Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 September 2026 | 21.35 WIB

Jika Kamu Ingin Si Kecil Tumbuh Menjadi Pemberani, Lakukan 7 Cara Parenting Ini Menurut Psikologi

seseorang yang membuat tumbuh menjadi pemberani / foto: Magnific/user21016237

 

JawaPos.com - Setiap orang tua tentu ingin melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang berani. Bukan sekadar berani tampil di depan orang lain, tetapi juga berani mencoba sesuatu yang baru, berani mengungkapkan pendapat, berani menghadapi kegagalan, dan berani bangkit ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.

Namun, anak yang pemberani bukan berarti anak yang tidak pernah takut.

Justru, keberanian pada anak muncul ketika ia mampu menghadapi rasa takut dan tetap mencoba, meskipun belum yakin dengan hasilnya.

Dalam psikologi perkembangan, rasa aman dan dukungan dari orang tua memiliki peran penting dalam membentuk bagaimana anak memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Anak yang merasa diterima, dipercaya, dan diberi kesempatan untuk mencoba secara bertahap akan lebih mudah mengembangkan rasa percaya diri serta keberanian.

Jadi, kalau kamu ingin si kecil tumbuh menjadi anak yang pemberani, parenting sehari-hari bisa menjadi tempat terbaik untuk melatihnya.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (1/9), terdapat tujuh cara yang bisa diterapkan.

1. Jangan Terlalu Cepat Menolong Ketika Anak Menghadapi Kesulitan

Naluri orang tua memang ingin melindungi anak.

Ketika melihat si kecil kesulitan memakai sepatu, menyusun puzzle, menaiki permainan, atau menyelesaikan tugas sederhana, kita sering kali ingin langsung membantu.

“Biar Mama saja.”

“Sudah, sini Ayah bantu.”

Sekilas, tindakan tersebut terlihat sebagai bentuk kasih sayang. Namun, jika terlalu sering dilakukan, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar bahwa dirinya sebenarnya mampu menghadapi kesulitan.

Cobalah memberi anak waktu untuk mencoba terlebih dahulu.

Misalnya, ketika anak kesulitan memasang kancing bajunya, jangan langsung mengambil alih. Kamu bisa berkata:

“Coba dulu pelan-pelan. Kalau masih kesulitan, Mama bantu.”

Kalimat sederhana tersebut memberikan dua pesan penting kepada anak: kamu dipercaya untuk mencoba, dan kamu tetap punya tempat untuk meminta bantuan.

Inilah salah satu fondasi keberanian.

Anak belajar bahwa kesulitan bukan sesuatu yang harus langsung dihindari. Kesulitan adalah bagian dari proses belajar.

Orang tua tetap boleh membantu, tetapi usahakan bantuan diberikan sesuai kebutuhan, bukan mengambil alih seluruh proses.

2. Berikan Kesempatan Anak Mengambil Keputusan Kecil

Keberanian juga berkaitan dengan rasa memiliki kendali terhadap diri sendiri.

Anak yang sejak kecil terbiasa mendapatkan kesempatan untuk membuat pilihan sederhana akan belajar bahwa pendapat dan pilihannya memiliki nilai.

Tidak perlu memberikan pilihan yang terlalu besar.

Mulailah dari hal-hal sederhana seperti:

“Mau pakai baju yang biru atau kuning?”

“Mau membaca buku yang ini atau yang itu?”

“Mau membereskan mainan sebelum mandi atau setelah mandi?”

Pilihan seperti ini mungkin terlihat sepele bagi orang dewasa. Namun, bagi anak, pengalaman tersebut membantu membangun kemandirian.

Ketika anak terbiasa memilih dan melihat konsekuensi dari pilihannya, ia perlahan belajar mempercayai penilaiannya sendiri.

Tentu saja, orang tua tetap perlu memberikan batasan.

Misalnya, anak tidak bebas memilih apakah ingin tidur atau tidak. Tetapi di dalam rutinitas tidur tersebut, ia mungkin diberi pilihan buku cerita yang ingin dibaca.

Dengan begitu, anak belajar bahwa ada hal-hal yang memang menjadi aturan, tetapi ada pula hal-hal yang bisa ia tentukan sendiri.

3. Jangan Membuat Anak Malu Ketika Ia Takut

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang dewasa adalah menganggap rasa takut anak sebagai sesuatu yang berlebihan.

“Begitu saja takut.”

“Jangan cengeng.”

“Masa begitu saja tidak berani?”

“Lihat tuh, temanmu berani.”

Padahal, bagi anak, sesuatu yang terlihat kecil bagi orang dewasa bisa terasa sangat besar.

Ketika anak takut bertemu orang baru, takut tampil di depan kelas, takut tidur sendiri, atau takut mencoba permainan baru, respons orang tua dapat memengaruhi cara anak memandang emosinya sendiri.

Daripada mempermalukan rasa takutnya, cobalah mengakuinya.

“Kamu kelihatannya agak takut, ya.”

“Tidak apa-apa kalau kamu merasa gugup.”

“Coba kita lihat dulu dari sini. Kalau sudah siap, kamu boleh mencoba.”

Validasi bukan berarti membiarkan anak menghindari semua hal yang membuatnya takut.

Validasi berarti membantu anak memahami bahwa rasa takut adalah emosi yang boleh dirasakan.

Setelah anak merasa dimengerti, orang tua dapat membantunya menghadapi situasi tersebut secara perlahan.

Dengan cara ini, anak tidak belajar bahwa takut berarti lemah. Ia belajar bahwa takut adalah sesuatu yang bisa dikelola.

4. Puji Keberanian dan Proses, Bukan Hanya Hasil

Ketika anak mendapatkan nilai bagus, memenangkan perlombaan, atau berhasil melakukan sesuatu, tentu wajar jika orang tua merasa bangga.

Namun, jangan hanya memberikan apresiasi ketika hasilnya sempurna.

Justru, keberanian sering kali terlihat sebelum hasilnya diketahui.

Anak yang berani mengikuti lomba meskipun belum tentu menang sudah menunjukkan keberanian.

Anak yang berani menjawab pertanyaan di kelas meskipun mungkin salah juga sedang belajar berani.

Anak yang mencoba naik sepeda setelah beberapa kali jatuh sedang menunjukkan ketekunan.

Karena itu, daripada hanya berkata:

“Wah, kamu menang!”

Cobalah mengatakan:

“Hebat, kamu mau mencoba meskipun tadi sempat gugup.”

“Atas usaha kamu, kamu akhirnya bisa.”

“Tidak apa-apa belum berhasil. Yang penting kamu berani mencoba lagi.”

Pujian yang berfokus pada usaha dan proses membantu anak memahami bahwa kemampuan bukan sesuatu yang selalu tetap.

Anak belajar bahwa dirinya bisa berkembang melalui latihan, pengalaman, dan usaha.

Ini penting karena anak yang menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa dirinya “tidak mampu” cenderung lebih mudah menghindari tantangan.

Sebaliknya, anak yang melihat kegagalan sebagai bagian dari proses akan lebih berani mencoba lagi.

5. Biarkan Anak Mengalami Kegagalan yang Aman

Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya kecewa.

Tetapi melindungi anak dari setiap kegagalan justru bisa membuatnya kurang siap menghadapi kehidupan nyata.

Anak perlu mengalami kegagalan dalam lingkungan yang aman.

Misalnya, anak kalah dalam permainan.

Biarkan ia merasa kecewa.

Jika ia gagal membuat sesuatu, jangan buru-buru menyelesaikannya untuknya.

Jika hasil gambarnya tidak sesuai dengan yang ia harapkan, jangan langsung mengatakan bahwa semuanya bagus hanya untuk menghilangkan rasa kecewanya.

Kamu bisa berkata:

“Kelihatannya kamu kecewa karena belum berhasil.”

“Menurut kamu, apa yang bisa kita coba berbeda lain kali?”

Pertanyaan semacam ini membantu anak berpindah dari sekadar merasa gagal menuju proses mencari solusi.

Di sinilah keberanian berkembang.

Anak belajar bahwa kegagalan memang tidak menyenangkan, tetapi kegagalan bukan akhir dari segalanya.

Ia bisa mencoba lagi.

Ia bisa memperbaiki kesalahan.

Ia bisa meminta bantuan.

Dan ia bisa belajar dari pengalaman.

6. Jadilah Contoh dalam Menghadapi Ketakutan

Anak tidak hanya belajar dari nasihat orang tua.

Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat.

Cara orang tua menghadapi kesalahan, masalah, perubahan, dan ketidakpastian dapat menjadi model bagi anak.

Misalnya, ketika kamu melakukan kesalahan, daripada berusaha terlihat selalu sempurna, kamu bisa mengatakan:

“Wah, tadi Mama salah. Tidak apa-apa, Mama coba lagi.”

Atau ketika menghadapi sesuatu yang membuat gugup:

“Papa sebenarnya agak gugup, tapi Papa akan coba pelan-pelan.”

Dengan begitu, anak mendapatkan gambaran bahwa orang yang berani bukanlah orang yang tidak pernah merasa takut atau gugup.

Orang yang berani adalah orang yang tetap bisa bertindak meskipun memiliki rasa takut.

Orang tua juga tidak perlu berpura-pura selalu kuat.

Menunjukkan emosi secara sehat justru dapat membantu anak memahami bahwa perasaan seperti takut, kecewa, sedih, dan gugup adalah bagian normal dari kehidupan.

Yang penting adalah bagaimana kita merespons perasaan tersebut.

7. Ciptakan Rumah yang Membuat Anak Merasa Aman untuk Menjadi Dirinya Sendiri

Mungkin ini adalah salah satu fondasi terpenting.

Anak akan lebih mudah menjadi pemberani ketika ia tahu bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk pulang.

Artinya, anak tidak merasa bahwa kasih sayang orang tua hanya diberikan ketika ia berprestasi, menurut, atau berhasil.

Ia tetap merasa diterima ketika melakukan kesalahan.

Ia tetap bisa bercerita ketika mengalami masalah.

Ia tidak takut mengatakan bahwa dirinya sedang sedih atau takut.

Ia tahu bahwa meminta bantuan bukan berarti dirinya lemah.

Hubungan yang hangat dan responsif membantu anak mengembangkan rasa aman. Dari rasa aman itulah anak memiliki dasar untuk mengeksplorasi dunia di luar dirinya.

Bayangkan seorang anak yang tahu bahwa ketika ia mencoba sesuatu dan gagal, orang tuanya tidak akan langsung merendahkan dirinya.

Anak seperti ini memiliki ruang untuk bereksperimen.

Ia lebih mungkin berkata:

“Aku mau coba.”

“Kalau gagal, aku bisa coba lagi.”

“Kalau aku tidak tahu, aku bisa bertanya.”

Itulah bentuk keberanian yang sebenarnya.

Keberanian Tidak Tumbuh dalam Semalam

Perlu diingat, setiap anak memiliki temperamen yang berbeda.

Ada anak yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama.

Ada anak yang senang berbicara di depan orang lain. Ada yang lebih nyaman mengamati terlebih dahulu.

Ada anak yang langsung ingin mencoba permainan baru. Ada yang perlu melihat orang lain melakukannya beberapa kali sebelum ikut mencoba.

Karena itu, jangan menjadikan anak lain sebagai standar keberanian si kecil.

Tujuan parenting bukan membuat anak menjadi pemberani dengan memaksa mereka melakukan sesuatu yang belum siap mereka lakukan.

Tujuannya adalah membantu anak memperluas batas kenyamanannya secara bertahap.

Jika hari ini ia hanya berani berdiri di dekat permainan baru, itu sudah menjadi langkah.

Jika besok ia mau menyentuhnya, itu kemajuan.

Jika beberapa hari kemudian ia berani mencoba, itu adalah keberanian yang sedang tumbuh.

Hindari Membandingkan Anak dengan Anak Lain

Kalimat seperti:

“Lihat temanmu, dia berani.”

“Kakakmu dulu tidak seperti kamu.”

“Adik saja berani, masa kamu tidak?”

mungkin dimaksudkan untuk memotivasi.

Namun, perbandingan dapat membuat anak merasa bahwa dirinya tidak cukup baik.

Alih-alih membandingkan dengan anak lain, bandingkan dengan perkembangan dirinya sendiri.

“Kemarin kamu belum berani menyapa. Hari ini kamu sudah mau bilang halo.”

“Kemarin kamu minta Mama menemani. Sekarang kamu sudah mau mencoba sendiri.”

Perkembangan kecil seperti inilah yang layak dirayakan.

Karena keberanian tidak selalu terlihat besar.

Terkadang keberanian hanya berupa satu langkah kecil yang dilakukan anak meskipun hatinya masih merasa takut.

Pada Akhirnya, Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Selalu Menghilangkan Rasa Takutnya

Anak membutuhkan orang tua yang membantu mereka belajar menghadapi rasa takut.

Ada perbedaan besar antara keduanya.

Orang tua yang selalu menghilangkan rasa takut mungkin berkata:

“Sudah, jangan lakukan kalau kamu takut.”

Sementara orang tua yang membantu membangun keberanian mungkin berkata:

“Kamu takut, ya? Tidak apa-apa. Kita lihat dulu. Kalau sudah siap, kita coba bersama.”

Yang pertama mengajarkan anak untuk menghindari ketakutan.

Yang kedua mengajarkan anak bahwa ia mampu menghadapi ketakutan secara bertahap.

Dan ketika pengalaman itu berulang, anak mulai membangun keyakinan dalam dirinya:

“Ternyata aku bisa.”

Kalimat sederhana itu adalah salah satu fondasi penting dari kepercayaan diri.

Penutup

Jika ingin si kecil tumbuh menjadi pribadi yang pemberani, tidak perlu menunggu sampai ia besar.

Keberanian dibangun dari pengalaman sehari-hari: ketika anak diberi kesempatan mencoba, ketika kegagalannya diterima, ketika rasa takutnya tidak ditertawakan, ketika usahanya dihargai, dan ketika ia tahu bahwa orang tuanya selalu menjadi tempat yang aman.

Jadi, jangan hanya mengajarkan anak untuk tidak takut.

Ajarkan bahwa takut itu boleh.

Gagal itu boleh.

Gugup itu boleh.

Meminta bantuan juga boleh.

Yang penting, sedikit demi sedikit, anak belajar untuk tetap melangkah.

Karena anak yang pemberani bukanlah anak yang tidak pernah takut.

Anak yang pemberani adalah anak yang belajar berkata, “Aku memang takut, tetapi aku mau mencoba.”***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore