Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Oktober 2025 | 03.04 WIB

Hati-Hati Keliru! 6 Strategi Pola Asuh yang Terlihat Benar tapi Ternyata Diam-Diam Merusak Perkembangan Mental Remaja

Ilustrasi pola asuh orang tua yang keliru (peoplecreations/freepik)


JawaPos.com - Mendidik anak remaja sering kali terasa seperti berjalan di atas tali.

Banyak orang tua merasa sudah menerapkan cara terbaik, padahal tanpa disadari, beberapa strategi yang tampak bijak justru berdampak sebaliknya.

Pola asuh yang terlalu protektif atau terlalu keras bisa membuat remaja kehilangan kepercayaan diri dan kemandirian.

Baca Juga: 7 Perilaku Anak yang Menjadi Tanda Keberhasilan Pola Asuh Orang Tua Terbaik

Menjadi orang tua bagi remaja bukan hanya tentang memberi aturan, melainkan tentang memahami fase hidup mereka yang penuh gejolak dan pencarian jati diri.

Remaja membutuhkan bimbingan yang tepat, bukan kontrol berlebihan atau tekanan yang membuat mereka merasa tidak mampu.

Beberapa strategi pengasuhan yang sering dianggap membantu, ternyata justru memperburuk hubungan orang tua dan anak.

Dalam artikel ini, Anda akan memahami 6 kesalahan pola asuh yang tampak benar, namun diam-diam merusak perkembangan mental remaja serta cara bijak untuk menggantinya.

Baca Juga: Pola Asuh Overprotective, Benarkah Bikin Anak Kurang Berani Saat Dewasa? Ini Faktanya!

Hal ini dilansir dari kanal YouTube Daniel Wong - Teen Coach pada Senin (13/10).

1. Membuat Hidup Remaja Terlalu Mudah

Sebagai orang tua, naluri untuk melindungi anak dari rasa sakit, kegagalan, atau kekecewaan sangatlah kuat.

Namun, jika Anda terlalu sering menyingkirkan rintangan dari jalan anak, Anda tanpa sadar menanamkan keyakinan bahwa mereka tidak mampu menghadapinya sendiri.

Hal ini dapat menghambat pembentukan rasa tanggung jawab dan ketangguhan mental pada remaja.

Misalnya, ketika anak lupa membawa perlengkapan sekolah atau mengalami konflik dengan teman, dan Anda langsung turun tangan untuk menyelesaikannya, mereka kehilangan kesempatan belajar menghadapi konsekuensi serta mengasah kemampuan sosialnya.

Dalam jangka panjang, mereka mungkin tumbuh menjadi pribadi yang mudah menyerah dan bergantung pada orang lain.

Cara terbaik adalah memberikan ruang bagi remaja untuk menghadapi tantangan sesuai kapasitasnya.

Selama tidak membahayakan, biarkan mereka belajar dari kesalahan dan mencari solusi sendiri.

Dengan begitu, mereka akan tumbuh menjadi individu yang tangguh dan percaya diri menghadapi dunia nyata.

2. Terlalu Bergantung pada Hukuman

Menghukum anak dengan cara mencabut hak istimewa atau melarang kegiatan tertentu tampak efektif di awal, tetapi jika dilakukan berlebihan, justru dapat menimbulkan kebencian dan perlawanan.

Hukuman keras sering kali tidak mengajarkan tanggung jawab, melainkan hanya menanamkan rasa takut dan perasaan tidak dihargai.

Sebagai contoh, ketika remaja bersikap tidak sopan lalu Anda langsung mengambil ponselnya selama seminggu, kemungkinan besar ia tidak belajar tentang rasa hormat, melainkan merasa diperlakukan tidak adil.

Sikap defensif dan penolakan terhadap nasihat orang tua pun akan semakin kuat.

Daripada berfokus pada hukuman, ajak anak berdialog dan pahami penyebab perilaku tersebut.

Bimbing mereka untuk mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat dan hormat.

Pendekatan berbasis empati akan jauh lebih efektif dalam membangun karakter dan kedewasaan emosional remaja.

3. Memaksa Anak untuk Meminta Maaf

Banyak orang tua menuntut anak segera meminta maaf saat mereka berbuat salah, namun permintaan maaf yang dipaksakan jarang tulus.

Alih-alih menumbuhkan empati, tindakan ini justru mengajarkan bahwa “maaf” hanyalah formalitas untuk menghindari masalah.

Akibatnya, anak tidak benar-benar memahami dampak dari tindakannya.

Contohnya, ketika remaja bertengkar dengan saudaranya dan Anda memaksanya untuk berkata maaf, kemungkinan besar ia hanya melakukannya karena terpaksa, bukan karena penyesalan.

Permintaan maaf semacam ini tidak membangun kesadaran emosional, bahkan bisa menimbulkan rasa kesal.

Langkah yang lebih efektif adalah mengajak anak merefleksikan perbuatannya.

Tanyakan bagaimana perasaannya jika berada di posisi orang lain dan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki hubungan.

Dengan begitu, anak belajar bertanggung jawab atas tindakannya tanpa kehilangan rasa empati.

4. Mengatur Secara Berlebihan Urusan Sekolah Anak

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak memang penting, tetapi jika berubah menjadi pengawasan yang terlalu ketat, hasilnya justru kontraproduktif.

Remaja yang terus-menerus diingatkan tentang tugas atau nilai sekolah cenderung kehilangan motivasi internal dan menjadi terlalu bergantung pada dorongan eksternal.

Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang diberi otonomi dalam mengatur kegiatan belajarnya lebih mampu mengembangkan disiplin diri serta kemampuan manajemen waktu.

Sebaliknya, orang tua yang terlalu sering mengatur tugas dan nilai justru membuat anak kehilangan rasa tanggung jawab pribadi.

Berikan kepercayaan pada anak untuk mengelola pekerjaannya sendiri.

Anda bisa membantu dengan pertanyaan reflektif seperti, “Apa rencanamu untuk menyelesaikan tugas ini?”

Pendekatan seperti ini membangun rasa tanggung jawab dan kemampuan berpikir mandiri yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan dewasa.

5. Terlalu Banyak Ceramah dan Tidak Mendengarkan

Memberi nasihat memang bagian dari peran orang tua, tetapi jika setiap percakapan berubah menjadi ceramah panjang, remaja justru akan menutup diri.

Ketika Anda terus berbicara tanpa memberi ruang bagi anak untuk berpendapat, komunikasi menjadi satu arah dan tidak efektif.

Bayangkan situasi ketika anak pulang terlambat dan Anda langsung memberikan ceramah panjang tentang tanggung jawab.

Mereka mungkin mengangguk, tetapi sebenarnya tidak menyerap pesan apa pun.

Hal ini hanya membuat mereka semakin menjauh secara emosional.

Untuk membangun komunikasi yang sehat, dengarkan lebih banyak daripada berbicara.

Ajak anak berdialog dan hargai pandangannya.

Dengan cara ini, mereka akan merasa dipercaya dan lebih terbuka dalam berbagi pemikiran maupun perasaan.

6. Menyuap Anak dengan Imbalan

Banyak orang tua menggunakan hadiah atau uang sebagai cara untuk memotivasi anak agar berperilaku baik atau meraih prestasi.

Meski tampak berhasil di awal, strategi ini melemahkan motivasi intrinsik remaja.

Mereka belajar untuk bertindak hanya demi hadiah, bukan karena memahami nilai dari usaha itu sendiri.

Contohnya, ketika Anda menjanjikan uang atau barang baru untuk nilai bagus, anak mungkin bekerja keras sementara waktu, tetapi motivasinya akan hilang begitu imbalan berhenti.

Lebih buruk lagi, mereka bisa merasa dimanipulasi dan kehilangan minat terhadap proses belajar.

Sebagai gantinya, bantu anak memahami hubungan antara usaha, nilai, dan tujuan pribadinya.

Diskusikan apa yang membuatnya tertarik pada suatu bidang dan bagaimana prestasi bisa membantu mencapai impian tersebut.

Dengan demikian, motivasi tumbuh dari dalam diri, bukan dari hadiah sementara.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore