seseorang yang mengalami ketegangan dengan orang tuanya / foto: Magnific/magnific
Menariknya, ketegangan antara anak dewasa dan orang tua sering kali tidak bermula dari masalah yang sangat besar. Perselisihan justru dapat muncul dari hal-hal sederhana: cara berbicara, perbedaan pendapat, pertanyaan yang terlalu sering diajukan, campur tangan dalam kehidupan pribadi, atau perasaan bahwa salah satu pihak tidak lagi dihargai.
Dalam perspektif psikologi, perubahan hubungan tersebut sebenarnya cukup wajar. Anak yang sudah dewasa membutuhkan kemandirian dan ruang untuk menentukan kehidupannya sendiri. Sementara itu, orang tua mungkin masih terbiasa menjalankan peran sebagai pengasuh, pelindung, dan pemberi arahan.
Masalah muncul ketika kebutuhan akan kemandirian tersebut bertemu dengan kebiasaan lama dalam keluarga.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (5/9), terdapat tujuh faktor sederhana yang dapat menjadi penyebab ketegangan antara anak dewasa dan orang tua.
1. Orang tua masih memperlakukan anak dewasa seperti anak kecil
Salah satu sumber ketegangan yang paling umum adalah kesulitan menerima bahwa anak sudah tumbuh dewasa.
Ketika anak masih kecil, orang tua memang memiliki tanggung jawab besar untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Mereka memilih sekolah, mengatur jadwal, menentukan aturan rumah, dan memberikan nasihat mengenai hampir semua hal.
Namun, ketika anak memasuki usia dewasa, pola tersebut perlu berubah.
Anak dewasa mulai memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri. Ia mungkin menentukan pekerjaan yang ingin dijalani, tempat tinggal, pasangan, gaya hidup, cara mengelola uang, hingga cara membangun keluarganya.
Jika orang tua masih menggunakan pola komunikasi seperti ketika anak berusia belasan tahun, anak dapat merasa tidak dipercaya atau tidak dianggap mampu.
Contohnya sederhana.
Seorang anak berusia 30 tahun mengatakan bahwa ia ingin pindah pekerjaan. Alih-alih bertanya mengenai pertimbangannya, orang tua langsung mengatakan, "Jangan. Pekerjaanmu sekarang sudah bagus."
Bagi orang tua, kalimat tersebut mungkin merupakan bentuk kepedulian. Namun bagi anak, kalimat itu dapat terdengar seperti keputusan atas hidupnya masih berada di tangan orang tua.
Di sinilah perbedaan antara memberikan nasihat dan mengendalikan keputusan menjadi penting.
Orang tua tetap boleh memberikan pandangan. Tetapi anak dewasa juga membutuhkan kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri dan belajar dari konsekuensi pilihannya.
Hubungan biasanya menjadi lebih sehat ketika peran berubah dari "orang tua yang mengatur anak" menjadi "orang tua yang mendampingi orang dewasa lain."
2. Perbedaan nilai dan cara memandang kehidupan
Perbedaan generasi hampir selalu membawa perbedaan cara berpikir.
Orang tua tumbuh dalam lingkungan sosial yang mungkin sangat berbeda dengan lingkungan tempat anak tumbuh. Mereka bisa memiliki pandangan tertentu mengenai pekerjaan, pernikahan, pendidikan, uang, hubungan sosial, maupun gaya hidup.
Anak dewasa, di sisi lain, mungkin memiliki nilai yang berbeda.
Misalnya, orang tua menganggap pekerjaan tetap sebagai pilihan paling aman. Anak justru ingin membangun bisnis atau bekerja secara fleksibel.
Orang tua mungkin menganggap membeli rumah sebagai tanda keberhasilan. Anak merasa pengalaman, pendidikan, atau kebebasan finansial lebih penting.
Orang tua mungkin menganggap menikah pada usia tertentu sebagai sesuatu yang ideal. Anak tidak melihat usia sebagai ukuran utama untuk menentukan kesiapan menikah.
Perbedaan seperti ini sebenarnya tidak selalu harus menjadi konflik.
Yang sering menimbulkan ketegangan adalah ketika perbedaan nilai dianggap sebagai kesalahan.
Kalimat seperti "Zaman sekarang anak muda tidak tahu bersyukur" atau "Orang tua tidak pernah mengerti kehidupan sekarang" dapat membuat percakapan berubah menjadi pertarungan untuk menentukan siapa yang paling benar.
Padahal, dua generasi bisa memiliki pengalaman yang berbeda tanpa salah satu pihak harus dianggap lebih buruk.
Hubungan yang sehat tidak selalu membutuhkan kesamaan pendapat. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk menghormati bahwa seseorang dapat memilih jalan hidup yang berbeda.
3. Cara berkomunikasi yang sudah menjadi kebiasaan
Banyak konflik keluarga sebenarnya bukan hanya tentang apa yang dibicarakan, tetapi bagaimana sesuatu disampaikan.
Ada keluarga yang terbiasa berbicara dengan nada tinggi. Ada yang menggunakan sindiran. Ada yang jarang mengungkapkan perasaan secara langsung. Ada pula yang terbiasa menggunakan kritik sebagai bentuk kepedulian.
Masalahnya, pola komunikasi yang dianggap normal oleh satu pihak dapat terasa menyakitkan bagi pihak lain.
Contohnya adalah kritik yang terus-menerus.
Orang tua mungkin berkata:
"Kenapa rumahmu masih berantakan?"
"Kok kamu belum punya pasangan?"
"Seharusnya kamu bisa lebih sukses."
"Nak, kalau mengatur uang saja tidak bisa, bagaimana nanti?"
Bagi orang tua, komentar tersebut mungkin dianggap sebagai motivasi. Namun jika diterima berulang kali, anak dapat merasa bahwa apa pun yang dilakukannya tidak pernah cukup baik.
Sebaliknya, anak juga dapat melakukan hal yang sama kepada orang tua. Misalnya berbicara dengan nada meremehkan, mudah membentak, atau menganggap semua nasihat orang tua sudah tidak relevan.
Akibatnya, percakapan sederhana dapat berubah menjadi konflik lama yang terus berulang.
Dalam psikologi komunikasi, cara menyampaikan pesan memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana pesan tersebut diterima. Kritik terhadap perilaku tertentu jauh berbeda dengan serangan terhadap karakter seseorang.
"Menurutku keputusan itu perlu dipikirkan lagi" memiliki dampak yang berbeda dibandingkan "Kamu memang selalu mengambil keputusan yang buruk."
Kalimat pertama membuka ruang diskusi. Kalimat kedua cenderung membuat seseorang merasa diserang.
4. Batas pribadi yang tidak jelas
Ketika anak masih tinggal bersama orang tua, batas antara kehidupan pribadi dan kehidupan keluarga mungkin memang lebih tipis.
Namun setelah dewasa, kebutuhan akan batas pribadi biasanya semakin besar.
Anak mungkin tidak ingin semua keputusan pribadinya diketahui keluarga. Ia mungkin membutuhkan privasi mengenai keuangan, pekerjaan, hubungan romantis, atau masalah yang sedang dihadapi.
Sebaliknya, orang tua dapat merasa bahwa karena mereka adalah keluarga, mereka berhak mengetahui semuanya.
Perbedaan pemahaman inilah yang dapat menimbulkan ketegangan.
Misalnya, orang tua terus bertanya mengenai hubungan romantis anak. Anak merasa pertanyaan tersebut terlalu pribadi. Orang tua kemudian merasa anak mulai menjauh.
Padahal, kedua pihak mungkin memiliki kebutuhan yang berbeda.
Orang tua membutuhkan rasa dekat dan keterlibatan. Anak membutuhkan privasi dan otonomi.
Batas pribadi bukan berarti seseorang tidak menyayangi keluarganya.
Justru batas yang sehat dapat membantu hubungan menjadi lebih nyaman. Seseorang dapat mengatakan, "Aku menghargai perhatian Ayah dan Ibu, tetapi untuk masalah ini aku ingin mencoba menyelesaikannya sendiri."
Kalimat tersebut tidak harus menjadi bentuk penolakan. Ia dapat menjadi cara untuk menjelaskan bahwa hubungan yang dekat tetap membutuhkan ruang pribadi.
5. Ekspektasi yang tidak pernah dibicarakan
Salah satu penyebab konflik keluarga yang sering tidak disadari adalah adanya harapan yang tidak pernah diucapkan.
Orang tua mungkin berharap anak sering pulang, rutin menelepon, membantu secara finansial, mengikuti tradisi keluarga, atau tinggal tidak terlalu jauh.
Sementara itu, anak mungkin mengira bahwa setelah dewasa ia bebas menentukan seberapa sering berkunjung dan bagaimana mengatur kehidupannya.
Karena ekspektasi tersebut tidak pernah dibicarakan secara terbuka, masing-masing pihak akhirnya membuat asumsi.
Orang tua berpikir:
"Kalau dia sayang kepada orang tuanya, dia pasti akan sering datang."
Anak berpikir:
"Kalau mereka mengerti aku sibuk, mereka pasti tidak akan menuntut terlalu banyak."
Keduanya mungkin sama-sama merasa kecewa.
Dalam situasi seperti ini, masalahnya bukan selalu karena kurangnya kasih sayang. Bisa jadi karena kedua pihak memiliki definisi yang berbeda tentang bagaimana kasih sayang seharusnya ditunjukkan.
Anak mungkin menunjukkan perhatian melalui bantuan finansial atau pesan singkat. Orang tua mungkin menganggap perhatian baru terasa jika anak datang secara langsung.
Karena itu, ekspektasi dalam keluarga perlu dikomunikasikan, bukan hanya diasumsikan.
6. Luka lama yang belum benar-benar selesai
Konflik ketika anak sudah dewasa terkadang bukan hanya tentang masalah yang sedang terjadi.
Percakapan sederhana pada hari ini dapat membangkitkan pengalaman dari masa lalu.
Misalnya, seorang anak merasa sangat sensitif ketika orang tua mengkritik pekerjaannya. Bagi orang tua, komentar itu mungkin hanya komentar biasa. Namun bagi anak, kritik tersebut mengingatkan pada pengalaman bertahun-tahun ketika ia merasa tidak pernah mendapatkan apresiasi.
Begitu pula orang tua dapat memiliki pengalaman masa lalu yang membuat mereka lebih mudah khawatir atau kecewa terhadap anak.
Akibatnya, konflik yang terlihat kecil dapat terasa sangat besar karena membawa "beban emosional" dari pengalaman sebelumnya.
Inilah alasan mengapa dua orang dapat bertengkar mengenai hal yang tampaknya sepele, tetapi reaksinya jauh lebih kuat daripada yang diperkirakan.
Kadang-kadang, yang diperdebatkan bukan sekadar masalah hari ini.
Ada sejarah panjang di baliknya.
Hal ini juga menjelaskan mengapa seseorang dapat merasa, "Setiap kali bicara dengan orang tua, aku kembali merasa seperti anak kecil."
Perasaan tersebut mungkin muncul karena interaksi saat ini mengaktifkan pola hubungan yang sudah terbentuk sejak lama.
Menyadari adanya pola tersebut adalah langkah awal. Tidak semua luka masa lalu harus diselesaikan dalam satu percakapan. Namun mengenali bahwa konflik sekarang mungkin berkaitan dengan pengalaman sebelumnya dapat membuat seseorang lebih memahami reaksinya sendiri.
7. Kurangnya ruang untuk menerima bahwa hubungan sedang berubah
Mungkin inilah faktor yang paling mendasar.
Hubungan orang tua dan anak memang tidak akan selalu sama.
Ketika anak kecil, orang tua berada dalam posisi sebagai pengasuh utama. Ketika anak remaja, hubungan mulai dipenuhi negosiasi dan pencarian identitas. Ketika anak dewasa, hubungan idealnya bergerak menuju hubungan yang lebih setara.
Perubahan tersebut membutuhkan penyesuaian dari kedua pihak.
Anak harus belajar bahwa menjadi mandiri bukan berarti memutus hubungan dengan orang tua.
Orang tua juga perlu belajar bahwa memberikan ruang bukan berarti kehilangan anak.
Kadang-kadang, orang tua merasa kehilangan peran ketika anak tidak lagi membutuhkan mereka untuk mengambil keputusan. Sementara anak dapat merasa bersalah ketika mulai membuat batas.
Jika kedua pihak tidak menyadari bahwa hubungan memang sedang memasuki fase baru, perubahan tersebut dapat terasa seperti penolakan.
Padahal, kedewasaan anak sebenarnya dapat menjadi kesempatan bagi hubungan untuk berkembang.
Orang tua tidak lagi harus selalu menjadi pihak yang memberi instruksi. Mereka dapat menjadi tempat berdiskusi.
Anak tidak lagi hanya menjadi pihak yang menerima nasihat. Ia dapat menjadi orang dewasa yang juga memberikan dukungan, perhatian, dan perspektif kepada orang tuanya.
Ketegangan Tidak Selalu Berarti Hubungan Sudah Rusak
Penting untuk membedakan antara ketegangan dalam hubungan dan hubungan yang benar-benar tidak sehat.
Perbedaan pendapat adalah bagian normal dari hubungan antarmanusia. Bahkan hubungan yang sangat dekat pun dapat mengalami konflik.
Yang lebih penting adalah bagaimana konflik tersebut dikelola.
Apakah kedua pihak masih dapat mendengarkan?
Apakah mereka dapat meminta maaf?
Apakah masing-masing orang dapat mengakui bahwa dirinya mungkin tidak selalu benar?
Apakah anak memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri?
Apakah orang tua masih merasa dihargai?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar seberapa sering konflik terjadi.
Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa pertengkaran. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memberikan ruang bagi kedua pihak untuk berbeda tanpa harus kehilangan rasa hormat.
Bagaimana Mengurangi Ketegangan antara Anak Dewasa dan Orang Tua?
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dicoba.
1. Berhenti berusaha memenangkan setiap percakapan
Tidak semua perbedaan pendapat harus memiliki pemenang.
Kadang-kadang, tujuan percakapan bukan membuat orang tua setuju atau membuat anak mengubah pikirannya. Tujuannya adalah agar kedua pihak memahami sudut pandang masing-masing.
2. Bedakan nasihat dengan keputusan
Orang tua boleh memberikan nasihat. Anak dewasa juga boleh mendengarkan tanpa harus mengikuti semuanya.
Sebaliknya, anak dapat menjelaskan keputusan tanpa mengharuskan orang tua menyetujuinya.
3. Gunakan kalimat yang berfokus pada diri sendiri
Daripada mengatakan:
"Papa selalu ikut campur."
Lebih baik mengatakan:
"Aku merasa lebih nyaman kalau keputusan ini bisa aku pikirkan sendiri terlebih dahulu."
Cara ini mengurangi kesan menyerang karakter seseorang.
4. Tentukan batas dengan tetap menghormati
Batas pribadi tidak perlu disampaikan dengan kemarahan.
Seseorang dapat mengatakan:
"Aku tahu Ayah dan Ibu mengkhawatirkanku. Tapi untuk masalah pekerjaan, aku ingin mencoba menentukan sendiri. Kalau aku membutuhkan saran, aku pasti akan bertanya."
Pesan seperti ini menunjukkan dua hal sekaligus: penghargaan dan kemandirian.
5. Terima bahwa orang tua dan anak mungkin tidak akan selalu sepakat
Tujuan hubungan keluarga bukan membuat semua orang berpikir sama.
Ada kalanya orang tua tetap memiliki pandangan sendiri. Ada kalanya anak tetap memilih jalan yang berbeda.
Jika kedua pihak dapat menerima kenyataan tersebut, banyak konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Pada Akhirnya, Kedewasaan Mengubah Bentuk Hubungan
Ketegangan antara anak dewasa dan orang tua sering kali muncul ketika hubungan lama bertemu dengan kebutuhan baru.
Orang tua masih ingin melindungi. Anak ingin menentukan hidup sendiri.
Orang tua ingin merasa dibutuhkan. Anak ingin merasa dipercaya.
Orang tua memberikan nasihat karena peduli. Anak dapat mendengar nasihat tersebut sebagai kritik atau kontrol.
Tidak ada satu pihak yang selalu menjadi penyebab masalah.
Sering kali, keduanya sedang berusaha menyesuaikan diri dengan tahap kehidupan yang baru.
Karena itu, salah satu perubahan terpenting dalam hubungan orang tua dan anak dewasa adalah memahami bahwa kedekatan tidak harus berarti tanpa batas, dan kemandirian tidak harus berarti menjauh.
Anak boleh memiliki kehidupan sendiri tanpa berhenti menyayangi orang tua.
Orang tua boleh memberikan perhatian tanpa harus mengendalikan kehidupan anak.
Ketika kedua pihak mampu melihat satu sama lain bukan lagi sebagai "orang tua yang harus selalu mengatur" dan "anak yang harus selalu menurut", melainkan sebagai dua orang dewasa yang memiliki pengalaman, kebutuhan, dan pilihan masing-masing, hubungan tersebut memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi lebih matang.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Prediksi Skor Villarreal vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Amankan 3 Poin!
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
