
Memahami Trauma Generasi: Cara Menyembuhkan Luka yang Diturunkan dari Keluarga (Freepik)
JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa hubungan dengan orang tua terasa rumit atau tegang, tapi kamu tidak tahu pasti alasannya? Bisa jadi, tanpa disadari kamu sedang membawa beban dari trauma generasi, luka emosional yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurut penjelasan dari salah satu video di kanal youtube psikologi populer yakni Psych2Go, dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai generational trauma atau trauma lintas generasi.
Istilah ini menggambarkan luka emosional, psikologis, bahkan fisik yang diteruskan dari orang tua atau kakek-nenek kepada anak cucu mereka. Biasanya, trauma ini lahir dari pengalaman hidup yang berat, rasa sakit yang tak terselesaikan, atau pola perilaku tidak sehat yang belum pernah disembuhkan oleh generasi sebelumnya.
Tanpa disadari, orang tua yang belum sempat memulihkan luka batinnya bisa menurunkan pola yang sama kepada anak-anak mereka. menciptakan siklus luka emosional, perilaku toksik, dan ketidakharmonisan yang terus berulang.
Lalu, bagaimana cara mengenali trauma generasi dan memulai proses penyembuhan agar siklus itu berhenti di kita? Berikut penjelasannya, yuk baca sampai akhir!
1. Memahami Bahwa Orang Tua Juga Punya Latar Belakang dan Luka
Langkah pertama untuk menyembuhkan trauma generasi adalah dengan melihat orang tua dengan empati. Mungkin kamu sering merasa hubungan dengan mereka terasa renggang, penuh salah paham, atau bahkan dingin.
Kadang, kita diajari bahwa solusi terbaik adalah dengan “membuat batas” atau menjauh. Tapi, menurut psikologi hubungan keluarga, jarak bukan satu-satunya jalan menuju penyembuhan.
Orang tua sering kali berperilaku berdasarkan cara mereka dibesarkan. Mereka mungkin tidak sadar bahwa sikap atau ucapan mereka bisa melukai, karena mereka sendiri dulu tumbuh dengan pola yang sama.
Dengan menyadari hal ini, kamu bisa mulai melihat bahwa perilaku mereka bukan semata-mata karena tidak peduli, melainkan karena mereka tidak pernah diajarkan cara yang lebih sehat.
2. Gunakan Empati, Bukan Menyalahkan
Empati bukan berarti membenarkan perilaku toksik, tetapi berusaha memahami dari mana asal luka itu. Cobalah memulai percakapan dengan bahasa yang tenang dan tidak menghakimi. Gunakan kalimat seperti, “Aku merasa sedih saat kamu…” daripada “Kamu selalu membuatku…”.
Pola komunikasi seperti ini membantu kedua pihak merasa didengar tanpa harus memicu sikap defensif. Menurut ahli psikologi keluarga, rasa saling didengar adalah fondasi dari proses penyembuhan.
Menghindari nada menyalahkan juga membantu membuka ruang refleksi bersama. Saat tuduhan dihapus dari percakapan, baik kamu maupun orang tua bisa melihat masalah secara lebih jernih.
3. Membangun Batasan yang Sehat, Bukan Dinding Pemisah
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022