Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Januari 2022 | 16.48 WIB

Gunakan Kurikulum 13 Secara Full Jadi Penyebab Learning Loss Terbesar

KONSENTRASI: Siswa SMA Labschool Unesa mengikuti pembelajaran tatap muka di Jalan Citra Raya, Lakarsantri, Kamis (24/12). Sekolah diharapkan siap menerapkan kurikulum baru. (Riana Setiawan/Jawa Pos) - Image

KONSENTRASI: Siswa SMA Labschool Unesa mengikuti pembelajaran tatap muka di Jalan Citra Raya, Lakarsantri, Kamis (24/12). Sekolah diharapkan siap menerapkan kurikulum baru. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pandemi Covid-19 memaksa perubahan pada seluruh sektor, termasuk pendidikan. Untuk itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) melakukan penyederhanaan terhadap Kurikulum 2013 yang menitikberatkan materi esensial saja.

Adapun, hal itu dilakukan guna mendorong capaian pembelajaran yang maksimal ditengah pandemi. Namun karena bersifat opsional, tidak semua sekolah menerapkan kurikulum yang disederhanakan tersebut.

Koordinator Pengembang Kurikulum, Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikbudristek Yogi Anggraena pun menyebut bahwa hal itu yang menjadi biang dari terjadinya learning loss.

Ia mengungkapkan, selama pandemi masih ada 59,2 persen sekolah yang menjalankan Kurikulum 2013 secara penuh. Sementara, yang menggunakan Kurikulum 2013 yang disederhanakan sebanyak 31,5 persen dan penyederhanaan kurikulum secara mandiri ada 8,9 persen.

"Sekolah yang pakai opsi satu (Kurikulum 2013) itu belum tentu selaras dengan apa yang dicapai oleh siswa, memberikan materi full, tapi yang diperoleh itu sedikit, makanya terjadi kehilangan pembelajaran," kata dia dalam webinar dikutip, Senin (10/1).

Menurutnya, menggunakan Kurikulum 2013 secara penuh di kondisi pandemi merupakan satu hal yang tidak efektif. Pasalnya, waktu belajar sudah berkurang, namun materi tetap dipaksa untuk diberikan seolah waktu belajar tidak terbatas seperti masa sebelum pandemi.

"Padahal waktu sudah jauh berkurang dan interaksi berkurang, bukannya siswa paham, malah ini memperparah ketertinggalan siswa kita," tuturnya.

Sementara yang menggunakan opsi kedua, yakni Kurikulum 2013 yang disederhanakan, capaian belajarannya jauh lebih baik. Kata dia, para siswa mendapat kompetensi yang diharapkan.

"Ini sudah kita teliti pada berbagai karakteristik, jadi bukan kita lakukan hanya kelompok yang memiliki fasilitas tinggi saja. Capaian-capaian yang fokus ke esensial raihan pembelajaranya jadi lebih baik," tutup Yoga.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore