seseorang yang kerap bertengkar dengan pasangan. (Magnific)
JawaPos.com - Pernahkah Anda bertengkar dengan pasangan hanya karena masalah yang sebenarnya sangat kecil?
Hanya karena pesan WhatsApp yang tidak dibalas. Karena pasangan lupa membeli sesuatu. Karena cara berbicara yang dianggap ketus. Karena handuk tidak diletakkan pada tempatnya. Karena pasangan terlalu sibuk dengan ponselnya. Atau bahkan hanya karena salah satu dari kalian pulang sedikit lebih terlambat dari yang dijanjikan.
Awalnya mungkin terlihat seperti masalah sederhana.
Namun, entah bagaimana, percakapan kemudian berubah menjadi pertengkaran panjang.
“Dari dulu kamu memang begitu.”
“Kamu nggak pernah mengerti aku.”
“Kalau memang sayang, harusnya kamu tahu.”
“Kamu selalu mementingkan diri sendiri.”
Dan dalam hitungan menit, persoalan kecil yang sebenarnya bisa selesai dalam beberapa kalimat berubah menjadi pertengkaran tentang seluruh hubungan.
Jika Anda pernah mengalami hal seperti ini, Anda tidak sendirian.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (8/9), dalam banyak hubungan, yang membuat pasangan bertengkar bukan semata-mata masalah yang sedang dibicarakan, melainkan makna emosional yang diberikan di balik masalah tersebut.
Pasangan tidak benar-benar bertengkar tentang piring yang belum dicuci.
Mereka mungkin sedang bertengkar tentang perasaan tidak dihargai.
Mereka tidak benar-benar bertengkar tentang pesan yang terlambat dibalas.
Mereka mungkin sedang berdebat tentang perasaan diabaikan.
Mereka tidak benar-benar bertengkar tentang siapa yang lupa membeli sesuatu.
Mereka mungkin sedang mempertanyakan, “Apakah aku penting bagimu?”
Karena itu, ketika pertengkaran kecil terus berulang, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya cara menyelesaikan masalahnya, tetapi cara pasangan memandang satu sama lain ketika konflik terjadi.
Dan ada satu kalimat sederhana yang bisa membantu mengubah arah percakapan:
“Kita satu tim, bukan musuh.”
Enam kata sederhana.
Tetapi jika diucapkan pada waktu dan dengan cara yang tepat, kalimat ini dapat mengingatkan kedua orang bahwa mereka sebenarnya tidak sedang berhadapan satu sama lain.
Mereka sedang menghadapi sebuah masalah bersama.
Mengapa hal kecil bisa menjadi pertengkaran besar?
Dalam hubungan dekat, manusia memiliki kebutuhan emosional yang sangat kuat untuk merasa aman, dihargai, didengarkan, dan dianggap penting.
Karena itu, sebuah tindakan kecil dari pasangan terkadang bisa terasa jauh lebih besar daripada tindakan itu sendiri.
Misalnya, pasangan lupa mengabari ketika sedang sibuk.
Secara objektif, masalahnya mungkin hanya satu pesan.
Tetapi di dalam pikiran seseorang, pesan yang tidak datang itu bisa diterjemahkan menjadi:
“Dia tidak memikirkanku.”
“Dia tidak menghargai waktuku.”
“Dia sudah tidak peduli.”
“Jangan-jangan perasaannya berubah.”
Di sinilah konflik mulai berkembang.
Fakta yang terjadi mungkin kecil, tetapi interpretasi emosional terhadap fakta tersebut bisa sangat besar.
Ketika emosi sudah meningkat, otak juga cenderung lebih sulit memproses situasi secara tenang. Seseorang bisa mulai mengingat kesalahan-kesalahan lama, mencari bukti bahwa pasangannya memang “selalu seperti itu”, atau mengucapkan kalimat yang sebenarnya tidak akan pernah dikatakan jika dirinya sedang tenang.
Akhirnya, masalah hari ini berubah menjadi daftar kesalahan selama bertahun-tahun.
Padahal, awalnya hanya soal satu hal kecil.
Yang sering menjadi masalah bukan konfliknya, tetapi cara kita menghadapi konflik
Bertengkar dalam hubungan sebenarnya bukan sesuatu yang otomatis berarti hubungan tersebut buruk.
Dua orang yang hidup bersama tentu memiliki perbedaan.
Mereka berbeda dalam kebiasaan, cara berpikir, cara berkomunikasi, kebutuhan emosional, dan cara menyelesaikan masalah.
Yang menjadi persoalan adalah ketika setiap perbedaan dianggap sebagai ancaman.
Ketika pasangan terlambat, kita menganggapnya tidak menghargai.
Ketika pasangan diam, kita menganggapnya tidak peduli.
Ketika pasangan mengkritik, kita menganggapnya menyerang.
Ketika pasangan menjelaskan dirinya, kita menganggapnya mencari alasan.
Akhirnya, masing-masing orang masuk ke mode bertahan dan menyerang.
Satu orang menyerang.
Yang lain membela diri.
Kemudian yang satu merasa tidak didengarkan dan menyerang lebih keras.
Yang lain merasa semakin terpojok dan menjadi semakin defensif.
Siklus tersebut terus berputar.
Inilah alasan mengapa sebuah kalimat seperti “Kita satu tim, bukan musuh” menjadi penting.
Kalimat itu mencoba mengubah posisi psikologis dari:
“Aku harus menang melawanmu.”
menjadi:
“Kita perlu menyelesaikan ini bersama.”
“Kita satu tim, bukan musuh”
Kalimat ini bukan mantra ajaib yang akan membuat semua konflik langsung hilang.
Namun, maknanya sangat penting.
Ketika pasangan sedang bertengkar, mudah sekali melihat orang di depan kita sebagai sumber masalah.
Padahal, pasangan seharusnya bukan lawan yang harus dikalahkan.
Masalahnyalah yang perlu dihadapi.
Bayangkan dua orang sedang mendorong meja yang berat.
Jika mereka saling berhadapan dan saling mendorong, meja itu tidak akan bergerak.
Tetapi jika keduanya berdiri di sisi yang sama dan mendorong ke arah yang sama, mereka memiliki kemungkinan lebih besar untuk memindahkannya.
Hubungan juga demikian.
Jika Anda dan pasangan menghabiskan seluruh energi untuk membuktikan siapa yang salah, masalah mungkin tidak pernah benar-benar selesai.
Tetapi jika keduanya bertanya:
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kita?”
percakapan menjadi berbeda.
Enam kata ini bukan berarti Anda harus selalu mengalah
Ada satu hal penting yang perlu dipahami.
Mengatakan “kita satu tim” bukan berarti Anda harus menerima semua perilaku pasangan.
Menjadi satu tim bukan berarti tidak boleh memiliki batasan.
Bukan berarti Anda harus meminta maaf meskipun tidak melakukan kesalahan.
Bukan berarti Anda harus diam ketika disakiti.
Dan bukan berarti semua konflik harus diselesaikan dengan mengorbankan diri sendiri.
Justru hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan pasangan.
Anda tetap boleh mengatakan:
“Aku tidak suka ketika kamu berbicara seperti itu.”
“Aku merasa terluka ketika kamu melakukan itu.”
“Aku ingin kita mencari cara yang berbeda.”
Tetapi ada perbedaan besar antara mengatakan:
“Kita punya masalah yang perlu kita selesaikan.”
dan:
“Kamu adalah masalah dalam hidupku.”
Kalimat pertama membuka pintu kerja sama.
Kalimat kedua membuat seseorang merasa diserang.
Coba perhatikan kata “kita”
Ada alasan mengapa kalimat tersebut menggunakan kata “kita”, bukan hanya “aku” atau “kamu”.
“Kamu selalu…”
“Kamu memang…”
“Kamu nggak pernah…”
Kalimat-kalimat seperti itu membuat percakapan berpusat pada kesalahan individu.
Sebaliknya:
“Bagaimana kita bisa memperbaiki ini?”
“Apa yang bisa kita lakukan supaya tidak terulang?”
“Bagaimana kita bisa memahami satu sama lain?”
menggeser fokus kepada hubungan.
Kata “kita” menciptakan sebuah perspektif bersama.
Bukan berarti semua kesalahan harus dibagi 50:50.
Melainkan bahwa ketika Anda memilih untuk mempertahankan hubungan, Anda tidak lagi melihat pasangan sebagai orang yang harus dikalahkan.
Anda melihatnya sebagai seseorang yang perlu diajak mencari jalan keluar.
Mengapa pasangan sering membawa masalah lama ke dalam pertengkaran baru?
Pernah mengalami ini?
Anda sedang membicarakan satu masalah.
Tiba-tiba pasangan berkata:
“Waktu itu juga kamu melakukan hal yang sama.”
Lalu Anda membalas:
“Lho, kamu sendiri dulu pernah…”
Dan dalam beberapa menit, percakapan berubah menjadi persidangan hubungan.
Semua kesalahan masa lalu dibuka kembali.
Ini biasanya terjadi ketika masalah sebelumnya belum benar-benar terselesaikan secara emosional.
Seseorang mungkin mengatakan sudah memaafkan, tetapi rasa kecewanya masih tersimpan.
Ketika konflik baru terjadi, pengalaman lama itu kembali muncul.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Masalah kita sekarang apa?”
Terkadang pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Perasaan apa yang sebenarnya belum selesai?”
Mungkin bukan kemarahannya yang paling besar.
Mungkin rasa tidak dihargai.
Mungkin rasa takut ditinggalkan.
Mungkin rasa kesepian meskipun sedang berada dalam hubungan.
Mungkin rasa bahwa usaha yang diberikan tidak pernah terlihat.
Ketika kebutuhan emosional tersebut mulai terlihat, konflik sering menjadi lebih mudah dipahami.
Jangan ucapkan enam kata itu ketika emosi sedang meledak
Ini juga penting.
Kalimat “kita satu tim, bukan musuh” akan kehilangan maknanya jika diucapkan dengan nada mengejek.
Misalnya:
“Ya sudah, kita satu tim, bukan musuh!”
sambil membanting pintu.
Pesannya tentu berbeda.
Yang penting bukan hanya kata-katanya, tetapi juga kondisi emosional dan nada ketika mengucapkannya.
Jika pertengkaran sudah terlalu panas, mengambil jeda justru bisa menjadi pilihan yang lebih sehat.
Anda bisa mengatakan:
“Aku sedang terlalu emosi untuk membicarakan ini dengan baik. Aku ingin kita tenang dulu, lalu kita lanjutkan.”
Jeda bukan berarti melarikan diri dari masalah.
Jeda yang sehat berarti mengambil waktu untuk menurunkan intensitas emosi sebelum kembali berbicara.
Yang penting, jangan menjadikan diam sebagai hukuman.
Berikan kepastian bahwa percakapan akan dilanjutkan setelah keduanya lebih tenang.
Setelah tenang, bicarakan perasaan di balik masalah
Daripada mengatakan:
“Kamu selalu mengabaikanku.”
Cobalah:
“Ketika kamu tidak memberi kabar, aku merasa tidak dianggap penting. Aku ingin kita mencari cara supaya aku tidak merasa seperti itu lagi.”
Perbedaannya sangat besar.
Kalimat pertama menyerang karakter.
Kalimat kedua menjelaskan pengalaman emosional.
Dalam psikologi hubungan, kemampuan mengungkapkan kebutuhan dan perasaan tanpa melakukan serangan pribadi merupakan bagian penting dari komunikasi yang sehat.
Anda tidak harus berbicara dengan sempurna.
Yang penting adalah berusaha membuat pasangan memahami apa yang terjadi di dalam diri Anda, bukan sekadar membuatnya merasa bersalah.
Gunakan enam kata itu ketika Anda mulai merasa sedang melawan pasangan
Ada satu momen yang sangat penting dalam konflik.
Yaitu ketika Anda mulai berpikir:
“Aku harus membuat dia mengakui bahwa aku benar.”
Di titik tersebut, coba berhenti sebentar.
Tarik napas.
Kemudian ingat:
“Kita satu tim, bukan musuh.”
Lalu tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah aku sedang mencoba menyelesaikan masalah atau memenangkan pertengkaran?”
Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat penting.
Karena memenangkan argumen tidak selalu berarti memenangkan hubungan.
Anda bisa memenangkan perdebatan tetapi kehilangan rasa aman pasangan.
Anda bisa membuktikan bahwa Anda benar tetapi membuat pasangan semakin jauh.
Anda bisa mendapatkan permintaan maaf tetapi meninggalkan luka baru.
Dalam hubungan jangka panjang, tujuan akhirnya bukan selalu menentukan siapa yang paling benar.
Tujuannya adalah menemukan cara agar dua orang dapat tetap saling menghormati meskipun mereka berbeda.
Jangan hanya mengucapkannya ketika bertengkar
Kalimat tersebut bahkan lebih kuat jika menjadi prinsip hubungan sehari-hari.
Ketika pasangan berhasil melakukan sesuatu, hargai.
Ketika pasangan berusaha, perhatikan.
Ketika pasangan sedang lelah, jangan selalu menuntut.
Ketika terjadi kesalahan, jangan langsung menyimpulkan karakter seseorang dari satu tindakan.
Hubungan yang kuat tidak dibangun hanya ketika terjadi konflik.
Ia dibangun dari ribuan interaksi kecil ketika pasangan merasa:
“Aku aman bersamanya.”
“Aku bisa bicara tanpa langsung diserang.”
“Kesalahanku tidak otomatis membuatku menjadi orang yang buruk.”
“Dia tidak selalu setuju denganku, tetapi dia tetap menghormatiku.”
Rasa aman seperti ini menjadi fondasi ketika konflik benar-benar datang.
Dan jika masalahnya ternyata bukan hal sepele?
Ada kalanya pertengkaran yang terlihat “remeh” sebenarnya hanya permukaan dari masalah yang lebih serius.
Pertengkaran berulang bisa menjadi tanda adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi, pola komunikasi yang buruk, masalah kepercayaan, atau luka hubungan yang belum diselesaikan.
Dan tentu saja, tidak semua konflik bisa diselesaikan hanya dengan komunikasi yang lebih baik.
Jika hubungan melibatkan kekerasan, ancaman, kontrol yang ekstrem, penghinaan terus-menerus, atau perilaku yang membuat seseorang merasa tidak aman, persoalannya bukan sekadar “kurang komunikasi”.
Dalam situasi seperti itu, keselamatan dan batasan pribadi harus menjadi prioritas.
Pada akhirnya, pasangan bukan musuh yang harus dikalahkan
Mungkin Anda dan pasangan akan tetap bertengkar.
Mungkin Anda masih akan kesal karena hal-hal kecil.
Mungkin akan ada hari ketika Anda salah memahami perkataan pasangan.
Itu manusiawi.
Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana dua orang perlahan belajar bagaimana kembali terhubung setelah konflik.
Jadi, lain kali ketika pertengkaran kecil mulai membesar, sebelum mengeluarkan daftar kesalahan pasangan, coba berhenti sebentar.
Tarik napas.
Lihat pasangan Anda.
Dan jika situasinya memungkinkan, katakan dengan sungguh-sungguh:
“Kita satu tim, bukan musuh.”
Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan yang jauh lebih penting:
“Jadi, bagaimana kita bisa menyelesaikan ini bersama?”
Mungkin masalahnya belum langsung selesai.
Tetapi setidaknya, Anda sudah mengubah arah pertengkaran.
Dari aku melawan kamu, menjadi kita melawan masalah.
Dan sering kali, perubahan kecil dalam cara melihat pasangan itulah yang menjadi awal dari perubahan yang jauh lebih besar dalam sebuah hubungan.***