
Ilustrasi seorang anak yang duduk sendirian sambil menunduk, dengan figur orang tua berdiri di latar belakang yang tampak dingin./Freepik
JawaPos.com - Masa kecil membentuk fondasi karakter dan kesehatan emosional seseorang di masa depan. Sayangnya, tidak semua anak mendapat dukungan emosional yang memadai dari orang tuanya. Pola asuh yang tidak bertanggung jawab secara emosional sering kali meninggalkan luka mendalam.
Melansir dari Geediting.com Minggu (10/8), ada tujuh frasa umum yang menjadi pertanda kuat pola asuh tersebut.
Frasa-frasa ini, yang mungkin terdengar sepele, sebenarnya mengirimkan pesan yang tidak sehat. Mengenali ungkapan ini adalah langkah penting untuk memahami dampak masa lalu.
1. "Kamu Terlalu Sensitif"
Ungkapan ini adalah cara orang tua menolak perasaan yang ditunjukkan anak. Anak-anak yang sering mendengar ini belajar untuk menekan emosi. Mereka menganggap perasaan sebagai sesuatu yang buruk atau tidak penting.
Mereka akan tumbuh dewasa dengan perasaan tidak nyaman saat mengungkapkan emosi. Ini membuat mereka kesulitan membangun hubungan yang tulus dan mendalam dengan orang lain.
2. "Karena Saya Bilang Begitu"
Frasa ini menutup semua ruang untuk diskusi dan pertanyaan dari anak. Pesan yang disampaikan adalah bahwa anak harus patuh tanpa alasan yang jelas. Anak-anak yang mendengar ini akan ragu untuk mempertanyakan aturan.
Mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang takut mengajukan pertanyaan di tempat kerja. Mereka juga cenderung menerima segala sesuatu tanpa berpikir kritis.
3. "Kenapa Kamu Tidak Bisa Lebih Mirip Kakakmu?"
Perbandingan dengan saudara atau orang lain adalah cara orang tua menyingkirkan identitas unik anak. Ungkapan ini menyampaikan pesan bahwa mereka tidak cukup baik apa adanya. Anak-anak yang dibandingkan akan merasa tidak berharga.
Mereka akan terus-menerus mengukur prestasi mereka terhadap orang lain. Mereka selalu merasa tidak puas dengan pencapaian yang sudah diraih.
4. "Hentikan Tangisanmu, Tidak Ada yang Salah"
Pesan ini membatalkan validitas emosi yang dirasakan oleh anak. Anak-anak yang sering mendengar ini belajar untuk mengabaikan perasaannya. Mereka menganggap tangisan itu sebagai hal memalukan.
Mereka dewasa akan mengalami kesulitan mengakui saat merasa sedih atau takut. Perasaan sedih dan takut akan selalu mereka pendam dan sembunyikan dari orang lain.

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
