Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Juli 2025 | 01.28 WIB

Pentingnya Perhatian Orang Tua, 7 Cara Mengatasi Depresi pada Remaja yang Perlu Diketahui agar Tidak Mengganggu Perkembangan Diri

Ilustrasi depresi pada remaja.(Freepik) - Image

Ilustrasi depresi pada remaja.(Freepik)

JawaPos.com - Masa remaja merupakan fase yang penuh dinamika, termasuk perubahan suasana hati yang cukup drastis. Ketidakstabilan emosi ini kerap terjadi karena berbagai alasan, seperti putus cinta, menjadi korban penipuan daring (online catfishing), nilai akademik yang tidak memuaskan, atau merasa kurang mendapatkan perhatian dari orang tua.

Situasi tersebut tidak jarang menimbulkan berbagai permasalahan, baik di lingkungan sekolah, rumah, maupun dalam pergaulan sosial. Banyak orang menganggap perubahan suasana hati pada remaja sebagai sesuatu yang lumrah karena sedang melewati proses pendewasaan. Padahal, kondisi seperti ini bisa menjadi tanda awal dari gangguan mental serius, seperti depresi, yang seringkali tidak disadari dan terabaikan.

Mengutip informasi dari laman resmi rsmh.co.id, depresi didefinisikan sebagai gangguan emosional yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam, merasa tidak berharga, diliputi rasa bersalah, keinginan untuk menjauh dari lingkungan sosial, gangguan tidur (baik insomnia maupun tidur berlebihan), kehilangan nafsu makan, serta hilangnya minat atau kegembiraan dalam aktivitas yang sebelumnya disukai.

Depresi bukan hanya dialami oleh orang dewasa. Remaja pun berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental ini. Berdasarkan penjelasan dari alodokter.com, penyebab depresi pada remaja bisa berasal dari berbagai faktor. Di antaranya adalah faktor genetik, perubahan hormonal yang memengaruhi emosi, hingga pengalaman traumatis, seperti pelecehan seksual, kekerasan emosional, atau kehilangan sosok yang sangat berarti.

Selain itu, ada pula faktor pemicu lainnya yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, seperti rendahnya rasa percaya diri, kesulitan belajar akibat gangguan seperti ADHD, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, menderita penyakit kronis, hingga adanya gangguan mental lain seperti bipolar, anoreksia, atau bulimia.

Dalam situasi seperti ini, peran aktif orang tua menjadi sangat penting. Salah satu langkah utama adalah dengan memahami serta mengenali tanda-tanda awal depresi pada anak remaja. Deteksi dini memungkinkan intervensi lebih cepat, sehingga dapat mencegah berkembangnya masalah yang lebih serius di masa mendatang.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi depresi yang sedang Anda alami di masa remaja.

1. Ketahui Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional
Perubahan gaya hidup sehat dan dukungan dari orang terdekat memang dapat memberikan dampak positif bagi remaja yang mengalami depresi. Meski begitu, dalam beberapa kondisi, hal tersebut belum cukup untuk mengatasi masalah secara menyeluruh. Jika gejala depresi yang dialami sudah cukup berat atau berlangsung dalam waktu lama, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater. Penanganan medis yang tepat, termasuk terapi psikologis atau pengobatan yang diawasi dokter, bisa membantu proses pemulihan secara signifikan. Hindari memberikan obat antidepresan tanpa resep atau arahan dari dokter.

2. Dorong Anak untuk Tetap Bersosialisasi dengan Lingkungan Sekitar
Remaja yang sedang mengalami depresi cenderung menarik diri dari pergaulan dan aktivitas yang dulunya mereka sukai. Menghindari interaksi sosial justru dapat memperburuk kondisi psikologisnya. Ajak anak untuk kembali berbaur dengan orang-orang terdekat melalui cara yang lembut dan tidak memaksa. Gunakan pendekatan persuasif agar mereka merasa didukung, bukan ditekan. Aktivitas sosial yang positif bisa membantu memperbaiki suasana hati dan memberikan rasa kebersamaan yang menenangkan.

3. Terapkan Gaya Hidup Sehat dalam Rutinitas Sehari-hari
Menjalani pola hidup sehat bisa memberikan pengaruh besar terhadap kondisi emosional remaja. Beberapa kebiasaan yang sangat membantu di antaranya adalah menjaga asupan gizi seimbang, berolahraga secara teratur, dan memastikan kualitas tidur yang baik. Hindari kebiasaan yang merusak, seperti merokok, konsumsi alkohol, atau penggunaan narkoba. Hal-hal tersebut justru bisa memperburuk kondisi depresi dan memperlambat proses penyembuhan. Membangun rutinitas sehat sejak dini akan memperkuat kesehatan fisik dan mental secara bersamaan.

4. Bicarakan Masalah Pribadi dengan Orang Dewasa yang Dipercaya
Memendam perasaan dan masalah secara diam-diam dapat membuat beban batin semakin berat. Cobalah untuk berbicara dengan orang dewasa yang dapat Anda percaya, seperti orang tua, guru, atau konselor sekolah. Mungkin akan terasa sulit untuk terbuka, apalagi ketika diliputi rasa malu, tidak percaya diri, atau cemas. Meski begitu, menyampaikan perasaan bukanlah bentuk kelemahan. Justru dengan membagikan perasaan yang sedang Anda alami, beban mental bisa perlahan berkurang dan Anda tidak merasa sendirian dalam menghadapi situasi ini.

5. Kelola Stres dan Kecemasan Anda
Banyak remaja mengalami stres dan kecemasan yang berjalan bersamaan dengan gejala depresi. Hal ini bisa dipicu oleh berbagai situasi, seperti tekanan akademik, sulit beradaptasi di lingkungan sosial, atau kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan. Jika tidak segera diatasi, tekanan emosional ini dapat memicu gangguan fisik dan memperparah depresi. Penting untuk mengenali sumber stres yang dialami dan mencoba mencari cara untuk menanganinya, misalnya dengan teknik relaksasi, manajemen waktu, atau berbagi cerita dengan orang yang memahami kondisi Anda.

6. Prioritaskan Kesehatan Fisik Anda
Tubuh yang sehat berperan besar dalam menjaga kestabilan emosi. Sayangnya, banyak remaja yang belum menyadari pentingnya menjaga kesehatan fisik secara konsisten. Kebiasaan buruk seperti tidur larut malam, terlalu lama bermain gadget, atau sering mengonsumsi makanan tidak sehat justru berdampak negatif bagi kesehatan mental. Ajak anak untuk rutin beraktivitas fisik, mengurangi waktu layar, serta memperbanyak konsumsi makanan bergizi. Kualitas tidur yang cukup juga penting untuk menjaga kondisi tubuh dan pikiran tetap bugar.

7. Jangan Terbiasa Mengurung Diri
Menghabiskan waktu terlalu lama di kamar tanpa berinteraksi dengan lingkungan sekitar bisa memperburuk kondisi mental. Walaupun bersosialisasi mungkin terasa berat, terutama ketika sedang tidak bersemangat, cobalah untuk tetap terhubung dengan dunia luar. Ikuti kegiatan positif seperti ekstrakurikuler, komunitas seni, klub olahraga, atau jadi relawan. Dengan begitu, Anda tidak hanya mendapatkan pengalaman baru, tetapi juga bisa menemukan semangat dan harapan baru.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore