
seseorang yang memutus hubungan dengan anak./Magnific/namii9
JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak sering dianggap sebagai ikatan yang akan bertahan seumur hidup. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ketika anak telah tumbuh dewasa, hubungan tersebut dapat mengalami perubahan besar. Ada orang tua dan anak yang semakin dekat, tetapi ada pula yang justru memilih menjaga jarak, mengurangi komunikasi, bahkan memutus hubungan untuk waktu yang panjang.
Fenomena ketika orang tua dan anak dewasa mengalami keterasingan atau estrangement bukanlah persoalan yang sederhana. Di balik keputusan untuk berhenti berkomunikasi biasanya terdapat sejarah hubungan yang panjang, konflik yang berulang, perbedaan nilai, luka emosional, atau pola interaksi yang tidak lagi dapat dipertahankan.
Penting untuk memahami bahwa keputusan memutus hubungan tidak selalu berarti salah satu pihak sepenuhnya benar dan pihak lainnya sepenuhnya salah. Setiap keluarga memiliki dinamika yang berbeda. Dalam beberapa kasus, jarak muncul setelah konflik bertahun-tahun. Dalam kasus lain, keputusan tersebut menjadi bentuk perlindungan diri setelah seseorang merasa hubungan yang dijalani terlalu menyakitkan.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (21/9), dari sudut pandang psikologi, terdapat tujuh alasan yang dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian orang tua akhirnya memutus atau sangat membatasi hubungan dengan anak mereka yang sudah dewasa.
1. Konflik yang Berlangsung Bertahun-Tahun dan Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Salah satu penyebab yang dapat membuat hubungan orang tua dan anak dewasa menjadi renggang adalah konflik yang berlangsung dalam waktu lama.
Masalah keluarga jarang muncul hanya karena satu kejadian. Sering kali, konflik besar merupakan akumulasi dari banyak persoalan kecil yang tidak pernah diselesaikan.
Misalnya, orang tua merasa anak tidak menghargai mereka. Anak merasa orang tua terlalu mengontrol. Orang tua kemudian semakin sering memberikan nasihat, sementara anak semakin menjauh. Jarak tersebut kemudian dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian oleh orang tua, sehingga komunikasi menjadi semakin penuh ketegangan.
Siklus seperti ini dapat berlangsung bertahun-tahun.
Dalam psikologi hubungan, pola konflik yang terus berulang dapat membuat seseorang merasa bahwa setiap percakapan hanya akan menghasilkan masalah yang sama. Akhirnya, salah satu pihak mungkin memilih mengurangi kontak karena merasa tidak ada lagi cara untuk berkomunikasi secara sehat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri
MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Mahfud MD Balas Sindiran Prabowo: Banyak juga Presiden yang Goblok

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022