seseorang yang memiliki anak yang sulit mendengarkan / foto: Magnific/magnific
Anak mungkin terus bermain ketika diajak berbicara. Mereka bisa memotong pembicaraan, mengalihkan topik, mengabaikan instruksi, atau sekadar menjawab, "Iya," tanpa benar-benar memahami apa yang disampaikan.
Situasi seperti ini sering membuat orang tua frustrasi.
Namun, dari sudut pandang psikologi perkembangan anak, anak yang sulit mendengarkan tidak selalu berarti anak yang keras kepala atau tidak menghormati orang tua. Kemampuan untuk memusatkan perhatian, mengendalikan impuls, memahami konsekuensi, dan mengatur emosi masih berkembang sepanjang masa kanak-kanak.
Karena itu, mengajarkan pelajaran penting kepada anak membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Daripada terus meninggikan suara atau memberikan ceramah panjang, orang tua dapat menggunakan strategi komunikasi yang membuat anak lebih siap untuk mendengar dan memahami.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (19/9), terdapat tujuh cara yang dapat dicoba.
1. Pastikan Anak Benar-Benar Siap Mendengarkan
Kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua mulai memberikan nasihat ketika perhatian anak sedang berada di tempat lain.
Misalnya, anak sedang asyik bermain gim, menonton televisi, menggambar, atau bermain bersama teman. Orang tua kemudian berbicara dari ruangan lain:
"Jangan lupa nanti bereskan mainanmu!"
Anak mungkin menjawab, "Iya."
Beberapa menit kemudian, mainan masih berserakan.
Orang tua lalu merasa anak sengaja mengabaikan perintah.
Padahal, masalahnya bisa saja sederhana: anak belum benar-benar menerima pesan tersebut dengan penuh perhatian.
Sebelum menyampaikan sesuatu yang penting, cobalah mendapatkan perhatian anak terlebih dahulu.
Datangi anak. Panggil namanya. Jika sesuai dengan usianya, lakukan kontak mata secara alami. Pastikan perhatian anak beralih kepada Anda sebelum menyampaikan pesan.
Misalnya:
"Raka, Mama mau menyampaikan sesuatu. Bisa berhenti sebentar dan dengarkan Mama?"
Setelah anak memberikan perhatian, barulah sampaikan pesan.
Cara ini lebih efektif daripada berbicara dari kejauhan sambil mengerjakan pekerjaan lain.
Mengapa cara ini penting?
Perhatian merupakan bagian penting dari proses belajar. Anak perlu terlebih dahulu memperhatikan informasi sebelum dapat memproses dan mengingatnya.
Jadi, sebelum bertanya, "Mengapa anak saya tidak mendengarkan?" cobalah bertanya:
"Apakah saya sudah memastikan dia siap mendengarkan?"
Perubahan kecil ini dapat membuat komunikasi sehari-hari jauh lebih efektif.
2. Gunakan Kalimat Singkat dan Jelas
Orang dewasa sering lupa bahwa anak memiliki kemampuan pemrosesan informasi yang masih berkembang.
Ketika anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan, orang tua terkadang memberikan penjelasan panjang:
"Kamu itu kalau Mama bilang jangan melakukan sesuatu, dengarkan. Mama sudah berkali-kali bilang. Kalau kamu terus seperti ini, nanti kamu akan kesulitan. Mama bukan melarang kamu bermain, tetapi kamu harus belajar bertanggung jawab..."
Niatnya mungkin baik.
Namun, semakin panjang penjelasan, semakin besar kemungkinan inti pesannya justru hilang.
Untuk anak, pesan yang sederhana sering kali lebih mudah dipahami.
Daripada:
"Berapa kali Mama harus bilang? Kamu kan sudah besar. Seharusnya kamu tahu kalau setelah bermain harus membereskan semuanya..."
Cobalah:
"Setelah bermain, kita rapikan mainannya."
Atau:
"Main boleh. Setelah itu, waktunya membereskan."
Pesannya lebih singkat, konkret, dan mudah diikuti.
Gunakan instruksi yang dapat diamati
Instruksi seperti:
"Jadilah anak yang bertanggung jawab."
terdengar baik, tetapi terlalu abstrak.
Lebih jelas jika dikatakan:
"Masukkan semua balok ke dalam kotak."
Anak lebih mudah memahami tindakan konkret daripada konsep yang terlalu umum.
Karena itu, ketika ingin mengajarkan nilai seperti disiplin, tanggung jawab, atau menghargai orang lain, ubahlah nilai tersebut menjadi perilaku yang bisa dilakukan anak.
3. Jangan Hanya Memberikan Nasihat, Tanyakan Pendapat Anak
Anak bukan sekadar penerima instruksi.
Jika setiap percakapan hanya berisi orang tua berbicara dan anak harus diam mendengarkan, anak dapat kehilangan kesempatan untuk belajar berpikir.
Cobalah mengubah sebagian percakapan menjadi dialog.
Misalnya, ketika anak tidak membereskan mainannya, jangan langsung memberikan ceramah.
Tanyakan:
"Menurut kamu, apa yang terjadi kalau mainan ini dibiarkan di lantai?"
Kemudian tunggu jawabannya.
Mungkin anak menjawab:
"Nanti diinjak."
Anda dapat melanjutkan:
"Betul. Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan supaya tidak terjadi?"
Anak mungkin menjawab:
"Masukin ke kotak."
Percakapan sederhana tersebut sebenarnya mengajarkan beberapa hal sekaligus.
Anak belajar:
memikirkan konsekuensi;
mencari solusi;
mengambil keputusan;
memahami hubungan antara tindakan dan akibat;
mengungkapkan pikirannya.
Mengapa pertanyaan dapat lebih efektif daripada ceramah?
Karena anak tidak hanya mendengar jawaban dari orang tua. Mereka juga dilatih untuk menghasilkan pemikiran sendiri.
Tujuan pendidikan anak bukan sekadar membuat anak patuh ketika orang tua ada di dekatnya.
Tujuan yang lebih besar adalah membantu anak perlahan mengembangkan kemampuan untuk membuat keputusan yang baik ketika tidak ada orang tua yang mengawasi.
4. Hubungkan Pelajaran dengan Pengalaman Nyata Anak
Anak biasanya lebih mudah memahami sesuatu ketika pelajaran tersebut berhubungan dengan kehidupan mereka.
Misalnya, Anda ingin mengajarkan tentang pentingnya menepati janji.
Daripada memberikan definisi panjang tentang arti komitmen, gunakan pengalaman sehari-hari.
Jika anak berjanji akan membereskan mainan setelah bermain, Anda dapat mengatakan:
"Kemarin kamu bilang akan membereskan mainan setelah bermain. Sekarang waktunya kita lakukan seperti yang sudah kamu janjikan."
Dengan begitu, konsep "menepati janji" tidak lagi menjadi teori.
Anak melihat contohnya secara langsung.
Hal yang sama dapat dilakukan untuk berbagai nilai.
Mengajarkan empati
Daripada hanya mengatakan:
"Kamu harus menghargai perasaan orang lain."
Tanyakan:
"Kalau kamu sedang sedih lalu temanmu menertawakanmu, bagaimana perasaanmu?"
Mengajarkan tanggung jawab
Daripada:
"Kamu harus bertanggung jawab."
Cobalah:
"Kamu yang menggunakan buku itu. Sekarang apa yang bisa kamu lakukan supaya buku itu tetap rapi?"
Mengajarkan konsekuensi
Daripada:
"Kalau kamu tidak hati-hati, nanti semuanya rusak."
Cobalah:
"Menurutmu, apa yang mungkin terjadi kalau benda ini dilempar?"
Dengan menghubungkan pelajaran dengan pengalaman konkret, anak memiliki kesempatan untuk memahami mengapa suatu perilaku penting, bukan sekadar mengetahui bahwa perilaku tersebut diperintahkan.
5. Validasi Perasaan Anak, tetapi Tetap Pertahankan Batasan
Salah satu tantangan terbesar dalam mendidik anak adalah ketika mereka sedang marah, kecewa, atau frustrasi.
Ketika emosi anak sedang tinggi, memberikan nasihat panjang biasanya tidak banyak membantu.
Bayangkan seorang anak marah karena waktu bermainnya sudah selesai.
Orang tua mungkin berkata:
"Sudah dibilang berhenti. Kamu harus belajar disiplin. Jangan menangis seperti itu. Anak besar seharusnya mengerti..."
Anak mungkin justru semakin marah.
Pendekatan yang berbeda adalah mengakui emosinya tanpa harus menyetujui perilakunya.
Misalnya:
"Kamu masih ingin bermain. Kamu kecewa karena waktunya sudah selesai."
Kemudian tetapkan batas:
"Tapi sekarang waktunya berhenti bermain."
Dua hal dapat dilakukan sekaligus:
memahami perasaan anak dan tetap mempertahankan batasan.
Validasi bukan berarti semua keinginan anak harus dipenuhi.
Mengatakan:
"Papa tahu kamu kecewa."
tidak sama dengan mengatakan:
"Kalau begitu, kamu boleh melakukan apa saja."
Justru anak dapat belajar bahwa emosi mereka boleh dirasakan, tetapi emosi tidak harus menentukan semua tindakan mereka.
6. Berikan Pilihan yang Terbatas
Anak yang sering menolak instruksi terkadang merasa bahwa setiap keputusan dalam hidupnya ditentukan oleh orang dewasa.
Bangun.
Mandi.
Makan.
Belajar.
Rapikan kamar.
Matikan televisi.
Tidur.
Jika setiap hal hanya berbentuk perintah, anak mungkin semakin terdorong untuk melawan demi merasakan sedikit kendali.
Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah memberikan pilihan terbatas.
Contohnya:
"Kamu mau merapikan mainan sekarang atau lima menit lagi?"
"Sepatunya mau dipakai yang hitam atau yang biru?"
"Mau mengerjakan tugas matematika dulu atau membaca dulu?"
Pilihan tersebut tetap berada dalam batas yang ditetapkan orang tua.
Anak tidak memilih apakah tugas harus dilakukan atau tidak. Anak memilih bagaimana atau kapan melakukannya dalam batas yang masuk akal.
Mengapa ini membantu?
Anak belajar bahwa mereka memiliki kendali tertentu atas keputusan mereka, tetapi tetap harus memahami aturan dan tanggung jawab.
Ini juga dapat mengubah suasana dari:
"Ikuti perintah saya."
menjadi:
"Kita punya tanggung jawab yang harus dilakukan. Kamu bisa memilih cara melakukannya."
Pendekatan seperti ini dapat membuat komunikasi terasa lebih kolaboratif.
7. Jadilah Contoh dari Pelajaran yang Ingin Anda Ajarkan
Ini mungkin merupakan bagian yang paling penting.
Anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang tua.
Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat.
Jika orang tua ingin anak belajar mendengarkan, anak perlu melihat bagaimana orang dewasa juga mendengarkan.
Jika ingin anak berbicara dengan sopan, orang tua perlu menunjukkan komunikasi yang sopan.
Jika ingin anak mengakui kesalahan, orang tua dapat menunjukkan bahwa meminta maaf bukan sesuatu yang memalukan.
Misalnya, orang tua salah memahami perkataan anak.
Daripada mempertahankan diri:
"Papa sudah benar. Kamu saja yang tidak jelas ngomongnya."
orang tua dapat berkata:
"Tadi Papa salah memahami maksudmu. Maaf. Coba jelaskan lagi."
Sebuah momen sederhana seperti ini dapat menjadi pelajaran yang sangat kuat.
Anak melihat bahwa orang dewasa juga dapat mengakui kesalahan.
Anak belajar melalui pengamatan
Nilai-nilai seperti kesabaran, empati, tanggung jawab, dan penghormatan tidak cukup diajarkan melalui kata-kata.
Anak perlu melihat bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ketika anak sulit mendengarkan, orang tua juga dapat melakukan refleksi:
"Apakah cara saya berkomunikasi dengan anak sudah mencerminkan cara komunikasi yang saya ingin dia gunakan?"
Pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan orang tua.
Justru sebaliknya, ini merupakan kesempatan untuk memperbaiki pola komunikasi bersama.
Jangan Menganggap Semua Anak yang Sulit Mendengarkan sebagai "Nakal"
Penting untuk membedakan antara perilaku yang sesuai dengan tahap perkembangan dan masalah yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Anak dapat sulit mendengarkan karena berbagai alasan.
Mereka mungkin sedang lelah, lapar, terlalu bersemangat, terdistraksi, kesulitan memahami instruksi, atau belum memiliki kemampuan pengendalian diri yang matang.
Karena itu, satu perilaku saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak "bandel".
Orang tua dapat memperhatikan pola.
Apakah anak hanya sulit mendengarkan ketika sedang bermain?
Apakah terjadi terutama ketika instruksi terlalu panjang?
Apakah anak dapat mengikuti instruksi ketika diberikan satu per satu?
Apakah masalah terjadi di rumah sekaligus di sekolah?
Apakah perilaku tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memberikan gambaran yang lebih lengkap daripada sekadar memberikan label.
Jika kesulitan perhatian atau perilaku anak berlangsung terus-menerus dan menyebabkan gangguan yang nyata di rumah, sekolah, atau hubungan sosial, orang tua dapat mendiskusikannya dengan guru, dokter anak, atau profesional kesehatan mental anak untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.
Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Menghadapi Anak yang Sulit Mendengarkan
Ada beberapa kebiasaan komunikasi yang mungkin justru membuat situasi semakin sulit.
1. Mengulang perintah tanpa henti
Jika setiap instruksi diulang sepuluh kali, anak dapat belajar bahwa instruksi pertama belum benar-benar perlu dilakukan.
Lebih baik berikan instruksi dengan jelas, pastikan anak memahami, lalu berikan konsekuensi yang konsisten dan sesuai jika diperlukan.
2. Memberikan ceramah terlalu panjang
Anak biasanya tidak membutuhkan pidato panjang untuk memahami satu aturan.
Fokuskan pesan pada hal utama.
3. Memberikan label
Kalimat seperti:
"Kamu memang anak nakal."
atau:
"Kamu selalu bikin masalah."
dapat membuat perilaku berubah menjadi identitas.
Lebih konstruktif membicarakan perilakunya:
"Tadi kamu memukul adik. Memukul bukan cara yang boleh digunakan ketika marah."
Perilaku dapat diperbaiki.
Label membuat anak merasa dirinya adalah masalahnya.
4. Berteriak sebagai strategi utama
Teriakan mungkin membuat anak berhenti sesaat, tetapi tujuan pendidikan bukan sekadar mendapatkan kepatuhan pada saat itu.
Anak juga perlu belajar mengapa suatu perilaku penting dan bagaimana mengatur dirinya sendiri.
5. Mengancam hukuman yang tidak konsisten
Ancaman seperti:
"Kalau kamu tidak berhenti sekarang, semua mainanmu akan Mama buang!"
sering kali sulit diterapkan secara konsisten.
Lebih baik menetapkan konsekuensi yang masuk akal, dapat diprediksi, dan berkaitan dengan perilaku.
Kuncinya Bukan Membuat Anak Takut, tetapi Membuat Anak Memahami
Ketika anak sulit mendengarkan, sangat mudah bagi orang tua untuk berpikir bahwa solusinya adalah berbicara lebih keras.
Padahal, dalam banyak situasi, masalahnya bukan kurangnya volume suara.
Masalahnya bisa berupa perhatian yang belum siap, instruksi yang terlalu panjang, emosi yang sedang tinggi, atau anak yang belum memahami alasan di balik aturan.
Karena itu, pendekatan yang lebih konstruktif adalah:
dapatkan perhatian anak → sampaikan pesan secara singkat → ajukan pertanyaan → dengarkan jawabannya → berikan pilihan bila memungkinkan → tetapkan batas yang konsisten → berikan contoh melalui perilaku Anda sendiri.
Proses ini mungkin tidak menghasilkan perubahan dalam satu malam.
Mendidik anak memang bukan pekerjaan yang memberikan hasil instan.
Anak membutuhkan pengulangan, pengalaman, batasan yang konsisten, dan hubungan yang aman dengan orang dewasa di sekitarnya.
Yang paling penting, jangan menjadikan setiap momen sulit sebagai pertarungan antara orang tua dan anak.
Anggaplah momen tersebut sebagai kesempatan untuk mengajarkan keterampilan.
Ketika anak tidak mendengarkan, kita tidak hanya memiliki pilihan untuk berkata:
"Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan?"
Kita juga dapat bertanya:
"Apa yang bisa saya lakukan agar pesan ini lebih mudah dia dengarkan, pahami, dan lakukan?"
Perubahan sudut pandang tersebut dapat membuat proses mendidik terasa berbeda.
Tujuan akhirnya bukan sekadar memiliki anak yang patuh ketika diawasi.
Tujuannya adalah membantu anak tumbuh menjadi seseorang yang mampu mendengarkan, memahami, mempertimbangkan konsekuensi, mengelola emosi, dan mengambil keputusan yang baik bahkan ketika tidak ada orang tua di sampingnya.
Dan kemampuan-kemampuan tersebut tidak terbentuk melalui satu nasihat besar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022