Malaysia serta Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) IV Jawa Barat dan Banten, menggelar acara EduVate 2024. (Istimewa) - Image

Monash University, Indonesia, bersama dengan Monash University Malaysia serta Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) IV Jawa Barat dan Banten, menggelar acara EduVate 2024. (Istimewa)

JawaPos.com-Monash University, Indonesia, bersama dengan Monash University Malaysia serta Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) IV Jawa Barat dan Banten, menggelar acara EduVate 2024 pada 19-21 Agustus dengan tema ‘Learning and Teaching Innovation Showcase in Higher Education’.

Ajang ini dihadiri oleh lebih dari 200 partisipan yang melibatkan akademisi dan tokoh terkemuka untuk membahas berbagai isu dan tren, serta solusi inovatif yang akan menjadi penentu masa depan perguruan tinggi, termasuk dampak dari perkembangan AI generatif.

Acara ini merupakan bagian dari inisiatif lebih luas yang dirancang untuk menawarkan
pengalaman pendidikan tinggi yang unik dan transformatif bagi para mahasiswa dan pembuat
perubahan (changemaker), terutama dari berbagai mitra universitas yang baru bergabung dalam aliansi strategis yang digagas oleh Monash University, Indonesia.

Profesor Matthew Nicholson, Pro Vice-Chancellor & President, Monash University, Indonesia, menekankan pentingnya pendidikan tinggi beradaptasi dengan lanskap yang berkembang pesat. “Acara EduVate ini dirancang untuk menampilkan pendekatan strategis dan mendalam dalam mengintegrasikan pembelajaran inovatif di tingkat pendidikan tinggi, yang diharapkan membuka jalan bagi keunggulan akademik dan penelitian,” ujar Profesor Matthew dalam sambutan dalam acara EduVate 2024.

Samsuri, Kepala LLDIKTI IV Jawa Barat dan Banten, menyampaikan sentimen senada. “EduVate 2024 sejalan dengan misi LLDIKTI IV untuk membina kolaborasi antar institusi pendidikan tinggi. Acara ini menunjukkan bagaimana masa depan pendidikan terletak pada kolaborasi, inovasi, dan komitmen terhadap proses pembelajaran yang berkesinambungan, memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal di lanskap yang terus berubah ini," terangnya.

Diskusi ini menampilkan wawasan dari sejumlah tokoh terkemuka, termasuk Najelaa Shihab, psikolog, pendidik, serta pendiri Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK); Salman Subakat, CEO NSEI Paragon Corp; Itje Chodidjah, Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO; Melissa Wong, Senior Education Designer, Monash University Malaysia; dan Profesor Alex Lechner, VFFWakil Presiden Riset, Monash University, Indonesia.

Dalam sambutannya, pendidik terkemuka Najelaa Shihab menyoroti sejumlah elemen penting
yang perlu menjadi perhatian akademisi agar bisa unggul dan memberikan dampak signifikan
pada mahasiswa mereka. Terdapat empat elemen kunci yang memerlukan dukungan dari para
pemangku kepentingan pendidikan tinggi, yakni Kompetensi, Kemerdekaan, Kolaborasi, dan
Karier.

Turut berbicara di EduVate, Salman Subakat, CEO
NSEI (Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute) Paragon Corp. Dia menekankan peran penting kolaborasi akademik-industri dalam mempersiapkan tenaga kerja menghadapi tantangan masa depan.
“Dengan mengintegrasikan perjalanan 39 tahun Paragon sebagai perusahaan kosmetik terkemuka di Indonesia dan keunggulan riset Monash University—seperti dalam inovasi bioteknologi kami dapat membangun kemitraan yang kuat. Kolaborasi ini sangat penting untuk membuka peluang terciptanya program bersama,” tambah Salman.

Sementara itu, Itje Chodidjah, Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, menyoroti sejumlah strategi bagi akademisi di pendidikan tinggi Indonesia untuk terus eksis dan relevan di
bidang yang mereka tekuni. “Penting mengintegrasikan teknologi dalam mendukung terciptanya lingkungan belajar yang responsif terhadap kebutuhan mahasiswa yang unik, memastikan perangkat digital benar-benar mendukung kegiatan dan hasil akademis," urainya. 

Melangkah ke depan bersama AI: Menuju pendidikan tinggi yang adil dan inklusif

AI generatif siap merevolusi sejumlah lapangan kerja beberapa tahun mendatang. Survei Global McKinsey terbaru mengenai AI mengungkapkan bahwa tiga perempat responden memperkirakan AI generatif akan membawa perubahan signifikan atau disruptif terhadap industri mereka dalam waktu dekat. Pergeseran ini menimbulkan perdebatan seputar keterampilan yang dibutuhkan dalam merespon AI, serta bagaimana pendidikan tinggi tetap terdepan dalam revolusi AI. Berbagai pertanyaan mendesak ini juga menjadi inti dari diskusi yang berlangsung di EduVate 2024.

Acara ini menyoroti bagaimana AI generatif dapat mendobrak hambatan tradisional dalam pendidikan tinggi, membuka jalan bagi masa depan dengan memperluas akses terhadap pembelajaran yang dipersonalisasi. “AI tidak akan menggantikan kecerdasan manusia. Sebaliknya, teknologi ini akan
menggarisbawahi pentingnya keterampilan dasar seperti berpikir kritis, problem-solving, dan
kreativitas dalam menghadapi potensi bias dan keterbatasan yang mungkin timbul oleh AI.”
Ucap Profesor Matthew.

Monash University, Indonesia sendiri telah memanfaatkan visualisasi data berbasis AI dalam
aplikasi dunia nyata, seperti kerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) untuk memantau ujaran kebencian pada Pemilu 2024. Pendekatan dan kolaborasi inovatif ini direncanakan akan diterapkan kembali pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore