
Ilustrasi pola parenting helikopter, salah satunya orang tua mengerjakan tugas sekolah anak. (Irish Independent)
JawaPos.com - Dalam dinamika hubungan antara orang tua dan anak, ada satu momen yang hampir selalu terasa menantang: ketika anak diminta mengerjakan pekerjaan rumah.
Bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena dorongan alami dalam diri mereka yang ingin bebas, memilih sendiri, dan tidak merasa dikendalikan.
Banyak orang tua tanpa sadar menggunakan pendekatan yang justru memicu perlawanan. Semakin ditekan, anak justru semakin menolak.
Semakin diperintah, semakin muncul keinginan untuk melakukan kebalikan.
Inilah sisi psikologis yang sering luput disadari—bahwa anak bukan hanya butuh arahan, tetapi juga rasa memiliki kendali atas pilihan mereka.
Dilansir dari yourtango.com, penulis Katya Seberson mengungkap sebuah trik psikologi sederhana namun sangat efektif, yang mampu membuat anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah tanpa perlu perdebatan panjang.
1. Memberi Ilusi Pilihan, Bukan Perintah Langsung
Alih-alih mengatakan “kerjakan PR sekarang”, pendekatan ini mengubah perintah menjadi pilihan. Misalnya, anak diberi dua opsi: mengerjakan seluruh tugas atau memulai sebagian kecil terlebih dahulu.
Secara psikologis, anak akan cenderung memilih opsi yang lebih ringan. Namun tanpa disadari, mereka tetap masuk ke dalam proses mengerjakan tugas tersebut. Fokus mereka bergeser dari “dipaksa mengerjakan” menjadi “memilih apa yang ingin dikerjakan”.
1. Mengalihkan Fokus dari Penolakan ke Pengambilan Keputusan
Trik ini bekerja karena otak anak diarahkan untuk membuat keputusan, bukan menolak perintah. Ketika mereka dihadapkan pada dua pilihan, perhatian mereka tidak lagi pada “saya tidak mau”, tetapi pada “saya pilih yang mana”.
Ini mirip dengan teknik klasik yang sering digunakan dalam dunia medis anak: memberi pilihan terbatas agar anak merasa punya kendali, padahal arah akhirnya tetap sama.
1. Memberikan Rasa Kendali yang Dibutuhkan Anak
Anak-anak, terutama yang sedang tumbuh, memiliki kebutuhan besar akan otonomi. Ketika mereka merasa dikendalikan sepenuhnya, muncul reaksi penolakan sebagai bentuk mempertahankan kebebasan.
Dengan memberi pilihan, orang tua sebenarnya sedang “mengembalikan” rasa kendali itu—meski dalam batas yang sudah diarahkan. Hasilnya, anak lebih kooperatif tanpa merasa dipaksa.
