
seseorang yang sering diabaikan saat masih kecil./Freepik/freepik
JawaPos.com - Banyak orang tumbuh besar tanpa menyadari bahwa luka emosional masa kecil masih ikut berbicara dalam kehidupan dewasanya.
Salah satu luka yang paling sering terjadi—namun paling jarang disadari—adalah pengabaian emosional di masa kanak-kanak.
Ini bukan tentang kekerasan fisik atau kata-kata kasar, melainkan tentang perasaan yang tidak dilihat, tidak divalidasi, atau dianggap tidak penting.
Anak yang emosinya diabaikan sering kali tampak “baik-baik saja” dari luar. Mereka tetap sekolah, tetap makan, tetap tumbuh.
Namun di dalam, mereka belajar satu pelajaran sunyi: perasaanku tidak penting. Psikologi menunjukkan bahwa pengalaman ini dapat membentuk pola perilaku tertentu yang terbawa hingga dewasa.
Dilansir dari Geediting pada Senin (26/1), jika Anda sering merasa “berbeda” tanpa tahu alasannya, atau sulit menjelaskan mengapa Anda bereaksi dengan cara tertentu, delapan perilaku berikut bisa menjadi cerminan dari pengalaman pengabaian emosional di masa kecil.
1. Sulit Mengenali dan Menyebutkan Perasaan Sendiri
Salah satu dampak paling umum dari pengabaian emosional adalah kebingungan terhadap emosi sendiri. Anda mungkin merasa tidak nyaman saat ditanya, “Kamu sebenarnya merasa apa?” atau hanya bisa menjawab, “Biasa saja,” meskipun di dalam diri ada kekacauan.
Ini terjadi karena sejak kecil Anda tidak diajari bahasa emosi. Ketika sedih, marah, atau takut tidak pernah direspons dengan empati, otak belajar untuk menekan sinyal emosional tersebut. Akibatnya, saat dewasa, Anda kesulitan membedakan antara lelah, sedih, kecewa, atau hampa.
2. Terlalu Mandiri dan Enggan Meminta Bantuan
Mandiri sering dianggap sebagai sifat positif. Namun pada konteks ini, kemandirian yang berlebihan bisa menjadi mekanisme bertahan hidup. Anda belajar sejak dini bahwa bergantung pada orang lain tidak aman atau tidak ada gunanya.
Sebagai orang dewasa, Anda mungkin merasa lebih nyaman memikul semuanya sendiri, bahkan ketika sebenarnya kewalahan. Meminta bantuan terasa seperti kelemahan, atau lebih buruk lagi, terasa memalukan.
3. Merasa Bersalah Saat Memiliki Kebutuhan Emosional
Anda mungkin merasa bersalah hanya karena ingin didengarkan, dimengerti, atau diperhatikan. Ada suara batin yang berkata, “Jangan lebay,” atau “Orang lain lebih menderita daripada kamu.”
Perasaan ini berasal dari masa kecil ketika kebutuhan emosional Anda dianggap berlebihan atau tidak penting. Akibatnya, hingga kini Anda cenderung mengecilkan perasaan sendiri dan menempatkan kebutuhan orang lain di atas segalanya.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
